chapter 4

154 21 29
                                    

"Sialann menyebalkan sekali kalian ahhhhh ck dasar menjijikkan para penjilat bajingan kenapa  tak sekalian jilati sepatuku " Ucap Jimin sambil meludahkan ludahnnya tangannya berkacak pinggang wajahnnya mengeras tatkala melihat ada seorang pria yang hendak mendekati Yoongi, dalam kedipan mata pria tersebut terlempar layaknnya ada pelindung di sekitar Yoongi.

"Apa yang kalian tunggu bunuh bajingan itu" Ucap paman Yoongi dan yang bisa Yoongi dengar hanya teriakkan pilu dan suara tembakkan, teriakkan mintak ampun lalu gelap Yoongi sudah tidak kuasa menahan sakitnnya dan memilih memejamkan matannya.












L  U  B  I










Yoongi terbangun karena merasakan nyeri di pergelangan kakinnya, juga kepalannya yang terasa pening, dan pemandangan pertama yang ia tangkap adalah sosok dengan wajah tampan, dan mata abu-abunnya yang tajam yang semalam telah menolongnnya.


Tunggu..



'Bagaimana dengan paman ?? apa aku sudah mati ?? lalu dimana aku ?? siapa dia dengan sok tampannya duduk seperti itu tapi memang tampan sihhh'


Itu pertanyaan Yoongi yang ada dalam kepalanya.


"Pamanmu sudah mati, kau masih hidup buktinnya kau merasakan sakit di kaki mu, dan dimana kau, kau masih di rumahmu, Dan yaaaa aku tau aku memang tampan" Jawab Jimin seolah bisa membaca pikiran Yoongi dengan menjawab pertanyaan konyol Yoongi.



Tungguu




Apa dia bisa membaca pikiran ??  kenapa dia bisaaa ??


"Yaaaa "



"Wae ?? mwo ?? " Jawab Jimin tangan kanan nnya mengambil sebatang rokok lalu menyelipkannya di sela bibirnnya dengan gentle tak lupa menyalakannya.



Semua itu masih di perhatikkan oleh mata Yoongi betapa elegann dan berwibawa sosok yang tengah duduk di hadapannya saat ini.




"Siapa kau ?? dan tolong jangan merokok di depanku, aku tak suka bau rokok" Ucap Yoongi tak suka ketika Jimin menghembuskan asap rokok ke wajahnnya.


"Aku orang yang menolongmu semalam, dan rokok, (menatap rokoknnya) kau akan terbiasa nantinnya" Ucap Jimin acuh kembali menghisap batang nikotin  tanpa mengalihkan tatapannya pada sosok yang masih bersandar di kepala ranjang.



"Apa maksudmu pamanku sudah mati?? kau membunuhnnya??"  Tanya Yoongi memastikkan kalau pendengarannya tidak salah.


"Ya kau tidak salah mendengar aku memang mebunuhnnya dan tujuan ku hidup adalah melindungimu kau paham??"


Yoongi menatap tak percaya pada sosok yang tengah berjalan ke arahnnya, semudah itukah dia melenyapkan nyawa seseorang hell ini sudah modern dan hukum berlaku bagaimana karir nantinnya bisa-bisa dia di sebut komplotan dan berakhir di balik jeruji besi nooo, tapi tunggu kenapa dengan buku tangannya kenapa terluka belum bibir dan pipinnya tampak membiru apakah akibat semalam??.


"Kau bukan kaki tanganku oke Dan jangan memikirkan hal konyol lagi". Ucap sosok itu lagi lalu tangannya terulur menyentuh pergelangan kaki Yoongi.


"Aaarhg sakit jangan di tekan bodoh" Umpat Yoongi sambil melayangkan kaki kirinnya untuk menendang.


Dengan wajah yang marah sosok itu menyibak selimut yang di pakai Yoongi dan betapa bencinnya dirinnya ketika melihat luka lebam di kaki putih nan kecil Yoongi lalu tangannya mengarah pada pakaian yang di pakai Yoongi menyibaknnya ke atas sama banyak terdapat memar di sana-sini kesal, marah, jengkel semuannya menjadi satu merasa gagal melindungi tuannya.

LUBITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang