Bagian 3

8 0 0
                                        

Sesuai dengan kesepakatan, hasil seleksi OSN akan ditempel di mading sekolah. Hanya ada 3 orang dari 3 cabang OSN yang akan dipilih mewakili sekolah. Nantinya 3 orang itu akan di bina oleh pembina OSN sekolah kami sebelum mengikuti lomba di tingkat kota. Aku dan Meista segera bergabung ke kerumunan di depan mading. Salah satu teman kelasku menghampiri ku yang sedang berdesak-desakan dengan yang lain.
“ Selamat ya nai! kamu lolos seleksi OSN Matematika.” Ucapnya padaku.
  Mata ku membulat mendengar ucapannya
“ Aku lolos seleksi?” tanyaku dengan terkejut.
“Iya. Tu, lihat saja di kertas pengumumannya.”
Aku masih tidak menyangka akan lolos. Aku tidak berharap banyak ketika mengikuti seleksi. Bahkan aku sudah tak peduli lagi dengan seleksi itu ketika keluar dari ruangan seleksi sabtu kemarin. Meista langsung memelukku ketika tau aku lolos. Dia tidak lolos seleksi OSN IPA. Tapi dia tidak sedih, justru malah ikut senang karena aku akan ikut mewakili sekolah di lomba tingkat kota.

Bersama dengan 2 orang lainnya, kami dibimbing oleh pembina OSN sebelum menghadapi lomba 2 minggu lagi. Kami diajarkan berbagai materi yang akan di lombakan. Mereka juga meminjamkan buku – buku teks untuk dipelajari di rumah. Meista menjadi partner belajarku. Dia ikut membantuku mengoreksi jawabanku yang salah di latihan soal kemarin. Dia juga memberikan motivasi padaku yang kadang kehilangan semangat.
Hari lomba pun tiba. Dengan memakai rompi kebanggaan, kami berangkat menggunakan mobil sekolah. Lombanya dilaksanakan di gedung Balai Kota yang jaraknya mencapai 2 km dari sekolah kami. Setibanya di sana , kami ikut mengantri bersama peserta dari berbagai sekolah lain untuk mendapatkan no. peserta. Aku mendapat tempat di ruang II lomba OSN Matematika dengan nomor urut 39. Kami dipersilahkan masuk ke ruangan 10 menit kemudian. Pengawas lomba menjelaskan beberapa syarat dan ketentuan yang harus ditaati peserta. Lalu mulai membagikan lembar soal ketika dirasa semua peserta telah mengerti dengan aturannya.
Aku mulai mengerjakan soal dengan cermat. Materinya tidak jauh berbeda dari apa yang telah ku pelajari. Hanya ada 4 soal yang tak ku mengerti. Yang ku jawab sesuai dengan pilihan hati. Di luar itu, semuanya berjalan dengan lancar. Aku bersyukur dan menghembuskan nafas lega ketika keluar dari ruangan. Biarlah bagaimanapun hasilnya nanti, yang penting aku telah berusaha semaksimal mungkin.

Hasil juara lomba diumumkan 2 hari kemudian. Aku dan 2 temanku duduk di salah satu kursi yang disediakan. Panitia lomba mulai mengumumkan nama- nama juara. Lalu tiba di bagian nama- nama juara lomba OSN Matematika.
      “Baiklah. Selanjutnya saya akan mengumumkan pemenang lomba OSN Matematika.” kata moderator.
     “ Juara ke 3 dengan nilai 90,2 diraih oleh SMP N 89, atas nama Lailatul Zahwa!!!” sorak gembira terdengar dari sebelah kanan gedung.
     “ Juara 2 dengan nilai 99,4 diraih oleh SMP Putra Jaya, atas nama Arga Syahza Purnama!!!”
Tepuk tangan kembali menggema.
     “ Dan inilah dia juara 1 Lomba OSN Matematika dengan nilai 99,6 diraih oleh SMP N 46, atas nama Nailah Syakira Salsabila!!!!!”
      Jantungku berdetak kencang. Tak percaya jika ini kenyataan.
    “ Kepada para juara kami mohon agar maju ke depan.”
Aku maju ke depan. Berbaris rapi bersama juara yang lain. Pak Wali Kota sendiri yang memberikan piala, sertifikat dan sejumlah uang tunai padaku. Aku turun dari panggung dengan diiringi tepuk tangan meriah dari guru- guru. Mereka menyalamiku dan mengucapkan selamat. Aku terharu. Mataku berkaca- kaca. Terima kasih Ya Allah. Semua usahaku satu bulan terakhir tidak sia-sia.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 17, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OSN MatematikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang