28 Januari 2020
Yudi, itu nama yang diberikan orang tuaku setelah perjalanan 17 tahun yang lalu, membuatku terlahir didunia yang luas dan penuh dengan cobaan. "Kenapa aku terlahir?" Itu lah pertanyaan yang timbul dibenak ku pertama kali. Dan inilah ceritaku.a
Duduk, merenung sejenak ditemani secangkir teh Sari wangi membuatku sadar akan arti cinta yang sesungguhnya, dimana kisah masa lalu yang hanya sekedar harapan belaka terngiang dalam fikiran. Diawali dengan cinta monyet berkepanjangan, kisah yang kandas ditengah jalan, hingga hubungan yang bertepuk sebelah tangan. Semua sepertinya sudah kurasakan.
"Sudah lupakan saja!!", ucap kata hati dan dengan sontak otak mengiyakan keinginanku untuk hidup sendiri.
Dan benar, setelah beberapa bulan berlalu, aku mulai mengetahui rasanya hidup seperti jomblo pada umumnya. Sepi, sunyi, seakan sudah biasa dalam keseharian tanpa adanya kebucinan dalam diri. Hanya cuitan teman teman yang berkubu kubu membentuk kelompok dalam kelas. Menemani menit demi menit di bangku yang sudah mulai lapuk ini. Suara Ghibahan, nyanyian fals, pukulan meja, suara perbincangan yang bisa didengar oleh seluruh telinga warga sekolah seolah menjadi asupan wajib saat jam pelajaran kosong. Sampai bel pulang berbunyi tanda berakhirnya kejenuhan akan huruf dan angka untuk hari ini.
Adzan Dzuhur mengiri kepulanganku kerumah tempatku dibesarkan. Memang tidak terlalu besar namun cukup untuk menjadi tempat tinggal keluarga kecilku.
Kubuka pintu rumah, tampak Ibuk dan si Nabil, adik terkecilku yang sedang belajar melangkahkan kaki kedepan bukan kebelakang. Kucium dan Salami tangan ibuk yang mulai agak mengerut akibat umurnya yang sudah berkepala empat, semoga saja ia tetap sehat. Aku langsung beranjak ke kamarku yang ukurannya 3x2 meter². Berbaring sejenak, merenungkan hal yang terjadi hari ini membuatku terlelap, namun suara iqomah membangunkan ku yang belum shalat Dzuhur.
Siang yang panas berlalu, kini sinar matahari sore menandakan saat bersantai dimulai. Sebuah gitar dan makanan ringan menjadi rekan bersantai yang sempurna. Alunan melody lagu story of my life ku mainkan dengan bantuan metronom di handphone.
Namun, seketika perhatianku tertuju pada notifikasi WhatsApp yang membuat suara metronom ku berhenti.
"Save Nurfa", isi pesan dari nomor akhiran 748. "Ini gua gak salah liat? Tumben ada cewek yang ngirim pesan", Suara hati berbisik bisik tidak percaya ke otak. Otak juga merespon sama dengan hati. Rasa malu menahan tangan untuk mengetik kalimat jawaban. "Type some text", kalimat bahasa Inggris yang terpampang dikolom G-keyboard ku seakan memberi dorongan untuk membalas pesan si Nurfa.
Apakah yang akan terjadi?
Penasaran dengan cerita selanjutnya? Tunggu ya bagian 2 nya.To Be continued...

KAMU SEDANG MEMBACA
Story Of My Life
Short StoryKisah pribadi. Ambil yang baik baik aja ya. Yang buruk, buang jauh jauh