Han Susan melangkah pelan, menuju deretan produk bumbu instan yang memenuhi salah satu koridor, yang warnanya didominasi oleh perpaduan oranye dan kuning cerah. Bersama dengan troli mungil di hadapannya yang didorong sepenuh hati dan Kim Namjoon yang tertinggal di belakang karena dicegah oleh pegawai promosi susu ibu hamil, Han Susan melihat-lihat setiap produk yang berjajar.
"Menemukan sesuatu yang menarik?"
Han Susan mengangkat wajahnya untuk berhadapan dengan pemilik suara yang bergumam maaf pada seorang pegawai supermarket berseragam putih hijau sambil tersenyum, dan meraih serenteng besar bumbu masakan asia tenggara berwarna kuning mentereng. Laki-laki itu mengangkat wajahnya, dan Han Susan langsung mengenalinya sebagai Kim Seok Jin.
Kim Seok Jin? "Oh." Senyum Susan terkembang kelewat lebar. Gadis itu mengeratkan cengkeramannya pada bungkus bumbu dapur berwarna kemerahan di tangannya, untuk menahan diri. "Sunbae."
"Hai, Han Susan," sapa Seokjin ramah. "Aku melihat Namjoon di sudut sana bersama senampan penuh susu ibu hamil. Aku kira kau sedang hamil atau semacamnya. Mengejutkan sekali kau ternyata masih sekurus tulang keringku."
Tawa kering Susan lepas landas. Tidak dengan cara yang berlebihan, karena secara konyol, Susan masih dapat mengendalikan suaranya. "Aku belum hamil," jawab Susan terbata-bata, "Tapi Namjoon sedang mengusahakannya."
Senyum geli Seokjin muncul dengan gerakan lambat di penglihatan Susan. Katanya tanpa melepaskan senyum. "Aku bisa melihatnya."
Han Susan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Gadis itu masih gadis yang sama dengan Han Susan di kelas satu sekolah menengah, yang tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal konyol dan memalukan di hadapan senior kelas tiga yang tampan ini. Kim Seokjin masih membuatnya kikuk dan tidak dapat mengatakan sesuatu tanpa membuat dirinya sendiri serasa dilempar tahi sapi di wajahnya.
Kim Seokjin masih setampan yang terakhir diingatnya. Senyum masih cerah seperti saat pertama kali Han Susan melihatnya di perpustakaan kota saat gadis itu masih belum bisa mengejar pelajaran yang diajari Pak Choi.
Dan mungkin, kalau Han Susan belum menikah, gadis itu bisa melemparkan dirinya ke dalam pelukan Kim Seokjin kapan saja.
Andai...
Oh, apa yang sedang kau pikirkan, Han Susan?
"Apakah aku ketinggalan sesuatu?" Kim Namjoon dengan sekotak susu ibu hamil di tangan kanan dan dua botol sirup di tangan kirinya berdiri di sebelah Susan, sambil menatap Kim Seokjin dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa Kim Seokjin bisa di sini?"
"Namjoon," bisik Susan tajam. Jemarinya mencubiti pinggang suaminya, sampai Kim Namjoon mengaduh lirih dan mencoba menjauhkan tangan menyeramkan Han Susan dari tubuhnya yang masih butuh pertumbuhan dan perkembangan. "Dia lebih tua darimu, sopan sedikit. Dasar sial."
"Apa kau baru saja mengumpati suamimu sendiri?"
Han Susan melotot.
YOU ARE READING
coileanta (namjoon)
FanfictionBagi Han Susan, Kim Namjoon adalah paket lengkapnya, dan begitupun sebaliknya.
