Musim Gugur

18 0 0
                                    

Mungkin. Kali ini musim gugur adalah musim yang tepat menggambarkan hari-hari ini. Kau kujadikan angin yang berhembus sepanjang musim ini. Kering, dingin, menusuk.

Tidak seperti musim salju, dengan butiran es yang perlahan turun dari tingginya angkasa, ia jujur dan menampakkan dirinya, mengabarkan pada dunia, bahwa ia bertugas membawa dingin sebagai kabar buruk bagi semesta. Mungkin inilah alasannya musim salju terasa lebih bersahabat dibandingkan musim gugur yang tak jelas kedatangannya.

Berbeda denganmu, angin musim gugur. Kau bersembunyi dibalik teriknya matahari. Tak terlihat dingin, tapi sarung tangan wol milikku pun tak mampu menahan perih di ujung-ujung jari. Setiap angin berhembus, perih semakin terasa. Kau juga terlalu jahat. Menyebabkan dedaunan pohon tak lagi hijau hingga perlahan jatuh dan tinggal batang.

Kau.. tak tampak, kau bersembunyi di balik bayang dan pikiran. Namun tiap kali namamu melintas dalam beberapa penggalan waktu, tangisku menyeruak tak mampu menahan rintih dalam dada. Kau sering meruntuhkan banyak harap yang tumbuh menghijau dan berbunga di musim-musim lalu.

Ternyata hadirmu adalah sebuah penanda. Bahwa bumi tak berputar begitu saja. Ada kala dimana dedaunan harus gugur jatuh dari pohonnya, memulai kembali sejak batang dan rantingnya saja. Toh, bumi tidak meminta pohon tuk tumbang. Bumi masih kuat menahan pepohonan yang baru saja melepas daun-daunnya.

Sudah saatnya musim panas berganti menjadi musim dingin, di mana pepohonan juga harus mengevaluasi diri. Menjadi seolah pohon baru, dengan bunga dan dedaunan yang baru. Meruntuhkan segala harap, menyusun ulang agar tak punah ditinggal masa yang kelak datang.
Kau adalah mula dari baru dan akhir dari lalu.

Kau memang bencana, bencana bagi mereka yang tak ingin berjumpa duka.
Padahal sejatinya hidup adalah tentang suka dan duka.

22 12 19

Sajak SendiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang