Celoteh Penulis | 4

6.2K 295 37
                                        

Akhirnya sampai juga kita di penghujung cerita.

Sebagai penulis bau kencur, mimpi saya cuma satu: menyentuh hati para pembaca. Makanya saya selalu mencoba menulis cerita yang se-realistis dan se-membumi mungkin. Yang alur kisahnya sebenarnya bisa kita temukan sehari-hari, baik kita alami sendiri atau kita dengar dari orang lain. Semoga dalam 'Transit', mimpi saya bisa terwujud walaupun baru sedikit.

Kalau boleh jujur, saya nggak pernah mengalami kisah seperti Aldo dan Dania. Walaupun ada beberapa bagian yang terinspirasi dari kehidupan pribadi, tapi cerita percintaan saya nggak sekompleks itu.

Terpujilah kalian semua yang bisa tetap tegap berdiri dalam menghadapi pilihan antara cinta dan agama, baik yang akhirnya menjalani keduanya bersamaan atau yang akhirnya harus memilih salah satu. Nggak ada yang benar atau salah dalam mencintai. 'Love' is a verb, we just do.

Saya juga mau mengucapkan terima kasih banyak bagi semua orang yang membaca 'Transit', yang bertahan di tengah kelabilan saya dalam menulis dan melanjutkan cerita, sampai vakum berbulan-bulan sebelum akhirnya menemukan kembali keinginan untuk menamatkan. Terima kasih karena sudah mau ikut menikmati perjalanan ini bersama saya, Aldo, dan Dania. Terima kasih karena sudah mau ikhlas ikut terombang-ambing hatinya bersama kami bertiga.

Sebagai sebuah karya, 'Transit' belum sempurna. Banyak kekurangan di sana-sini yang hanya menunjukkan my lack of skill as a writer. Semoga di karya-karya selanjutnya, kekurangan itu bisa hilang dan tergantikan dengan tulisan-tulisan yang semakin menyentuh.

Akhir kata, let me quote something from someone that is very dear to my heart,

"Namanya juga hidup ya pasti diselimuti masalah. Kalau cuma mau diselimuti wijen mending jadi onde-onde."
-Bude Sumiyati-

Salam baper dari pelosok Tangerang Selatan! Sampai jumpa di tulisan-tulisan berikutnya. Ciao!


xoxo,
Sarah

Transit (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang