6. Kesendirian.

505 25 10
                                        

Medan yang Miko lalui kian berat. Sesekali ia harus menggunakan seluruh tenaga serta keseimbangannya hanya untuk sekadar melewati jalan yang sedikit curam. Kesendirian tak membuatnya merasa takut. Sunyi lebih bisa membuatnya berkonsentrasi pada pendengaran. Sengaja ia menajamkan salah satu inderanya itu, tempat seperti ini akan lebih cocok jika ia tak hanya mengandalkan mata yang lebih banyak buta karena suasana gelap gulita. Iringan nyanyian serangga malam membuatnya merasa yakin bahwa cuaca kini telah memihak padanya, yang membuatnya lebih bersemangat untuk segera menemukan mereka.

Tak cukup hanya dengan satu buah senter di kepala, Miko mengeluarkan senter kecil yang ia bawa. Mulai dari sebuah gantungan lampu berukuran kecil yang ia gantungkan pada tali ikat pinggang pada celana, kemudian satu senter berada dalam genggaman tangan. Tujuannya hanya satu agar keberadaanya mudah terlihat ketika teman-temannya melihat cahaya dalam kegelapan. Miko berani mengambil resiko seperti saat ini. Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan saat ini sangat berbahaya untuk dirinya sendiri, langkah yang ia ambil sama saja memberitahukan posisinya pada hewan-hewan liar pemburu di malam hari, namun Miko telah mempertimbangkan hal itu, karenanya sebilah golok yang ia genggam tak hanya berfungsi sebagai penerobos lebatnya tumbuhan liar di dalam hutan. Ketajamannya juga difungsikan sebagai alat pertahanan diri.

******

Dalam cangkir kecil, masih tersisa beberapa tetes kapucino. Rasa dingin tak senikmat ketika ia masih hangat. Sang pemilik enggan untuk menghabiskannya. Tarno membisu, wajahnya sayu menatap botol bening berisi air mineral yang isinya hanya tinggal setengah. Semakin lama berlalu, suasana di sekelilingnya semakin sepi. Sebagian telah pergi merajut mimpi, berserakan beralaskan tikar serta alas lain seadanya, namun sebagian lagi masih bertahan, masih berniat terjaga hingga pagi tiba.

Dalam keheningan seperti itu, Tarno teringat keluarga kecilnya yang saat ini sedang tak ada yang menjaga. Tarno mulai merasa pusing terlalu lama menatap kosong halaman sekitar pos yang begitu sunyi. Ia tak sadar bahwa air mineral dalam botol sempat bergoyang. Hanya beberapa detik, juga tak terlalu terasa hingga membuatnya tak mampu memberi tanda.

Matanya mengerejap, beberapa kali meragukan apa yang ia lihat, bahkan hingga Tarno mengucek matanya sendiri, berharap apa yang terjadi tadi hanyalah ilusi. Sayang harapannya tak terjadi. Permukaan air mineral dalam botol masih menunjukkan sisa dari guncangan. Tarno mulai bimbang.

"Gimana ini? Apa yang harus saya lakukan?"

Kembali, matanya berkeliling mencari ke setiap sudut. Ia berusaha mencari orang dengan gelagat aneh. Dari sisi tempat ia duduk saat ini, terlihat dua orang berbincang ringan, namun dari cara mereka mengobrol, semua terlihat biasa saja.

"Mereka sepertinya tidak merasakan guncangan tadi."

Ia masih merasa bingung, antara takut namun khawatir orang tak percaya ceritanya dan ia juga takut seandainya tadi adalah sebuah guncangan pembuka. Pada akhirnya Tarno lebih memilih diam, tak menceritakan apa yang terjadi seraya berharap semua baik-baik saja.

*****

"Do, kepala gua tiba-tiba pusing."

Dalam perjalanan pencariannya, Nando dan Sansan merasakan sebuah getaran. Sansan tak terlalu mengerti, ia mengira bahwa itu hanya perasaannya saja.

"Itu karena lo lagi sakit, sekarang mending kita istirahat lagi, kayaknya juga hari udah mulai pagi."

Nando tak memberitahukan Sansan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah getaran dari bumi yang mereka pijak saat ini. Wajahnya menegang, hati mulai tak tenang. Firasatnya mengatakan bahwa saat ini mereka dalam keadaan bahaya, "sial, kayaknya gua ngerti sekarang, kenapa alasan mereka menutup jalur pendakian."

"Do, loe kenapa?"

Sansan merasa ada yang aneh dengan Nando. Sejak dari beberapa saat lalu, Nando menjadi terlihat tak banyak bicara, dan lebih memilih diam. Nando menoleh. Bisa Sansan lihat ekspresi Nando kali ini, ia tak biasanya serius dalam setiap keadaan. Ia tahu, bahwa ada yang sedang Nando sembunyikan. Sekilas matanya menatap tajam pada Sansan, namun itu hanya terjadi selama beberapa detik saja, setelahnya, Nando kembali bersikap seperti biasa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 22, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Wedhus GembelCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang