True storyNamaku Sansan usiaku masih terbilang muda, Dua puluh satu tahun dan aku sudah menjadi seorang janda yang ditinggal kawin oleh suamiku. Suamiku memilih seorang janda yang cantik, sexy, mulus dan yang pasti lebih kaya dariku.
Sebelum menikah aku sering kesalon, memanjakan diri dengan perawatan yang terbilang lumayan. Tapi semenjak menikah dengan mas Yudi, aku tak di ijinkan lagi untuk bekerja. Setelah setahun menikah berat badanku bertambah 10kg, dan wajahku penuh dengan jerawat karena kurangnya perawatan.
Berhari-hari aku hanya bisa menangis karena penghianatan mas Yudi dan selalu mendapatkan tamparan jika aku melakukan kesalahan. Tak tahan dengan kehidupan rumah tangga yang jauh dari impian aku memutuskan untuk bercerai. Menjalani hidup ini seorang diri. Karena Ayahku meninggal saat pernikahanku memasuki bulan ke empat.
Menjadi janda tak semudah yang aku bayangkan. Sindiran dan hinaan selalu saja menghampiriku. Namun aku masih tegar menghadapinya. Hingga satu hari aku bertemu dengan mas Yudi dan istri barunya. Rasa yang berkecamuk dalam dada tak bisa dihindari, tapi siapalah aku. Aku berusaha menghindari mereka, saat di pusat perbelanjaan tempatku bekerja. Malang tak dapat dihindari, mas Yudi melihatku dan menggandeng istri barunya menuju kearah ku,
"Hai San, masih sendiri aja." Dengan tawa yang menghinaku dia berkata.
"Iya Mas. Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga selalu bahagia." Ucapku dingin.
"Enggak perlu kamu kasih selamat, kami pasti bahagia. Lihat diri kamu, sudah setahun ini masih tak ada perubahan. Tak akan ada yang menikahi wanita seperti mu." Hardiknya dan berlalu begitu saja dihadapanku, mereka tertawa mengejek ketidak berdayaanku.
Setelah pertemuan itu aku menangis disetiap malamku. Melihat betapa buruknya diriku. Begitupun di tempatku bekerja. Semua mengolok-olok diriku, manusia buruk rupa. Tak tahan dengan hinaan mereka aku ingin sekali mengakhiri hidupku. Tapi sering sekali gagal karena hatiku masih goyah.
Hari ini mendung menyelimuti kota tempat tinggalku, tak ingin tersiram air hujan akupun bergegas bersiap untuk bekerja. Dalam perjalanan menuju halte bis, gerimis sudah mulai turun membuatku mempercepat langkah kakiku. Sesampainya dihalte sudah banyak yang antri menunggu bis tujuan kami masing-masing.
Tak lama menunggu bis yang aku tunggu datang juga. Akupun berlari dan berebut memasuki bis tujuanku dengan penumpang yang lainnya. Setelah mendapat tempat duduk di belakang, aku mengeringkan rambut yang terkena air hujan dengan sapu tangan yang selalu berada dalam tasku. Disebelahku duduk seorang bapak tua yang sudah hampir renta. Dia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki membuatku tak nyaman.
"Maaf Pak, apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanyaku lirih padanya.
Dan dia hanya memalingkan wajahnya dan kembali menatap kearah depan. Mungkin dia tak mendengarku, pikirku. Setelah mengeringkan rambut, aku menyandarkan kepalaku di kursi. Karena jarak tempuh yang lumayan jauh, biasanya waktuku habiskan dengan kembali tertidur. Lumayan menghilangkan kantuk yang masih tersisa.
Satu persatu penumpang turun di tempat tujuannya. Hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk aku dan bapak disebelahku. Karena banyak kursi yang kosong aku ijin pindah pada Bapak disebelahku. Namun dia diam saja. Membuatku semakin tak nyaman.
"Tenang saja Nduk, saya tidak akan berbuat jahat padamu." Ucapnya yang membuatku melihat kearahnya.
"Maaf Pak, biar Bapak tak terganggu jika saya tertidur." Jawabku lirih, karena merasa tak enak.
"Pakailah tisu ini jika kamu merasa sedih." Berkata hampir tak terdengar olehku.
"Maaf Pak, apa yang bapak bicarakan tadi?" tanyaku.
"Pakailah tisu ini jika kamu merasa sedih." Kalimat itu di ulanginya lagi. Sembari menyodorkan sebungkus tisu basah biasa.
"Terimakasih Pak," ucapku, Takut menyinggungnya aku mengambil tisu yang dia sodorkan.
"Jangan, kamu buang tisu-tisu ini. Jika ada seekor binatang yang menghampiri kamu setelah menggunakan tisu ini, cukup kamu usir." Terangnya padaku dan aku hanya mengangguk tak mengerti.
"Terimakasih Pak, saya permisi tujuan saya sudah sampai." Pintaku agar diatak menghalangi jalanku.
"Gunakanlah agar kamu bisa bahagia." Ujarnya, setelah menggeser badannya sedikit.
Setelah aku menganggukan kata-katanya, aku berlekas turun. Hujan sudah mulai deras dan aku berlari memasuki Mall tempatku bekerja. Segera aku mengganti pakaianku dengan pakaian kerja, lalu merapat ke tempat biasa kami berkumpul. Saat sampai ditempat rapat, ternyata banyak yang belum datang. Aku mebgambil ponselku didalam tas dan tak sengaja melihat tisu yang diberikan oleh Bapak-bapak tadi. Tisu yang sekali pakai seperti Gat*** dan semacamnya. Ach lumayan nich untuk penghilang keringat,pikirku. Aku mengambil satu dan menyapukannya ke wajah dan leher Serta tangan-tangaku. Baunya lembut tidak seperti yang biasa mereka pakai, karena sayang dibuang, bekas tisunya ku masukan lagi kedalam tasku.
Aku menunggu lebih dari satu jam tapi rekan kerjaku yang lain belum datang semua, mungkin karena hujan yang turun begitu derasnya. Aku berpikir sejenak, harus kah aku diam atau langsung ke stand tempatku ditugaskan. Saat menimbang-nimbang aku dikejutkan oleh sahabatku Tari,
"Hei, kamu dari tadi San?" tanyanya. "Eh tunggu dulu, hari ini ada yang lain dari kamu. Tapi apa ya?" Tari memperhatikan aku dari bawah hingga keatas berulang kali.
"Apa sih kamu Tari. Aku masih sama seperti kemarin." Jawabku.
"Aku juga belum tau apa, ya sudah kita ke Stand aja yuk." Ajak Tari yang ku iya kan.
Saat kami berjalan hampir semua mata melihat kearah kami, membuat Tari ge'er sendiri. Aku yang merasa minder hanya bisa menundukkan wajahku.
Hari ini Stand yang ku jaga, ramai sekali pembeli membuatku kelelahan. Karyawan lain memandangiku dengan senyuman yang aneh menurutku, terutama karyawan lelaki. Mereka biasanya acuh melihatku kini tersenyun enggak jelas, bahkan menegur dengan sopan.
Adakah yang salah dengan penampilanku?
Apakah bau ditubuhku membuat mereka seperti itu?
Apa wajahku semakin buruk?Banyak pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tisu pengasihan
غموض / إثارةSeorang janda yang dikhianati suami dan memilih bercerai. Dipertemukan oleh kakek misterius didalam Bis, lalu diberikan lembaran tisu basah untuk Dia gunakan. kejadian demi kejadian terjadi begitu saja, setelah dia memakai tisu itu pada wajahnya. H...