O3

16 4 2
                                        

"Hei, Darling."

"Don't you dare darl me," sela Susan ketika Kim Namjoon mencoba  meraih krim cokelat yang menghias kue wanita tersebut. Han Susan meluangkan lima jam waktunya hanya untuk membuat seloyang kue ulang tahun berdiameter tiga puluh senti bukan untuk dihancurkan begitu saja oleh Kim Namjoon, yang benar saja. Jadi wanita itu menepuk tangan Kim Namjoon yang hampir saja berhasil menyentuh krim cokelat berbentuk mawar di salah satu sisi kue, dan menjauhkan lengan Namjoon dari hasil karyanya. "Aku tidak membuat kue ini untuk kau hancurkan."

Kim Namjoon menyengir bodoh. Han Susan dan obsesinya pada kue buatannya sendiri sudah menjadi hal yang biasa untuk pria itu, namun tetap menyenangkan untuk menggoda Han Susan di hari Sabtu siang yang indah ini. Untuk membuat dirinya sendiri lebih senang, Kim Namjoon menyahut ringan, "Kau tidak akan membuat sebuah kue hanya untuk dipajang, bukan?" Pria itu duduk di hadapan Han Susan yang menatapnya sengit, lalu berkata ambil meminum susu cokelat buatan Susan penuh minat, "Semua makanan diciptakan untuk dimakan."

"So, that's the only what you think, isn't it?" tanya Susan dengan wajah sengit.

Senyum di wajah Namjoon terbit begitu saja. "I always love your British accent, darl."

"Jangan mengubah topik, Tuan Kim yang Pintar," dendang Han Susan sambil meraih piring dari dalam lemari di atas wastafel. "Apa akan ada rapat lagi hari ini?"

"Lihat siapa yang mengubah topik." Namjoon menyelipkan buah ceri segar yang berhasil diambilnya dari atas kue tersebut sebelum Han Susan sempat menyadari sesuatu. "Dan, yah, sebagai arsitek terkenal, tentu akan ada rapat besar."

"Rapat besar." Han Susan menenggak air mineralnya sambil tersenyum geli. Ia bersandar pada pantri sambil melipat kedua tangannya di dada kemudian. "Sombong sekali. Memangnya kau ini apa, huh? Stephen Hawking?"

Namjoon terkekeh geli. Ia berdiri untuk mendekat pada wanitanya dengan gerakan lambat yang cukup menyiksa. Tepat saat lengannya yang berisi melingkar di lingkar pinggang wanita itu, ia berkata, "Dan kau adalah Jane Wilde-nya?"

Han Susan mencoba untuk tidak terpengaruh oleh suhu tubuh Kim Namjoon yang terlampau hangat. Dahinya mengernyit. "Apa kau akan meninggalkanku untuk Eleine Mason?"

"That's not what I mean," sahut Kim Namjoon geli. "Baiklah, mari kita ganti ilmuwan yang sangat mencintai wanitanya sampai akhir hayat."

"Albert Einsten?"

"Oh, tidak, Sayang. Aku tidak ingin menjadi contoh laki-laki brengsek yang menikahi wanita hanya untuk mengetes apakah dia adalah cinta sejatiku atau bukan."

"Oh." Susan melingkarkan lengannya yang kurus di sekeliling leher Namjoon. Ia tersenyum kecil, sedang jemarinya yang lentik memainkan rambut Namjoon dengan lembut. "Jadi kau ingin jadi ilmuwan yang setia pada satu wanita, dan mencintainya sampai akhir hayatmu, begitu?"

"Ya," jawab Namjoon tidak fokus. Matanya tertuju pada kilauan matahari yang terpancar lewat mata wanita itu. "Seseorang yang cerdas, namun tidak meninggalkan wanitanya hanya untuk teori dan gelar bangsawan dari Ratu Inggris."

"Mengesankan," bisik Han Susan menyela. Napasnya menyatu dengan milik Namjoon untuk beberapa saat yang mendebarkan. "Aku tidak tahu ada ilmuwan cengeng."

"Stephen Hawking contohnya?"

Han Susan merengut. "Tapi dia meninggalkan Jane untuk wanita yang senang membukakan majalah porno di hadapan pria cacat!"

"Kasar sekali, gadisku ini, huh?"

Menghadapi godaan menyebalkan dari Kim Namjoon, Han Susan memalingkan wajahnya yang memerah. Entah karena kesal atau karena malu. Gadis itu enggan terlihat seperti perempuan cengeng yang merona malu setelah digoda kekasihnya. Han Susan tidak suka terlihat seperti itu, apalagi di hadapan Kim Namjoon yang siap kapan saja mengejeknya. Itu memalukan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk kue ini kalau tidak di makan, hm?"[]

coileanta (namjoon) Where stories live. Discover now