Awan Mendung *3

2.6K 48 3
                                    

Kumantapkan hatiku demi bisa berjumpa dg ibuku, akhirnya aku lanjutkan perjalananku untuk pulang, sesampainya di rumah bibiku ku kulihat seorang perempuan paruh baya dg banyak luka di sekujur tubuhnya menatapku dengan mata yang berkaca kaca seketika tak sanggup lagi ku bendung kesedihanku, setelah bertahun2 tak pernah bertemu akhirnya hari itu kita di pertemukan kembali ku lihat bekas luka karena tersiram air panas di sekujur tubuhnya dan juga beberapa luka akibat pukulan benda tumpul masih terlihat jelas di wajah beliau,tak tega aku melihatnya meskipun selama ini beliau pergi jauh dariku tp beliau tetap ibuku, kupeluk beliau dan menangislah aku di pelukannya, sore itu beliau bercerita banyak selama di sana, kenapa sudah jarang memberi kabar? kenapa sudah gak pernah mengirimi uang dan kenapa tak pernah cerita di sana selama ini beliau di siksa. rasa benciku yg dari dulu ada kini sirna yang ada hanya rasa kasihan dan penyesalan sebagai anak laki2 aku gak bisa menjaga dan melindungi ibuku sendiri. tak terasa malampun tiba kuantar beliau ke kamar untuk beristirhat kutunggu beliau sampai terlelap, setelahnya akupun ikut istirhat di kursi panjang di ruang tamu dan keesokan harinya baru teringat belum memberi kabar abang adam kalau sudah sampai di rumah, kuambil hpku dr dalam tasku ketika ku buka ternyata ada 25 panggilan tak terjawab, dan puluhan pesan yg belum terbaca semuanya dr abang adam, yg isi pesannya setelah kubaca awalnya sih khawatir dan terus bertanya bagaimana kabar disana namun semakin lama berubah menjadi tuduhan2 yang tak masuk akal hingga bilang "ouh sudahlah, selamat berbahagia disana" kucoba telfon balik namun ternyata nomornya tidak aktif. aku ingin menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi apalah daya beliau tak bisa di hubungi. sampai siang aku terus mencoba menghubungi beliau dan akhirnya bisa nyambung belum juga aku berkata sepatah kata beliau sudah marah2 dan menuduhku yang bukan2, kujelaskan pelan2 sampai akhirnya beliau mau mendengarkanku dan mencoba mengerti posisiku namun beliau menyuruhku untuk segera kembali ke rumahnya. dengan berat hati sore harinya aku berpamitan kepada ibuku dg alasan untuk kembali bekerja karena ijin yang di berikan dari bosku hanya sehari dan kalau ada waktu luang atau libur akan sering2 pulang untuk menengok beliau.. kulihat tatapan beliau sangat berat melepas kepergianku sore itu dan masih berusaha mencegah kepergianku, setelah kujelaskan akhirnya beliau mau mengerti dan mengijinkanku untuk pergi akupun berangkat sepanjang perjalanan jujur aku masih kangen dg ibuku namun aku juga khawatir dg abang adam. sesampainya di stasiun kota abang adam tinggal aku di jemput olehnya.. di dalam mobil beliau tak bicara banyak dan akupun terus bertanya2 dalam hatiku "apakah beliau masih marah? aku harus bagaimana?" kucoba mengajaknya ngobrol namun beliau menjawab sekenanya saja... "iya, ouh, ehmm.. baguslah, jadi gitu, dll." sesampainya di rumah sikap beliau masih sama, setelah memarkirkan mobil langsung masuk kamar dan tak bicara apa2. aku segera beres2 dan mandi, setelah mandi ku telfon ibuku dan mengabarkan kalau sudah sampai dg selamat, baru juga selesai bicara dg ibuku dan menutup telfonku pintu kamarku di buka oleh abang adam dan hpku di rebut olehnya..
® ada apa bang?
© hpmu siniin..
® buat apa?
© udah siniin (dg nada marah)
ku berikan hpku dan di bukalah satu persatu pesanku. tak tau apa yg beliau cari tak lama hpku di banting ke tembok sampai pecah jd beberapa bagian aku hanya bisa diam saja melihatnya.. beliau menatapku dg wajah penuh emosi, tanganku di tariknya.  " eh bang, sakit.. mau apa"
beliau manarikku ke kamarnya, sesampainya di kamar, beliau membuka bajuku dan mengikat tanganku lalu menjatuhkan tubuhku di tempat tidurnya, mataku ditutup dan mulutku di sumpalnya dg kain, terakhir celanaku di lepas hingga aku telanjang bulat seperti korban penculikan, tak bisa melihat, tak bisa teriak dan tak bisa berontak. kudengar suara cambuk dan sekujur badanku jadi pelampiasan cambukanya tak seperti biasanya beliau mencambuki badanku karena biasanya aku masih bisa menikmatinya yang sekarang kasar dan terkesan ingin menyiksaku, terus dan terus beliau mencambuk sekujur badanku sampai kurasakan benar2 perih di sekujur badanku, akupun tak tahan lagi aku berusaha berontak kubuka ikatan di tanganku,tak lupa kubuka juga tali yg menutupi mataku dan kubuang sumpalan di mulutku .. kuhalau cambukan dr beliau "stop bang, stop!" berusaha kurebut cambuknya dan ku lempar ke ujung tempat tidur,..
® sakit bang..
© "beliau hanya diam saja"
® kalau ada masalah bilang bang, kalau aku ada salah aku minta maaf tp pliss stop, jangan siksa aku lagi.
© "perlahan beliau duduk di lantai tepat depanku dan kulihat beliau meneteskan airmata"
® "ku hela nafas, dan berusaha menariknya supaya berdiri dan duduk di tempat tidur"
namun beliau tiba2 memelukku dan menangis sejadi2nya di pelukanku,cukup lama beliau menangis setelah kurasa beliau sudah mulai tenang, ku coba bertanya lagi..
® ada masalah apa bang?
© aku takut kehilanganmu, aku gk mau kamu pergi2 lagi
® aku pergi untuk bertemu ibuku bang,sekarang aku sudah kembali lagi sesuai janjiku, apa lagi yang di permasalahkan?
© pokoknya kamu jangan pergi2 lagi, aku sayang sama kamu..
® iya bang...
dan kurebahkan tubuh beliau di tempat tidur, kamipun tidur bersama malam itu, semalaman beliau memelukku dan aku gak bisa tidur malam itu selain menahan perih di sekujur tubuhku aku juga kepikiran dg kondisi ibuku...
keesokan harinya seperti biasa kupersiapkan semua kebutuhan beliau.. dan kuantar beliau sampai gerbang sebelum berangkat dinas.. hari2 berikutnya berjalan seperti biasa hingga sepekan berlalu dan weekend pun tiba inginku pulang menengok ibuku namun aku takut abang adam akan marah lagi, akhirnya minggu itu aku gak pulang kupendam rasa rinduku pada ibuku, sampai tak terasa sebulan berlalu sikap abang adam semakin menjadi jadi siapapun orang yg bicara dg ku pasti beliau curigai.. bahkan pengantar koran pun beliau usir gara2 setiap pagi pasti ngobrol dlu dg ku, hanya sekedar sapaan apakah salah? cemburu beliau terlalu berlebihan, setiap malam ku menangis kuratapi nasibku yang seperti di penjara tak boleh kemana2 kecuali perginya dg beliau, aku sempat mikir bodohnya diriku selama ini, selain jadi pembantunya aku juga budak sex bagi dia.. hingga suatu ketika kuberanikan diri untuk berterus terang kepada beliau kalau aku gak nyaman dg semua aturan beliau aku ingin pulang saja, namun balasan dr beliau justru semakin mengekangku, kunci rumah setiap beliau berangkat dinas pasti di bawa dan aku tak bisa kemana mana, kenapa gk kabur saja? di dalam hatiku ada rasa sayang terhadap beliau, aku juga belum bisa membalas budi atas kebaikanya dulu saat masih awal2 kenal dgku, ku bertahan sampai 3 bulan tanpa hubungan dg orang luar dan pada akhirnya aku benar2 muak dg sikap beliau yg sedikit dikit marah, kadang ceria, kadang manja, kadang ngamuk2 gak jelas... takut! iya aku takut dg sikap beliau saat itu yg sering berubah ubah, akhirnya setelah cukup lama berfikir kalau aku terus seperti ini hidupku hanya akan sia sia saja, pagi itu aku beranikan diri untuk kabur dr rumah beliau tanpa uang saku (karena semenjak kembali aku blum pernah sekalipun di beri uang olehnya, hanya di cukupi kebutuhanku saja), tanpa hp (karena setelah di banting, beliau tak membolehkanku megang hp sendiri), hanya kartu tanda pengenalku dan beberapa potong pakaian yang kubawa dg kantong plastik karena tas dan barangku yang lain di kunci di lemari kamarnya, aku keluar lewat jendela dan melompati pagar rumahnya, ku berjalan saja ke arah kotaku tujuanku dalam hatiku sempat ingin kembali karena nanti ketika beliau pulang pasti akan marah besar namun setiap ingat perlakuanya dan sifat2 buruknya kebencianku akan beliau semakin besar dan tekadku untuk pergipun semakin bulat.. ku terus menyusuri jalanan mencari tumpangan dr mobil pick up sampai mobil truck... hingga tibalah aku di batas kota dan masih ada tiga kota lagi sebelum sampai di kotaku.. namun hari sudah mulai malam,karena jalanan sudah mulai sepi dan kendaraanpun sudah jarang yg lewat aku berhenti dan beristirahat di pom bensin, dg sangat terpaksa karena lapar ku minum air kran banyak2 untuk mengisi perutku, dan ku tidur beralaskan kardus bekas di pojokan dekat mushola pom bensin tsb. semalaman aku gak bisa tidur dengan nyenyak sering terbangun tiba2 karena banyak nyamuk dan rasa dingin yg sampai terasa masuk ke tulang. pagi harinya sekitar jam 3 pagi aku bersiap2 melanjutkan perjalananku, kulihat di tong sampah banyak botol bekas air mineral aku ambil dan mengisinya dg air kran supaya bisa kubawa sebagai bekal, kulanjutkan perjalananku pagi itu kususuri jalanan sampai mentari mulai terasa panas dan membuatku tak tahan lagi, aku putuskan untuk beristirhat sebentar di depan sebuah ruko yg tutup entah kenapa kepalaku mulai pusing dan kujatuhkan saja badanku kelantai, tak ingat lagi aku apa yg terjadi setelahnya.. ketika ku sadar aku sudah di kerumuni banyak orang, yg kudengar mereka bilang kalau aku sudah meninggal kok bangun lagi, tak lama salah seorang dr mereka yg berseragam polisi menghampiri dan bertanya kepadaku
© dek, kamu orang mana?
® "ketika kuingin menjawab pertanyaan itu, suaraku tak begitu jelas, dan kurasakan serak di tenggorokanku" dan kembali beliau bertanya..
© dek, kamu dari mana? mau kemana?
® "karena tak bisa bicara dg jelas, aku ambil kartu tanda pengenalku dr kantong plastik yg kubawa"
© ouh, kamu bukan asli orang sini,
tak lama seorang ibu2 membawakanku makanan dan minuman, segera kumakan dg lahapnya karena dr kemarin belum makan.. setelah selesai barulah, polisi itu bertanya kembali..
© kamu mau kemana dek?
® aku ingin pulang pak.
© kok bisa sampai pingsan di sini. kamu dr mana?
® aku ingin pulang pak, karena gak punya uang aku jalan kaki dr kota sebrang td siang sampai sini karena capek aku berniat istirhat bentar pas sadar sudah rame..
© ouh gitu, soale di lihat dr pakaianmu kamu kelihatanya bukan  gelandangan dan ibu yg punya ruko ini panik bilangnya ada orang meninggal..
® maaf buk..
∆ kaget aku dek, tak kira meninggal. soalny di bangunin ndak bangun2 dari tadi..
® iya maaf buk ,sudah bikin panik..
© sudah2, sekarang kamu udah sehat?
® sudah pak..
© bangun, ayo tak anterin nyari bis yg searah kotamu. jangan jalan kaki lagi..
® iya pak maaf mereptokan..
aku pun berterima kasih kepada ibu yang punya ruko dan meminta maaf karena sudah membuat semua orang khawatir. akupun di antar ke lampu merah dimana biasanya banyak bis berhenti tak lama bis tujuan kotakupun datang dan aku di suruh naik saja sudah di bayarin oleh polisi tsb, sepanjang perjalanan aku bersyukur masih ada orang baik yg mau menolongku. setibanya di kotaku aku berjalan lumayan jauh karena rumah bibiku jaraknya jauh dr terminal induk, sesampainya di rumah aku di sambut dg tangisan dr ibuku, yg segera memelukku..
© kamu kemana saja, gak ada kabar?
® maaf bu "aku hanya bisa mengulang kata maaf saja sambil menangis di pelukanya"
© pakaianmu kok kyak gtu, trus tasmu kemana?
® kemarin pas mau pulang kerampokan buk di jalan "dg sangat terpaksa aku berbohong, aku gak mungkin cerita semuanya ke ibuku.."
akupun di ajak masuk kerumah dan karena kebohonganku tentang kerampokan aku di tanyai banyak hal yg justru membuatku semakin banyak berbohong kepada ibuku sampai pusing aku menjawabnya..
semenjak kepergianku dr rumah abang adam aku gak pernah lagi bertemu dg beliau, tak pernah lagi berhubungan lewat hp, sempat mencari akun sosial medianya namun ternyata sudah tidak bisa di temukan mungkin ganti apa gimana aku juga gak tau dan tak mau lagi mencari tau, namun imbas dari kejadian tsb aku justru tertarik dg sesama jenis bahkan sampai sekarang meskipun aku sudah menikah dan di karuniai dua anak rasa ketertarikan itu belum juga hilang, malah semakin hari semakin menjadi jadi..

selesai.

Awan MendungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang