MOHON MAAF SEBELUMNYA, CERITA BABY HEIR SUDAH PINDAH LAPAK SECARA ONLINE KE APLIKASI DREAME. CERITA SUDAH COMPLETE!!!
Peringkat teratas :
~Rank #1 IN MATURE -11 MEI 2020
~Rank #1 IN PRINSIP - 15 MEI 2020
~Rank #1 IN PESONA - 15 MEI 2020
~Rank #1 IN...
Sebelum baca, di vote dulu kuy, biar Author makin semangat..
Happy reading...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SEPULANG dari rumah sakit, Stella langsung ke kantor. Sebulan ia mengurus perusahaan kakeknya yang berada di Jerman membuat Stella sangat merindukan ruangan nya. Aroma bunga favoritenya menyapa indra penciumannya saat memasuki ruangan.
"Ara, apa semuanya sudah siap?" tanya Stella saat melewati meja Ara.
"Sudah nona. Namun Ceo perusahaan Damain akan datang sedikit terlambat. Apa kita akan tetap menjalankan meeting?" tanya Ara ragu.
Setiap berbicara dengan Stella, para karyaman selalu takut, karna jabatan Stella. Terlebih lagi saat menatap wajah dingin dan datar Stella nyali mereka akan menciut seketika.
"Apa dia meminta untuk di tunggu?”
"Tidak nona, saya hanya mendapat kabar jika Tuan Arion akan terlambat, " jawab Ara takut.
"Kalau tidak. Mengapa kita harus menunggu hal yang tidak pasti, jalankan rapatnya sesuai jadwal" balas Stella dengan santai
Ara mengangguk, "Baik nona"
"Antarkan berkas Meeting ke ruangan saya"
"Baik nona"
Stella berjalan dengan anggun melewati karyawan yang menatapnya dengan tunduk seakan takut.
Sesampainya di ruangan, dengan sedikit waktu yang Stella miliki. Stella berusaha fokus akan laporan meeting. Namun tetap saja gagal pikiran nya terlalu fokus kepada dokter yang baru ia temui.
"Ara kenapa kamu masih disini?"
"Saya kira nona masih membutuhkan saya soalnya nona belum memberitau saya sudah boleh keluar atau tidak" ujar Ara polos.
Senyum miring terlukis di bibir Stella, Bodoh!
"Yasudah kamu bisa keluar sekarang "
Setelah kepergian Ara tetap saja ia tak fokus dan lagi lagi pikirannya memikirkan apa yang baru saja dia lalui. Peristiwa tadi pagi membuatnya berfikir keras.
Ditambah lagi saat pertemuannya dengan pria berstatus dokter itu mampu membuatnya dua kali berfikir keras. Pria itu tentunya sudah matang, terlihat pintar dan juga tampan. Wajahnya sama sekali tidak membosankan. Terlalu lama melihat pria dengan setelan jas kantor mungkin membuatnya muak.