Nunggu Keajaiban

23 3 0
                                    

11 Februari 2020

"Mau gk ngejaga perasaan bareng bareng sampe bsok hidup bareng?". Kalimat yang ku ketik kepadanya. Menyedihkan memang, namun yang namanya perasaan gak bisa ketahen kayak orang ngidam. Selanjutnya kuserahkan jawaban kepadanya.

"iya mau😁", jawabnya singkat.
Singkat namun bisa membuat asam lambung naik turun.
"tapi....",
baru mau seneng eh ada tapinya.
"tapi knp dek?" tanyaku.

"adek gak mau pacaran kayak dulu, mending ngejaga komitmen aja kayak kata kakak sampe besok tinggal bareng."

"ya udh kayak gitu aja ya, janji ni jaga komitmen? 😁"

"iya janji, jangan selingkuh 😂".

Kurang lebih begitulah jawabannya yang membuatku lega setelah rasa takut seperti saat ujian lalu gurunya galak dan duduk dibelakang sampe kita gak bisa kebuka buku catatan.
*sfx: gk bisa nyontek tuh:v

Entah janjinya benar atau tidak, yang penting aku berusaha selalu ada dan ngasi yang terbaik kepadanya. Namun kulihat ia adalah cewek yang setia, semoga dugaanku benar.

Hari ini pun berlalu dan dilanjutkan hari selanjutnya. Entah berasal dari mana sifat keantusiasan untuk sekolah ini, seperti dapet chicken dinner pas main PUBG yang bikin nagih. Kurang lebih seperti itu.

Rutinitas harian disekolah ku lakukan dengan penuh semangat walau belum sarapan. "cringgg.... Saatnya perbaikan gizi". Suara bel yang ngajak ngelawak, pertanda saatnya Istirahat. Saat keluar kelas, tak sengaja kulihat ia sedang ngobrol dengan gurunya yang kebetulan meja gurunya ada didepan kelas dan dekat dengan jendela tempat kami saling bersedekah dengan senyum, sepertinya ia sedang ngumpulin tugas.

Semua berjalan seperti biasa, setelah jam istirahat digantikan jam pelajaran ke 5, 6, 7, 8, 9 dan akhirnya jam pulang pun tiba disambut riuh dengan suara murid yang mulai bosan dengan hidup.

Aku pulang dengan Rian, teman yang sudah ku kenalin di part sebelumnya. Kami berjalan ke parkiran babang Sudir di luar sekolah yang kebetulan adalah parkiran anak SMA Budiman dan SMK Budiawan. Baru setengah jalan, mataku terpaku pada seorang wanita yang sedang berbincang sama teman temannya. Dari tampilan luarnya emang mirip dengan Nurfa , atau itu emang dia. Sontak hati ngerasa seneng banget dan mulai berniat ngagetin.

Deket, makin deket, dan emang benar itu si Nurfa ama teman ghibahnya si Nisa dan Ninda. Kubuntuti dari belakang. Selanjutnya, ku tarik dikit tas hitamnya yang terlihat bagus saat ia pakai.
Nisa ama Ninda terlihat kaget saat melihatku dan mereka jalan dibelakang ninggalin si Nurfa didepan yang enggak sadar kalo tas nya ditarik. Beberapa saat selanjutnya, ia mulai sadar kalau ia jalan sendiri dan ia respek buat ngeliat ke belakang. Malu dan seneng tergambar jelas di mukanya yang kuning, tembem dan mancung yang ditutupi tangan halus nya. Akhirnya kami berjalan berdua, diikuti Nisa, Ninda yang lagi bincang bincang hangat dan Rian yang ngotak atik mainan kuncinya karena gabut.

Percakapan basa basi yang agak gak nyambung nemenin perjalanan singkat kami ke parkiran. "cubit" kataku sembari nyubit pipi tembemnya saat kami pisah di parkiran. Senyumnya kembali terlihat.

Ini ni yang disebut keajaiban. hal yang terlihat sederhana namun bermakna yang dan tak disangka sangka.

Penasaran dengan kelanjutannya. Ya udah tunggu part selanjutnya ya.
Tetep rebahan.
Baca juga part sebelumnya

To Be Continued...





Story Of My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang