Suara pria itu mengelegar, memerintahkan mereka segera pergi dan menjaga di depan. Perlahan handle pintu di tekan dan pintu terbuka semakin lebar.
"Mas Yudi maksud kamu apa? Lepasin mas," Rontaku.
"Aku enggak bisa terima San, kalau kamu didekati pria lain," bisiknya padaku.
"Kamu sudah membuangku Mas, jadi siapapun yang dekat denganku seharusnya tak jadi masalah," ujarku.
"Aku sekarang terpesona olehmu, wajahmu, tubuhmu, semua yang ada padamu membuatku menginginkanmu kembali," bisiknya seraya menyentuh tubuhku.
"Mas Lepas, ingat kamu punya istri. Jangan kamu sakiti dia seperti kamu menyakitiku," pintaku memelas.
Namun tak membuatnya berhenti menelusuri tubuhku, usahanya menciumku membuatku semakin meronta. Terselamatkan oleh dering ponselnya.
"Kamu diam, istriku yang menelpon." Ancamnya sambil menutup mulutku.
Setelah berbicara panjang dengan istrinya mas Rudi masih saja mencoba mencumbuiku, aku hanya pasrah karena tangan dan kakiku terikat. Bagaikan seekor ayam panggang yang siap dinikmati. Namun sekejap mas Rudi berhenti dan beranjak dari ranjang yang ku tiduri,
"Kamu disini saja dulu, aku mau menyelesaikan masalah. Setelah itu kita akan honey moon lagi,"
"Mas, kita sudah bercerai. Apa kamu lupa?"
"Besok aku akan menikahimu lagi San, bukankah mudah untuk itu," jawabnya pongah.
"Mas lepas ... lepas," teriakku.
"Tunggu disini ya cantik," ujarnya lalu mencium keningku.
"Maaas ...." teriakanku yang tak mungkin dijawabnya.
Dia menutup pintunya lalu memanggil body guard yang akan menjagaku. Sepertinya hanya satu orang yang tinggal disini. Setelah memberi perintah, deru mobilnya menjauh.
Aku yang merasa lapar dan haus, tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi aku kebelet buang air kecil. Aku berteriak tapi tak ada yang menjawabku. Deru mobil kembali terdengar membuatku berdebar. Mas Rudi, apa aku akan menikah dengannya lagi, pikirku.
Pintu kembali terbuka, dan terdengar seseorang memasuki kamar ini. Dia bukan mas Rudi,
"Hei, tolong buka ikatanku," pintaku padanya.
"Aku mau ke toilet," pintaku lagi.Dia menghampiriku meletakan berbagai macam bungkusan plastik dan membuka ikatan tali di kakiku, sesaat dia hentikan. Berbalik badan dan mengunci pintunya dari dalam, lalu kembali mendekatiku dan melepas ikatan tanganku.
"Cepatlah, setelah itu makan dan ganti pakaian," terangnya.
"Terimakasih." ucapku berlalu dan memasuki toilet.
Terdengar ketukan dari luar, serta caci makian. Suara mas Yudi begitu kentara, aku dengan cepat menunaikan hajatku dan keluar melihat apa yang terjadi.
Mas Yudi sedang memarahi body guardnya yang mengunci pintu kamar dari dalam, dia pikir semua lelaki bejat macam dia. Setelah di jelaskan emosinya mulai meredam, lalu memelukku dan pergi meninggalkan kami berdua. Dalam hening aku melangkah dan mengambil pakaian ganti, kembali masuk ke toilet.
Melihat bodyguard itu hanya berdiri dan diam, akupun merasa kasian,
"Duduk, ayo kita makan," ajakku.
"Maaf Non, itu punya Non saya tidak diperbolehkan," jawabnya.
"Mas Rudi yang ngasih perintah kan! Sini, lagi pula dia kan sedang pergi, emangnya kamu sudah makan?," tanyaku.
Langkahnya terasa berat mendekatiku, terdengar suara perutnya yang berdendang dan aku hanya tertawa, lalu menyodorkan sebagian makananku untuknya.
"Kamu dari siang belum makan?" Tanyaku kemudian.
"Iya, kami berdua dilarang meninggalkan tempat ini sebelum pak Yudi datang, tapi setelah datang dia lupa jika kami belum makan. Beruntung Arif diajak pak Yudi karna istri beliau sedang marah besar," ceritanya.
"Ooo ... karena Yudi nggak pulang-pulang ya," terkaku seraya tertawa.
"Namu kamu siapa? Ga mungkin aku panggil bodyguard kan!" Tanyaku."Andi Non," jawabnya.
"Panggil Sansan saja, ga usah pake Non," pintaku.
Lalu kami melahap habis makanan yang sudah dibelikan untuk kami. Saat sedang membereskan sisa makanan kami, suara itu terdengar kembali.
Sreek ... kreeek ... sreeek ... krek,
Suara itu berulang-ulang terdengar. Tak lama kemudian sesosok makhluk mengerikan itu muncul dari pintu yang sedikit terbuka. Aku terlonjak dan lari memeluk Andi, Andi yang tak menyangka aku memeluknya sedikit terkejut kemudian menyadari kedatangan makhluk itu. Mengumpulkan sedikit keberanian, Andi mengusir makhluk itu dengan terus memelukku. Setelah makhluk itu pergi Andi mengeratkan pelukannya dan menghirup bau rambutku, dengan cepat aku mendorongnya.
"Maaf, aku sesak," ujarku, lalu mendorongnya.
"Maaf Non, saya ... saya seperti terhipnotis," bisikny.
"Aku mau keluar rumah, apa kamu pun akan mengikuti," tebakku.
Terlihat anggukan darinya, menyebalkan. Aku melangkah keluar, mencari celah agar aku bisa keluar dari sini.
Ternyata diluar dugaanku, rumah ini terpencil. Cahaya dari lampu-lampu terlihat dikejauhan. Membuatku sedikit pesimis. Saat aku melihat sekeliling, Andi mendekatiku
"Kita tidak bisa pergi dari sini," ujarnya.
"Ini dimana?"
"Sayapun tak tau, Non," jawabnya.
"Sansan ... San ... san!" tegasku.
"Ough iya, maaf,"
Diapun pergi kedalam, kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah karpet dan bantal-bantal. Dibentangkan karpet dan disusunnya bantal-bantal itu. Aku hanya memandanginya.
"Duduk San, pemandangannya indah," rayunya dan menatap langit bertabur bintang.
"Aku mau masuk kekamar aja," tolakku secara halus.
Baru berjalan mendekati pintu suara itu muncul lagi, membuatku berbalik dan duduk di karpet.
"Kog ngga jadi?"
"Nggak boleh duduk disini!" ketusku.
"Boleh banget, malam indah begini ditemani wanita cantik," gonbalnya mulai.
Aku dan Andi menatap bintang didinginnya malam. Lama-lama Andi menyentuh tanganku dan berbaring didekatku. Mengecup pelan tanganku, dan meremasnya perlahan. Membuat jantung ini berdegub dengan kencang. Ku lepaskan perlahan gengamannya, karena merasa terganggu. Bau khas tubuhnya sedikit mengodaku, tapi lekas kutepis.
Perlahan Andi bangkit dari tidurnya dan mendekat padaku, dilihatnya tubuhku menggigil karena dinginnya malam.
"Kita masuk saja ya, disini cukup dingin. Disini pegunungan," terangnya.
"Disini saja lebih nyaman," jawabku sekenanya.
Saat Andi masuk kedalam rumah dan lama tak kembali, aku merebahkan tubuhku perlahan menahan dinginnya angin malam. Sejenak mata ini terpejam, namun tubuh terasa hangat. Kupeluk erat selimut yang menyelimuti tubuhku dan sedikit terkejut,
"Kamu, kenapa keluar lagi," tanyaku.
"Untuk menemanimu," ujarnya lembut.
Lalu dia merebahkan tubuhnya disampingku, namun tak memakai selimut. Malah membiarkan tubuhnya yang kekar tak tertutupi oleh baju. Membuatku sedikit berkhayal jika malam ini dipeluknya erat dalam dinginnya angin. Saat aku memandanginnya, pandangannya menuju kearahku. Tatapan kami bertemu, dalam diam terjadi percikan api asmara yang membara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tisu pengasihan
Gizem / GerilimSeorang janda yang dikhianati suami dan memilih bercerai. Dipertemukan oleh kakek misterius didalam Bis, lalu diberikan lembaran tisu basah untuk Dia gunakan. kejadian demi kejadian terjadi begitu saja, setelah dia memakai tisu itu pada wajahnya. H...