Kepadamu Dafin, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan hari-hariku dengan hujan akan semenyenangkan ini, hujan ku tidak lagi membuatku menangis .... dan itu semua karena kau....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
helloo :)
this is the prequel of Kepadamu, Dafin
hope u enjoy :)
Denganmu, untuk pertama kalinya hujan bukanlah lagi kenangan buruk bagiku. Disana, di tengah tirai hujan, dengan senyum indah yang kau milikki, kau mengajarkanku bagaimana cara mecintai hujan untuk menciptakan sebuah kenangan baru yang indah dan menutup kenangan buruk yang lama.
Dafin namanya, sang pemuda tuna wicara dengan senyum indah. Ia adalah yang pertama menyapaku di halte depan sekolah, lewat kertas kecil yang tak pernah lupa ia bawa setiap harinya. Hari itu adalah hari pertamaku di sekolah sejak kepindahan resmiku dari sekolah lama.
"ingin berbagi? jika kau terus menahan isakmu, dadamu akan semakin sesak" begitulah tulisan dari kertas pertama Dafin kepadaku. bibirku tidak bergeming membaca tulisannya, mengetahui fakta bahwa ia tahu jika aku sedang menahan tangisku semenjak hujan mulai turun. Memang masih sangat sulit bagiku untuk tidak menangis mengingat kenangan pahit dimana aku di telantarkan oleh orang tuaku sendiri di bawah hujan 7 tahun lalu.
"aku Dafin, salam kenal" dengan senyum ia menyodorkan kertas kehadapanku, kulihat tangan besarnya menyingkirkan earphone di kedua belah telinganya yang caplang. Sejenak tanpa sadar aku menganggumi sosoknya yang tinggi besar dan berkulit putih.
"menangislah sesukamu, hujan akan menutupinya" tulisnya di kertas setelah ia menyimpan earphone nya ke dalam ransel hitam di sampingnya.
"Aku menyukai hujan dan earphone. apa kesukaanmu?" Tulis nya lagi karena aku tidak kunjung menjawab tulisan-tulisanya. Perhatianku teralih karena beberapa siswa di samping yang mengatakan "lihatlah, si bisu sedang mencari teman". Mendengarnya, aku bisa memahami mengapa Dafin menyukai earphone.
Lantas tanpa aba-aba ia menggenggam pergelangan tanganku dan meyeretku masuk ke dalam hujan. Aku terhenyak memahami maksud Dafin yang menyuruhku untuk beradu dengan air hujan dan menangis sekencang- kencangnya. Karena dengan hujan, tidak akan ada yang bisa mendengar luapan rasa sakit di tangisanku, dengan hujan pula, tidak akan ada yang bisa melihat air menetes di pelupuk mataku. Tindakannya membuatku sadar bahwa jika seseorang membuatmu menangis, maka akan ada seseorang lainnya yang akan datang untuk menghapus tangisan itu, dengan cara yang mungkin tidak pernah kita bisa duga. Seperti hal nya Dafin, yang mengubah Ingatan sedihku terhadap hujan menjadi ingatan bahagia bahkan di pertemuan pertama kami.
Seterusnya, aku dan Dafin selalu bertemu pada saat hujan, pula di tempat yang sama. Disana, kami duduk dan berlari di atas air yang menggenang. Disana, kami saling berbagi beban lewat senyum keceriaan. Disana pula, kami menghapus dan menciptakan kembali kenangan. Aku rasa begitulah cara hujan menyatukan aku dengannya. Hujan membuat kami berteman. Hujan membuat kami bersahabat. Hujan membuat kami tersenyum. Hujan memperlihatkan kami kenangan yang pada akhirnya membuatku tidak pernah lagi menangis pada saat ia turun, yang entah itu karenanya atau karenamu, Dafin, aku pun juga masih belum tahu.