"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya"
☁ ~ ☀ ~ ☁
Abu :
"Dimana keluarga saya pak" tanyaku kepada petugas kepolisian yang sedang mengevakuasi korban.
"Maaf dek banyak keluarga yang kehilanggan anggota mereka, dan sekarang kami sedang mendata sebagian korban, sisanya belum diketahui." jelas petugas tersebut.
Tangisku mulai meledak,air bening jatuh perlahan membasahi pipiku. Pikiran kacau melintas selalu. Membuatku kian panik karena itu.
'Ya Allah jangan biarkan sesuatu yang buruk menimpa keluargaku'
Dengan langkah kaki yang lemas, aku berjalan. Memandang sekitar yang sudah tak karuan. Mataku tak henti hentinya mencari.
Hingga aku tiba pada suatu jalan yang sudah tak asing lagi bagiku. Jalanan ini mengarah pada sebuah tempat, yang sangat berharga. Tempatku melepaskan lelah juga letih.
Tetapi... Kini bangunan itu sudah tak bisa berdiri. Hancur dimakan oleh ganasnya banjir. Fondasinya sudah tak terlihat lagi, dindingnya jatuh menyisakan kepingan kepingan kecil. Atap yang biasanya aku pandang pada malam hari. Sekarang hanya terlihat rusak tak bisa diperbaiki. Seakan akan bangunan itu sudah tak layak lagi untuk dihuni.
Kutelusuri setiap sudut, berharap ada sesuatu yang dapat aku temukan. Satu persatu ruangan aku jelajahi. Dari mulai kamar tidurku, ruang tamu, dapur, hingga kamar mandi. Tetapi semuanya berserakan tak sedikitpun terlihat rapi.
Hingga putus asa mulai melanda. "Kenapa Ya Allah? Disaat aku sudah benar benar ikhlas atas ketetapanmu menghadirkanku didalam keluarga bahagia ini. Disaat aku berhak mendapatkan kasih sayang orang yang kusayangi juga menjalani takdirmu dengan baik. Walaupun aku tau, mungkin kehadiranku belum bisa diterima sebagian keluaga ini, juga mungkin keluh kesahku belum bisa dirasakan oleh sebagian anggota keluarga. Dan disaat rasa sakit yang dulu sudah perlahan lahan memudar. Engkau memberikan rasa sakit yang amat dalam ini. Disaat aku sudah siap atas ucapan yang terlontar dari orang yang mungkin mengores hatiku sedikit demi sedikit. Tidak mengapa, Inshaa Allah hamba sudah siap."
Aku menangisi setiap detik yang mungkin takkan bisa hilang dalan ingatan, canda tawa saat bercengkrama dengan bunda, pelajaran yang aku dapat dari omongan ayah, juga perkataan demi perkataan terucap oleh nenek. Menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan.
🌇 ~ 🍂 ~ 🌇
Hari mulai sore,,,,,
Tetapi belum ada sesuatu yang dapat membantuku untuk mencari keberadaaan anggota keluarga.
"Permisi, apakah kakak menemukan sebuah surat berwarna merah muda terjatuh disekitar sini?" tiba tiba ada anak kecil menghampiriku dan menanyakan hal itu.
"Maaf dek, kakak tidak melihatnya."
Jawabku kepada adek kecil ini kira kira kira dia berumur 9 tahun.
"Oh, surat itu sangat berharga untuk saya. Karena surat itulah peninggalan keluarga kami satu satunya dari ibu, harta kami banyak yang sudah hilang disapu banjir. Ibu meninggal saat bencana ini terjadi, sebelum banjir menenggelamkan wilayah ini aku dan ayah pergi keluar untuk memilih sekolah dasar yang akan aku tepati. Karena ayah mendapatkan perpindahan tugas diluar kota. Jadi, kami berencana akan pindah untuk memulai kehidupan baru sesudah kami mendapatkan tempat tinggal disana."
"Ibu memberikannya padaku kira kira 1 minggu yang lalu. Setelah menerima surat tersebut namaku langsung dipanggil ayah. Jadi aku taruh surat tersebut didalam laci kecil kamarku. Sampai sekarang aku belum tau apa yang ingin ibu sampaikan untukku, tetapi pada saat ibu memberikannya raut wajah beliau terlihat sangat serius. Dan aku ingin membaca isi surat tersebut."
penjelasan adek ini sangatlah menyetuh hatiku, disaat umurnya masih belia dari pada denganku,dan usianya sangatlah muda. Juga masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu untuk merangkulnya disaat dia susah. Allah menghendaki yang lain, dan memanggil ibunya. Ibu tersebut tidak hanya meninggalkan seorang anak manis, tetapi seseorang yang gagah menjaga keluarga yaitu ayah anak kecil ini. Betapa sedihnya harus merelakan kepergian sosok ibu yang mungkin jasadnya masih belum ditemukan. Bagaimana merelakannya disaat adek ini berencana hidup lebih bahagia ditempat yang akan dia warnai dengan setiap hari penuh arti.
"Maafkan kakak dek tidak bisa membatumu. Kakak juga kehilangan anggota keluarga kakak, karena musibah yang menimpa kita semua." jawabku dengan mengusap air mata anak kecil tersebut.
"Tidak masalah kak, aku tau bahwa semua ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk semua ciptaan-Nya"
Sungguh luar biasa, diusianya yang sangat belia adek ini paham betul tentang ilmu agama juga beriman kepada Allah.
"Ya sudah kak terima kasih,semoga kakak dipertemukan dengan keluarga kakak." ujar adek itu melambaikan tangannya kepadaku.
Setelah mendengarkan cerita adek itu,aku seharusnya lebih bersyukur. Banyak diluar sana orang yang seperti diriku bahkan lebih sabar menghadapinya.
Ngomong ngomong tentang sebuah peninggalan,aku baru ingat. Aku pernah tak sengaja melihat ibu menangis tersedu sedu menatap sebuah buku. Aku memang tak tau apa yang sedang ibu baca, tetapi saat itu beliau terlihat sangat sedih menatap setiap huruf demi huruf,baris demi baris, juga kata demi kata yang tertuang dalam sebuah tulisan didalam buku tersebut. Sebenarnya aku ingin membawa ibu kedalam pelukan dalamku. Tetapi aku tidak tega melihat dengan dekat beliau bersedih sedalam itu, sehingga aku lebih memilih memperhatikan beliau dari balik pintu.
Setelah beberapa saat, ibu mengusap air mata juga menaruh buku tersebut diatas lemari miliknya. Dan merubah wajah yang semula sangat kecewa berubah menjadi sesosok malaikat dengan senyum bercahaya terpancar.
Segera aku bergegas menuju rumahku kembali untuk memeriksa apakah buku tersebut masih ada?. Memang aku tadi tidak memeriksa kamar ibu karena aku terlalu putus asa juga sangat kecewa.
Setelah sampai aku langsung kekamar ibu. Benar buku itu masih utuh tetapi sampulnya sedikit usang dan aku buka perlahan, melihat setiap halaman demi halaman. Hingga aku menemukan ada sebuah gambar. Fotoku waktu bayi dan saat itu aku digendongg oleh seseorang, tetapi aku tidak tau siapa dia?. Siapa dia sebenarnya, mengapa disaat ibu membuka buku ini beliau selalu meneteskan air mata? Apakah dia dapat membantuku menemukan keluargaku?.
_________________
Assalamualaikum, maaf capter ini update nya lama. Terima kasih banyak sudah menunggu. Jangan lupa untu baca, vote juga commet ya.
Syukron
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat cinta berbalut doa
SpiritualAku tahu tindakan ini salah, tetapi cinta yang ku miliki tidak berhak untuk disalahkan, karena cinta adalah anugerah yang Allah berikan. Tapi apakah aku bisa membagi cintaku dengan seseorang yang tidak pernah ku harapkan tetapi nyatanya adalah penda...
