vier

2K 312 27
                                    

"Apakah anda yakin, Fuhrër?" Tegas Jeager sekali lagi kepada Hitler usai diskusi selesai, menyisakan mereka berdua. Hitler yang menatap malam dari balik jendela ruangan, menoleh kepada Jeager. "Tentu, Jeager. Apa kau kira aku bercanda?"

Jeager menghela nafas, "Bukan maksud saya mengatakan bila anda bercanda saat ini. Hanya saja menyerang Uni Soviet di saat persenjataan kita rentan seperti ini cukup gegabah, Fuhrër. Terlebih anda telah melayangkan gencatan senjata untuk Amerika Serikat."

"Jeager," panggil Hitler, "aku hanya menyuruhmu untuk merancang strategi perang dunia kedua yang akan ditegakkan sekutu sebentar lagi dan invasi terhadap Soviet adalah urusan Korff bukan untukmu." Sambung Hitler dengan wajah tegasnya.

"Fuhrër, alangkah lebih baik prajurit disiapkan untuk perang daripada invansi. Aku tak terlalu yakin Soviet akan menyerah setelah kita kuasai nanti. Bisa saja mereka punya cara untuk mengusir—"

"Jeager!" Bentak sang diktator.

"Lebih baik kau bungkam mulutmu lalu pergi atau kau mau peluruku menembus otak pesimismu itu." Perintahnya dengan nada bicara yang datar. Jeager hanya bisa pasrah. Dia pamit sebelum meninggalkan sang diktator yang telah didoktrin oleh kalimat Korff untuk menguasai Soviet yang begitu luas tersebut.

EJMIW

Beberapa hari belakang Hyuck selalu menunggu kedatangan seseorang yang cukup membolak-balik hatinya dua hari kemarin. Sikap optimisnya hilang begitu matahari tak lagi bekerja untuk bumi.

Setiap malam dia mengadon roti-roti agar siap dipanggang besoknya, bersenandung lagu sedih hingga menarik perhatian sang ibu.

"Hyuck?" Pemuda itu menoleh ke arah wanita yang melahirkannya, "Ada apa, bu?"

"Kau tampak sedih. Kenapa?" Tanya sang lalu duduk di bangku kosong di sana. "Apakah karena kenalanmu itu tak datang beberapa hari ini?" Tanya sang ibu seolah tahu apa yang dipikirkan anaknya.

"Ibu tau?" Hyuck cukup terkejut mendengarnya. Wanita itu tertawa lalu mengelus tangan kecil anaknya. "Kau anakku. Aku yang melahirkanmu, meski kau tak menceritakannya tapi ibu paham kekosongan hatimu"

Hyuck menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tertawa namun air wajahnya tampak tak bahagia. "Mungkin hehe. Dia sudah menjadi teman baikku, aneh saja jika dia tak mendatangiku, bu."

Setelah menyelesaikan tugasnya Hyuck merapikan adonan dan izin kepada sang ibu untuk tidur lebih awal. Dia masuk ke kamar mandinya, mengambil air dari dalam sumur. Mencuci tangan dan kakinya. Dia masuk ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya yang cukup lelah, apalagi menunggu kedatangan Jeager.

"Apa dia melupakanku?" Monolog Hyuck. Dia terus saja memikirkan pria Nazi itu hingga terlelap bersama buaian malam.

EJMIW

Para prajurit yang ditugaskan menginvasi Uni Soviet telah berangkat bersama Komandan Korff. Jeager yang melihat itu menghela nafas. Bukannya ingin meremehkan mantan temannya, hanya saja dia tidak yakin atas kemenangan yang di dapatkan. "Sabar saja, Sir Jeager. Kita doakan Sir Korff benar-benar dapat mengatur pasukan sehingga Soviet jadi milik kita." Imbuh Berthold sambil mengelap senjata-senjata. Jeager mengiyakan sambil menatap peta dunia yang tertempel banyak kertas rencana di sana.

"Sir, kau tak melihat keadaan pemuda-mu?" Celetuk Berthold.

Jeager menoleh, "Dia bukan pemuda-ku."

[END] Evil Jeager meet Innocent WeèberTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang