sechs

2K 293 61
                                    

Akhirnya mobil yang dibawa Berthold melaju begitu cepat seiring dengan deru tangis pemuda di sebelahnya.
Gerbang camp sudah mulai tampak, dia berhenti di depan gerbang sembari menunggu para prajurit yang sedang membuka pintu. Berthold memarkirkan kendaraannya di depan ruang penyimpanan. Dirinya keluar bersamaan dengan pemuda itu. Mereka berlari menuju lapangan dengan Hyuck yang mengekor kepada Berthold. Dirinya menerobos kerumunan prajurit sambil menarik tangan Hyuck. Matanya membola, dirinya merinding melihat sang jenderal dengan pakaian lengkap tengah berdiri di tengah lapangan bersama sebuah meja yang terdapat revolver andalannya.

"M-MARK?!" Teriak Hyuck sukses menjadi pusat perhatian anggota Nazi bahkan sang pemimpin sendiri. Jeager menoleh, rasa rindu dibenaknya seolah terbayarkan. Dia pun menatap pada Hitler setelahnya, meminta izin mendekati pemuda itu. Hitler mengangguk, segera dia berjalan menuju Hyuck. Mereka berpelukan dengan rasa rindu yang membuncah. Jeager mengelus punggung Hyuck memenangkannya seraya mengecup puncak kepala pemuda-nya.

"M-mark, aku merindukanmu hiks!"

"Aku juga, sangat rindu denganmu."

Hyuck menarik badannya mundur, menatap Jeager dengan lekat.
"Jangan tinggali aku, Mark. Kau tak bisa pergi seperti ini..." Lirih Hyuck menggenggam seragam jenderal bagian dada milik Jeager.

Pria itu menangkup wajah Hyuck. Perlahan wajah mereka mendekat, hingga tiba bibir Jeager mendarat pada bibir manis Hyuck. Selang berapa lama Jeager melepaskan pagutannya, mengecup dahi Hyuck. Dia menatap pemuda manis itu.

"I'm in love with you" katanya. Si manis membulatkan matanya, "S-sir?"

Senyuman tulus yang tak pernah ditampilkan pria itu cukup membuatnya kikuk. Sang calon jenderal utama yang bosan melihat drama dari atas sana berdecih sebal. Dia mulai mengompori Hitler dengan kalimat untuk mempercepat eksekusi kepada calon mantan jenderal utama. Dengan gerakan mata Hitler memerintahkan prajurit khusunya untuk memisahkan Jeager dan pemuda itu.

"Hei! Lepaskan!" Pekik Hyuck begitu dua prajurit menahan dirinya.

"Lepaskan dia!" Perintah Jeager, amarahnya tak terbendung melihat Hyuck yang di tarik paksa oleh prajurit khusus. "Berthold, Reins! Tolong tahan Hyuck!" Teriak Jeager sebelum dia dibawa paksa menuju depan meja eksekusi.

Kedua yang diminta pun mengambil alih. Mereka berdiri di samping Hyuck. Was-was bila pemuda itu membuat masalah yang bisa saja membuat Hitler mengamuk. Sampainya di depan meja, Jeager menghela nafas. Membentuk gerakan salib sebelum mengambil revolver-nya yang telah diisi sebuah peluru. Jeager tersenyum tipis mengingat harinya bersama bawahan kepercayaannya dan si pemuda yang berhasil memporak-porandakan hatinya, Hyuck. Tangannya mengangkat benda itu mengatakannya pada bagian samping kepalanya. Sebelum menarik pelatuknya Jeager menoleh pada pemuda yang mencegah Jeager, menggelengkan kepalanya agar dia tak melakukan hal itu.

Senyum tulus terakhir yang Hyuck lihat hadir pada wajah tampan Jeager sebelum terdengar bunyi dari revolver sang jenderal.

Dor!

"MARK!" Pekik Hyuck dengan linangan air mata. Dia menyaksikan bagaimana pujaan hatinya mengakhiri hidup tepat di depan matanya. Berthold yang berkali-kali menahan Hyuck untuk tak menoleh ke Jeager. Reins —si prajurit yang dekat dengan Jeager menahan tangisnya melihat tubuh Jeager terbujur kaku di tanah dengan kepala yang berdarah.

Para petinggi di sana berdiri mengikuti gerakan sang fuhrër. Mereka ikut bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. "Satu pecundang telah mati. Aku tekankan pada kalian untuk menang dalam keadaan apapun." Sehabis mengatakannya, Hitler meninggalkan posisinya diikuti petinggi lain. Tapi Arvin tampak bertahan sejenak, tersenyum licik. Si hama, maka tak ada lagi penghalang baginya.

Saat petinggi telah bubar Hyuck mendorong tubuh Berthold, menginjak kaki Reins. Dia berlari menuju tubuh Jeager. "M-mark!" Panggil Hyuck membawa tubub Jeager untuk dia peluk. Beberapa prajurit di sana memandang pilu melihat bagaimana tangis seorang pemuda menangisi tubuh tak bernyawa jenderal mereka. Mereka menutupi perasaan pilunya lalu bubar dari lapangan menyisakan dua orang lagi yang menatap kosong kepada keduanya. Jeager adalah sosok jenderal yang begitu dekat dengannya. Ajaibnya sang jenderal berubah setelah dengan pemuda si pemanggang roti yang sukses merubah watak keras Jeager. Hyuck menangis tersedu-sedu, padahal baru saja hatinya jatuh ke pria itu, tapi takdir seolah menentang perasaan mereka. Kepala Hyuck terasa berat, matanya berkunang-kunang. Tak lama dirinya tumbang tepat di sebelah tubuh terbujur Jeager.

Ruangan gelap, pemuda itu bahkan tak dapat melihat apa-apa saat ini. Sebuah cahaya timbul mendekat ke arahnya berdiri. Seraya menahan matanya dari kilauan itu, tiba-tiba ruangan tadi berubah menjadi hamparan lapangan bunga alfinerose tempat yang tak lagi asing baginya.

Di depannya berlutut seorang pria dengan senyum tipis nan menawan.

"M-mark? Kau Mark?!" Hyuck segera menghambur memeluk pria itu. Air mata Hyuck turun membasahi seragam pria tersebut. Berselang cukup lama mereka berpelukan hingga pria bungkam itu angkat bicara.

"Jaga dirimu, aku akan pergi. Aku mencintaimu, Ronhyuck Jeager." Hyuck yang akan membalas kalimatnya terpotong akibat suatu hal terjadi. Perlahan tubuh Jeager hilang, membunuh menjadi sinar kunang-kunang dalam gelapnya hari.

"MARK!" Pekik Hyuck, tangisnya makin kencang. Tangannya menggapai kunang-kunang malam tersebut hingga dia terjatuh dengan air matanya.

Mark-nya telah pergi untuk selama-lamanya, takkan kembali lagi.























END

[END] Evil Jeager meet Innocent WeèberTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang