1. Prolog

23 2 0
                                    

                       

"Hai, Dindaaaa...." sapaku kepada pemilik rumah ini.

Yang disapa pun menoleh dan berteriak kegirangan melihat kedatangan seorang tamu yang sudah ia tunggu sejak kemarin.
Dalam beberapa detik kita sudah saling berpeluk erat.

"Ih, Kinan! Congrats ya keterima di penerbit!"

"Iya, tapi maaf jadi ngerepotin numpang di rumah Din-"

"Udah, ssst...." mendengat perkataanku, dia langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku.

"Gak usah worry gitu, deh....santai aja kali."

Aku masih merasa tidak enak pada Dinda, walaupun dari jauh hari dia sudah mewanti-wanti kalau aku tidak perlu sungkan menumpang di rumahnya karena memang seperti itulah gunanya teman.

Tapi tentu saja sebagai teman juga aku harus membalas budi pada Dinda, berkat dia aku jadi bisa menghemat biaya tempat tinggal dan transportasi, berhubung rumahnya berjarak tak jauh dari kantor penerbit yang sebentar lagi akan menjadi tempat kerjaku.

Selanjutnya Dinda mengantarku ke sebuah kamar berukuran besar yang terletak di sebelah dapur.

"Nah, nanti lo disini kamarnya ya"

Sontak aku menganga kaget, kamar seluas itu adalah kamar yang nantinya akan kutempati. Aku langsung memeluk Dinda, karena sepertinya kata terima kasih sudah kalah dari kebaikan hatinya.

"Kinan, gak kerasa ya lo udah kerja aja, Inget gak waktu itu lo sering curhat ke gua gara-gara kekuatan aneh lo?" Tiba-tiba saja Dinda seperti ingin mengajakku bernostalgia masa-masa SMA. Ya, memang Dinda adalah salah satu teman yang mengetahui kekuatan aneh yang kumiliki.

"Haha ya iyalah, Din, kamu kan temen curhat terbaik, bego emang, udah 3 hari kenal aku baru tau kalo kamu korban bully pas SMP."

"Aneh ya, padahal selama 3 hari itu kita sering tos, salaman, tubrukan lah, kok lo ngeh nya telat gitu ya? Wkwkwk apa lo emang telmi?"

"Ahaha, sumpah aku juga gak tau, Din. Waktu Kekuatannya muncul random banget."

"Tadi juga pas perjalanan kesini, sering banget kontak fisik gak sengaja sama orang-orang, dan aku langsung bisa liat masa lalu mereka, Din."

"Ih, kekuatan super lo gaje ya"

"Super apaan? kan pusing jadinya."

"Oh iya, Din, bukannya lo pernah bilang kalo ketemu jodoh yang pas kekuatannya bakalan hilang? apa harus gua bantuin cari pacar buat lo kali ya?" Ujarnya sambil memasang wajah menggoda.

"Eh, ngaco! Aku kesini mau kerja bukan cari jodoh Dindaaa....."
Walaupun yang dia bilang ada benarnya juga tapi tetap saja aku tidak mau melenceng dari tujuan awal kesini untuk bekerja.

Perbincangan hangat di ruang tamu berjalan sangat lancar, sampai aku lupa kalau aku belum menyiapkan keperluanku. Ugh sial, aku benar-benar lupa sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Tak lama aku segera masuk ke kamar lalu membereskan adn menyimpan barang-barangku sebaik mungkin. Setelah sejam lamanya, akhirnya persiapanku untuk besok sudah siap, dan akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.

Tubuhku langsung memeluk empuknya kasur, sesudah menarik selimut, aku mencoba menutup mata. Melupakan sisa kenangan masa lalu orang-orang yang bersentuhan denganku di bus tadi.

Tentang nenek yang duduk di sebelahku, ternyata pernah ditinggal anak-anaknya kuliah di luar negeri atau tentang seorang bapak yang pernah mengalami kecelakaan motor yang merenggut nyawa istrinya, dan banyak lagi masa lalu orang yang terlintas di kepalaku.
Ditambah lagi perasaan gugup memikirkan bagaimana hari besok saat pertama kerja. Namun semua itu harus kulupakan, itu mengganggu. Kadang aku pun mengutuk kekuatan aneh ini, karenanya aku sering mengalami sulit tidur.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mata ini bisa diajak kerjasama dengan otak yang ingin tidur. Aku pun tidur dengan lelap.



Don't Touch Me!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang