04

172 14 3
                                        

Ini saat yang paling menyenangkan ketika piknik ke gunung. Yup, memanggang daging dan sosis dengan ramyeon panas di cuaca yang dingin. Seokjin kebagian tugas memanggang daging dan sosis, sedangkan Jungkook yang dikenal sebagai rajanya ramyeon jelas sedang sibuk berkutat di dapur.

Sora yang tak tahu harus melakukan apa hanya duduk diam sembari mendengar desis nikmat dari daging yang mengenai panggangan. Seokjin memasaknya dengan khidmat, hampir melupakan eksistensi adiknya yang duduk di belakang punggung.

"Oppa, aku bosan. Ingin bantuin," cicit Sora yang dilanda kebosanan setengah mati. Seokjin sedikit terlonjak, segera berbalik dan memandang sang adik yang memajukan bibirnya ---kebiasaan saat kesal.

"Kau bantu Jungkook saja ya di dapur. Biar oppa yang urus ini sendiri."

Seokjin memberikan titahnya pada Sora. Tanpa menunggu lama, gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Sora mendatangi Jungkook diam-diam. Ia memang gadis yang tak suka berjalan dengan berisik, telinganya terlalu sensitif terhadap bunyi.

"Jung," panggilnya.

"Astaga! Sora, kau mengagetkanku!"

Jungkook berbalik dengan mata melotot kaget. Jantungnya hampir keluar kalau saja tak dilapisi tulang dan tetek-bengeknya.

"Maaf, Jung. Aku tak tahu kau mudah terkejut."

"Iya, tak apa. Mau apa kesini? Seokjin butuh sesuatu?"

Sora hampir meloloskan tawa mendengar Jungkook yang memanggil kakaknya tanpa embel-embel hyung. Mereka memang seringkali bertengkar sepanjang perjalanan ke villa. Dan, Sora tak menampik bahwa ia terhibur dengan tingkah keduanya.

"Tidak. Aku hanya ingin membantu," ujar Sora.

Jungkook hampir kelepasan bicara 'Ini hal berbahaya untukmu, kau duduk saja ya.' Tapi, ia sadar betul Sora itu buta bukan orang bodoh. Walaupun tak bisa melihat, Jungkook yakin Sora bisa melakukan hal biasa dengan baik.

"Eum, kau bisa memotong daun bawang, kan?"

Jungkook meletakkan alas potong dan pisau di depan Sora, meraih jemari gadis itu lantas menggenggamkan pisau di tangannya.

"Bisa, kok. Eomma sering menyuruhku membantu di dapur."

Lalu, Jungkook kembali berkutat dengan kegiatan memasaknya. Sesekali ia mengecek pekerjaan Sora yang gadis itu kerjakan dengan baik. Mereka berhasil menyelesaikan masakan dengan cepat.

"Sora, bisakah kau mengambilkan nampan besi di rak piring?"

Sora mengangguk sekali kemudian menuju ke arah yang Jungkook katakan sebelumnya. Ia berhasil menemukan nampan besinya, tapi tangannya yang basah membuat pegangan di nampan itu lepas.

Prang!

Bunyi itu sungguh memekakkan telinga. Sora menutupi kedua telinganya yang sensitif dengan pandangan takut. Ia hampir menangis kalau saja Jungkook tak menjauhkan tangannya dari telinga.

"Sora, kau tak apa? Apa kupingmu sakit?"

"Ju-jung, aku tak apa. Cuma kaget."

Sora melepas genggaman Jungkook di tangannya, mengusap dada yang masih meninggalkan debar terkejut.

"Minum ini," ucap Jungkook sambil memberikan segelas air ke Sora. Gadis itu meminumnya perlahan, sedikit merasa lebih baik.

"Kau ke tempat Seokjin saja. Biar aku yang bawa ini semua."

"Iya."

..

Mereka bertiga menghabiskan makanan dengan cepat. Salahkan dua orang rakus yang makan tak tanggung-tanggung di depan Sora. Ketiganya merencanakan untuk pergi ke halaman belakang dan menghabiskan malam dengan langit penuh bintang. Itu usulan Sora setelah Jungkook bilang langitnya indah sebenarnya.

"Sora, bagaimana kalau kau tidur saja? Udara malam tak baik untukmu."

Sora menggeleng. Ia tahu sang kakak hanya merasa bersalah sebab Sora tak bisa ikut melihat bintang di langit. Tapi, ia suka menghabiskan malam bertiga di bawah langit malam. Ia bisa memasukkan momen ini sebagai salah satu momen indah dalam hidupnya.

"Tidak, Oppa. Aku tetap ingin lihat langit dengan kalian."

"Sudahlah, Seok. Bukankah jarang-jarang Sora merasakan piknik seperti ini."

Seokjin diam, berpikir bahwa perkataan Jungkook benar juga. Ia lupa kalau Jungkook barusan memanggilnya dengan nama.

"Baiklah. Ayo."

...

Ketiganya berbaring di atas kursi lipat yang empuk. Jungkook menyangga kepala di lengannya yang tertekuk. Sedangkan, Seokjin malah sudah berada di alam mimpi. Semilir angin samar-samar membuat badan berubah dingin.

"Jungkook, ingatkah kau saat kita kecil, kau bilang bintang di langit itu bentuknya aneh. Seperti titik bercahaya kuning yang suka meredup dan menyala seenaknya, kadang suka tak tampak semalaman."

Jungkook melirik Sora yang berubah duduk dengan memeluk kedua lutut. Tatapan gadis itu selalu kosong, tapi Jungkook bisa rasakan sebesar apa Sora menikmati tiap udara yang mengelilinginya.

"Kita sudah kenal sejak kecil?"

Sora terkekeh gemas. Ia memang memiliki ingatan yang lebih tajam dari orang kebanyakan. Jungkook mungkin lupa semua hal tentang keduanya dulu sekali.

"Iya, kita bersahabat saat kecil. Apa kau ingat kau suka sekali menjahili Seokjin oppa dan mengambil permen beruang kesukaanku?"

Jungkook benar-benar lupa. Ia merasa IQnya lebih rendah dari Kim Taehyung ---model terkenal sesama agensi yang kelakuannya sebelas dua belas dengan Jungkook.

"Ah, aku tak ingat apa pun. Aku jadi merasa sangat bodoh."

"Santai saja. Aku bisa menceritakan padamu hal-hal tentang masa lalu kita. Saat kecil aku hanya punya kau dan Seokjin oppa, mungkin itu sebabnya aku selalu mengingat momen bersama kalian."

Jungkook mengikuti Sora untuk duduk. Netranya memandang langit penuh bintang. Ada gelenyar ganjil di dadanya saat merasa bintang tak seaneh yang ia kira di waktu kecil.

"Sora, bisakah aku revisi ucapanku tentang bintang?"

"Tentu. Kurasa kau sudah kena keajaiban alam."

"Iya. Sekarang aku rasa bintang tak seaneh itu. Ia malah kelihatan sangat indah saat bergantian menyala dan meredup seperti sekarang. Bintangnya banyak sekali, Sora. Satu, dua, tiga, ah tak bisa kuhitung. Ada bulan sabit juga yang menemani mereka. Mereka kelihatan bahagia walau langit sangat gelap."

Sora tersenyum mendengar penjelasan Jungkook. Ia bisa sedikit membayangkan bagaimana bintang-bintang itu.

"Pasti indah sekali."

Dan, hanya hening yang merayap di udara. Jungkook sedang menyiapkan kata-kata untuk Sora. Ia tahu ini takkan membantu banyak, tapi ia harap Sora paham bahwa kegelapan di matanya bukanlah hal yang bisa menghancurkan sinar-sinar cinta dan kasih sayang di sekelilingnya.

"Sora, kau seperti langit malam. Duniamu pasti gelap sekali ya. Tapi, di langit yang gelap itu juga penuh dengan bintang dan bulan yang bersinar. Ibaratnya, bulan adalah Tuhan yang telah memberi manusia nyawa, dan bintang-bintang yang begitu banyak itu layaknya orang-orang di sekelilingmu yang menyayangi dirimu sepenuh hati. Seperti orang tuamu dan Seokjin."

Sora mengenyam haru di dadanya. Perkataan Jungkook benar-benar menyentuh hati. Ia tersenyum begitu lebar, menengok pada Jungkook yang menggaruk tengkuk karena malu.

"Terima kasih, Jung. Namun, aku ingin merevisi ucapanmu."

"Ucapan yang mana?"

"Tentang bintang-bintang di sekelilingku. Kau juga termasuk salah satunya. Kau bintang di langit malamku, Jung."[]

decalcomania.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang