fünf

1.8K 284 50
                                    

Warn! Typo in here, babe. Im lazy to check this chap again.hiks pardon me T^T

———

Hari demi hari setelah Jeager mengucapkan kata pamit, Hyuck menjadi sosok pemurung. Tak ayal dirinya selalu menyempatkan waktu sore berdoa di gereja meminta perlindungan untuk pria itu. Hyuck selalu menangis semalaman, dapat diketahui dari matanya yang memerah setiap pagi. Sang ibu tak banyak bertanya, dia paham yang anaknya rasakan. Bagaimana belahan hatimu pergi bertaruh nyawa untuk negara.

"Tuhan, jika kau pemurah berikanlah perlindunganmu untuk Mark. Dia pria baik. Dia memperjuangkan daerah kuasa Jerman dengan mempertaruhkan nyawanya. D-dia tak pantas kehilangan nyawanya, Tuhan..." Doa Hyuck untuk Jeager yang selalu diakhiri dengan tangisan. Keadaan Hyuck cukup membuat pastur dan biarawati iba padanya. Jika sempat mereka akan berdoa bersama pemuda itu lalu memberinya teh hijau untuk memperbaiki perasaannya. Terkadang Hyuck tertidur di gereja. Para biarawan yang simpati mengantarkannya pulang ke rumah dan selalu di sambut kata terimakasih dari ibu pemuda itu.

"Hyuck," panggil wanita paruh baya tak lain adalah ibunya. Hyuck menoleh dengan wajah sembab, "a-ada apa, bu?" Tanyanya lirih.

"Bersemangat-lah nak. Ibu akan sedih jika kau seperti ini, Hyuck. Mark-mu mungkin akan kecewa jika tau Hyuck-nya tak bersemangat seperti ini." Ujar wanita itu. Dia tak dapat lagi menahan gundah di hatinya melihat Hyuck yang murung belakangan ini. Pemuda itu lantas memeluk sang ibu. Mengucapkan kata maaf berkali-kali dalam tangisnya.

"M-maafkan Hyuck, bu hiks..." Sang ibu menenangkan anaknya dengan mengelus surai lembut tersebut. Hingga dengkuran halus terdengar di telinganya.

EJMIW


Jeager menghela nafas begitu selesai berkeliling Soviet sebelumnya. Bersama para prajurit, dia mengecek pekerjaan para budak Soviet. Beberapa hari ini cukup terlihat tenang tanpa hal krusial yang mengharuskan dia bergerak. Jeager memutar ingatannya. Dia benar-benar merasa hampa saat ini.

Hyuck

Satu nama yang memberi dampak besar baginya. Rasa rindunya harus terbendung jarak dan kuasa Hitler. Mungkin jika dia tak berada di Soviet dan  memandu strategi perang untuk Jerman, dia yakin dapat melihat wajah pemuda yang dia sayangi itu.

"Sir Jeager! Sir Jeager!" Panggil seorang prajurit lalu masuk dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan Jeager. Jeager berdiri dari duduknya, "Ada apa?" Tanyanya dengan nada tinggi.

Prajurit itu merauk oksigen lebih banyak. Tangannya menunjuk ke arah luar.
"Katakanlah!" Perintah Jeager.

"A-amerika telah masuk! Dia membuat Soviet bangkit, Sir!" Seru sang prajurit.

Mata Jeager membola bukan main. Bagaimana mungkin negara itu masuk ke area kuasa Jerman? Pikir Jeager. Dia pun keluar dengan topi seragam yang dia kenakan. Sang prajurit mengejar langkah pemimpinnya.

"Bagaimana dengan wehrmacht di perbatasan? Apa mereka tak dapat memblokade Amerika?!" Tanya Jeager dengan nada kesal. Sang prajurit merinding mendengarnya, "S-seluruhnya tak dapat mendeteksi hal ini, Sir. Amerika terlalu picik hingga membuat Soviet memberontak."

Jeager mengumpat, sambil masuk ke ruang penyimpanan senjata mengambil peluru dengan berbagai macam tipe untuk revolver-nya serta beberapa granat. Pria itu cukup kesal karena prajurit yang dikirim adalah prajurit kelas bawah atau tingkat junior. Bukan wehrmacht andalan yang terbiasa melakukan penjagaan sehingga lebih jeli dalam bekerja. Jeager menginstruksikan dua pertiga prajurit untuk menghalau pemberontakan Soviet. Sedangkan sepertiganya dikerahkan berjejer di perbatasan menjaga Soviet dari penyusupan. Jeager mulai menembaki pemberontak dengan shotgun yang berada di atas gedung bersama beberapa sniper di sana.

[END] Evil Jeager meet Innocent WeèberTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang