Setelah larut dalam pikiran yang tak kunjung selesai Jeffri tertidur dengan nyenyak dan terbangun karena ada ketukan dari luar pintu.
"WOI JEFFRI KEBO BANGUN LU, TIDUR MULU." Teriak seseorang dari luar kamar.
Jeffri mengusap wajahnya dengan gusar "apaan sih, ganggu aja."
Jeffri melangkah dan menuju pintu lalu meraih gagang pintunya dan secara tiba tiba
*blakk* "sakit bangsit, buka pintu baik-baik aja gausah pake nimpuk segala."
"mau masuk kaga lu, kalo engga gue tutup lagi."
"yam au lah, gabut gue dirumah mulu."
Jeffri dan Roy jika berada dikamar Jeffri hanya 2hal yang akan dilakukan mereka kalau engga tidur ya main PS sampe pagi menjemput mereka.
*tuit*tuit*tuit*
"alarmlu brisik banget deh Jeff, matiin gih."
"njeng, udah jam stengah 7 nyuk, telat kita. Gih gece cuci muka ajalah gaperlu mandi."
Setelah mereka berdua selesai tidak perlu waktu lama mereka akhirnya sampai sekolah sebelum gerbang depan tertutup. Jeffri dan Roy berjalan dengan santai melewati lorong yang berisikan adek kelas, mereka berdua mengeluarkan tampang khas mereka yang membuat cewek-cewek disekolah itu terpukau dan membuat para pria disekolah ini iri dengan mereka berdua.
Sesampainya dikelas mereka langsung menuju tempat duduk yang sudah menjadi tempat favorite mereka dan tidak ada satu orang pun yang berani mengusik ketentraman mereka. Karena bel masih 5menit lagi mereka memutuskan untuk bercakap-cakap ringan.
"btw nih Jef, untung banget hari ini ga ada pelajaran olahraga, kalau ada bisa-bisa sekelas mati bau kita dah."
"bau lu aja sih, gue mah mandi ya tadi jam 4." Teriak Jef sambil menjauh dari Roy.
"kunyu lu dasar penipu dasar, mati aje dah lu." Teriak Roy dengan nada kesal.
"PENGUMUMAN PENGUMUMAN HARI INI JANGAN DEKET-DEKET SAMA ROY YA GUYS DIA GA MANDI NIH BUAT KESEKOLAH HARI INI. ATI-ATI AJA KELAS KITA HARI INI BAKALAN BAU." Teriak Jef ditengah kelas dan didengarkan oleh siswa-siswi yang lain.
"ew jorok banget deh si Roy." Teriak salah satu siswi dikelas ini.
"bangcat lu jef"
Selama pelajaran berlangsung Jeffri terus-terusan menggoda Roy hingga muka dia terlihat merah menahan amarah yang sudah sampai ubun-ubun.
*kringg*kringg* bel istirahat berbunyi.
"eh nyuk, kok main tinggal sih, masih ngambek aja nih si bebeb." Ucap Jef dengan menggelikan.
"bomat." Saat menjawab pertanyaan Jeff tiba-tiba itu manusia menghilang
"anjeng ditinggal."
Ketika Jeff meninggalkan Roy dia melihat sesosok yang dari kemaren mengganggu pikiran dia, dan tepat sekali dia lagi sendirian dimeja paling ujung kantin.
"hi ciwi." Sapa Jeffri tanpa menggunakan tampang cool ciri khas dia.
"sokap lu?" jawab si cewek dengan judes
Dengan sedikit mematung Jeffri tak menyangka jika ada seorang cewek yang engga terpesona sama sekali dengan Jeffri, malahan menunjukkan sikap yang tak bersahabat sama sekali.
"jangan judes-judes deh, kmaren aja minta tanda tangan sekarang sok cuek. Btw gue Jeffri panggil aja Jeff." Sambil mengulurkan tangannya.
"iya gue udah tau siapa lo."
"karena lo udah tau nama gue, gue juga mau tau nama lo lah, ga adil itu namanya."
" hm, gue ...."
Tiba tiba saat ingin menyebutkan namanya *kring*kring*kring*
"eh udah bel, gue duluan ya, habis ini guru killer jadinya gue takut kalau kena omel gara-gara telat dan telatnya cuman karena ngobrol sama elo, kan ga masuk banget." Setelah itu sicewek pergi meninggalkan Jeff dikantin seorang diri.
Jeffri semakin penasaran dengan cewek misterius ini, setiap kali dia melakukan sesi perkenalan selalu aja ada yang halangin, dan gue sama sekali belom tau tentang dia bahkan yang paling simple yaitu nama sampe sekarang aja gue ga ngerti siapa nama dia. Nama aja sulit gue dapetin gimana gue mau dapetin hatinya. Duh jadi nglantur gini dah pikiran gue.
Ini saat yang ditunggu-tunggu para siswa dimana ini menjadi hari terakhir dalam minggu ini sekolah, karena hari ini hari Jumat dan bel pertanda untuk pulang sekolah sudah berbunyi.
"hem hem, perasaan yang lagi dalam mode ngambek gue deh kenapa sekarang malah lo yang kicep gini? Lo pasti kangen gue ajak ngobrol kan? Jujur aja deh."
"bacot, dah ah mau balek, lo balek jangan kelayapan pulang langsung mandi."
"gue kan balek kerumah u." ucap Roy dengan cengengessan.
Sesampainya dirumah Roy langsung bergegas untuk masuk kamar mandi karen sudah merasa risi dengan badannya yang lengket karena sudah dipakai untuk beraktifitas selama seharian. Sedangkan Jeff dia langsung menuju kasur dan membaringkan badannya dan mengistirahatkan pikiran yang sedang lelah karena memikirkan si cewek.
"lo diem aja dari tadi kenapa? Sawan lo?"
"ga ada apa-apa, brisik lo, udah sana balek lo ganggu orang aja sukanya."
"kalo weekend gini kadang gue bingung sendiri mau ngapain, mau nongkrong mager trus kalo mau jalan cewek aja gapunya." Cerita Roy
"makanya cari cewek nyuk."
"lo ya, ngaca dulu lo juga ga ada doi ye."
Jeffri tidak menjawab apa yang diucapkan Roy karena pembahasan ini dia jadi teringat dengan gadis yang cuek nan jutek yang sampai saat ini masih membenci Jeffri.
"gue mau cabut dulu."
"oke sob, tiati."
*brum*brum* suara motor Jeffri membelah jalanan ibukota yang sedang dalam keadaan ramai dan tibalah Jeffri di suatu tempat, dimana itu menjadi tempat ternyaman untuk dia menenangkan pikiran. Rooftop yang berada digedung tinggi milik perusahaan di ibu kota ini. Rooftop bagi Jeffri memiliki kenyamanan tersendiri yang sulit untuk dilepaskan. Disini semua akan terasa ringan tanpa beban. Apalagi ditambah dengan suara-suara kendaraan yang berlalulalang ditambah pemandangan ibu kota di malam hari.
Jeffri mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan pemandangan yang indah ini dan tak lupa juga sejenak dia memandang foto gadis yang sedang menjadi icarannya disekolahan.
"lo manis, tapi sayang sulit buat digapai." Gumam Jeffri.
Jeffri larut dalam kenyamanan di rooftop ini hingga tak sadar waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam.
Jeffri memutuskan untuk pulang kerumah namun saat diperjalanan Jeffri melihat sosok gadis yang berjalan sendirian ditemani dengan air mata dan sepertinya Jeffri mengenali sosok gadis ini. Gadis yang selalu menghampiri pikiran Jeffri. Jeffri mengikuti gadis ini dari belakang karena dia tak ingin gadisnya terluka meskipun belum mengenalnya Jeffri merasa dia harus menjaga gadis ini.
Dan setelah merasa cukup jauh perjalanan Jeffri memutuskan untuk menyapa gadisnya ini "hei, ngapain malem-malem keluar sendirian?" sambil menghentikan laju motornya.
Gadis dihadapannya inihanya menangis sesunnggukan dan tak berhenti-henti. Hingga Jeffri kelimpunganharus berbuat apa. Akhirnya Jeffri memutuskan untuk turun dari motor danmemeluk gadis ini.

YOU ARE READING
JEFFRILLONA
Teen FictionSemua harus berakhir setelah apa yang kita lalui. Apa dengan kata berakhir dan jalan dengan sendirinya apa kita masih bisa merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang selama ini telah kita lalui? -Jeffri Dermaige #RANK 3 kisah remaja (9/9/19) #rank...