2 Februari 2020
Matahari menyapa di Minggu pagi, membangunkanku dari tidur 8 jam yang nyenyak tadi malam. Mengingatkan hal yang terjadi kemarin.
Sarapan bergizi adalah awalan yang bagus untuk hari Minggu yang berat dan tubuh ku yang kurus. Iya berat, berat karena Minggu adalah hari mencuci.
Ku ambil satu persatu cucian, berkurang dan akhirnya habis. Hanya meninggalkan busa deterjen yang putih bergelembung.Ku coba mengirimi pesan kepada Nurfa, namun tak dibalas. Tanda ia sedang hibernasi di Minggu pagi.
"Pasti lagi tidur ni, biasa lah cewek" kata otak yang entah kapan mulai bisa bicara.
"Ya udah tungguin aja, jadi cowok harus sabar" jawab hati.Akhirnya setelah 3 jam, "toeeeenggg...." Suara notifikasi pesan si Nurfa.
"Kak maaf, tadi abis hibernasi 😅", isi pesan tanda waktu bucin di mulai. Aku emang gak bucin, hanya memuji ciptaan yang kuasa.
*sfx: "Halah alasan"Setelah beberapa jam berjalan dengan kaki, gak terasa, matahari sudah tepat diatas kepala. Aku putuskan untuk mandi setelah Aromaku yang seperti terasi udang rebon mulai menyebar ke semua isi rumah. Membangkitkan omelan Emak yang astagfirullah ga bisa diungkapkan kata kata.
"Mandi udah, sekarang tinggal tidur" kataku yang mengingat jadwal hari Mingguku yang didominasi waktu tidur dan makan. Dan akhirnya waktu tidur siang sudah selesai.
Cahaya matahari sore menemani akhir dari hari Minggu. Hari yang ditunggu anak anak pemalas sepertiku.
"Udah sore, bangun tukang tidur" ku kirim pesan kepadanya namun tak dibalas balas.
Aneh, biasanya ia balesnya cepet. Tapi mungkin lagi ada acara Ama keluarganya, atau mungkin ada tugas" fikirku yang kali ini bukan kata hati dan otak.Dari sore hingga malam gak dibales. Hingga akhirnya aku memberanikan diri menelponnya.
Malu, entar nelpon mau bilang apa?, Garing, suara gua jelek kaya kokokan ayam, itu lah kurang lebih fikiran ku saat kudengar dering telepon yang tertuju kepada si Nurfa. Dan akhirnya ga diangkat.
*sfx: "nyesek min".
Dia gak ngangkat tapi cuman ngirim pesan,
"Ini udah bangun" katanya singkat.
Selama beberapa hari ia membalas pesanku tidak seperti biasanya.
Singkat, lama. Mungkin itu deskripsi yang bagus untuk jawabannya.
"Mungkin dia udh punya cowok baru yang ganteng, ga jelek kaya lu" fikir negatif si hati. Akhirnya kuputuskan untuk ngejauh dari si Nurfa.Hari demi hari berlalu tanpa adanya nama Nurfa. Kulihat kearah jendela SMK Budiawan, namun tidak ada tanda tanda kehidupan. "Dia udah enggak ngebutuhin lu, udah lupain" fikirku bulat.
Kecewa, sakit hati, sabar nyatu jadi es campur kang Suhib yang dijual didepan sekolah. Ada yang mau nitip beli es campur?Penasaran dengan lanjutannya?
Ditunggu ya...
Yang punya saran silahkan komen '_'To Be continued...

KAMU SEDANG MEMBACA
Story Of My Life
Short StoryKisah pribadi. Ambil yang baik baik aja ya. Yang buruk, buang jauh jauh