0.5

670 93 30
                                    


Semenjak berpelukan dengan Wonwoo, rasa canggung diantara keduanya mulai sedikit menipis. Seolah dinding tebal telah mereka hancurkan perlahan-lahan.


Seperti sekarang,

Keduanya tengah membersihkan taman rumah bersama-sama. Wonwoo mencabuti rumput liar, sementara Mina membersihkan daun layu.

"Apa yang kau taruh di kepalaku?" tanya Wonwoo penasaran, Mina mencoba untuk jahil.

Mina berbisik, mendekati telinga kanan Wonwoo.

"Cacing,"

Wonwoo terperanjat kaget, ia berdiri secepat kilat dan membersihkan rambutnya, teriakan Wonwoo membuat Mina tertawa semakin keras.

Mendengar tawa Mina, melihat gadis itu tertawa dengan renyah membuat Wonwoo terdiam dan menyadari bahwa gadis itu membohonginya.

Faktanya, Mina hanya menaruh dedaunan layu diatas kepala Wonwoo.

"Astaga, maaf—maaf. Kau tampak menyeramkan saat diam." ucap Mina menjauhi Wonwoo, kemudian mendekati pot bunga mawar yang ada disebelah kirinya.

"Aku tidak marah, Mina. Sungguh." Ucap Wonwoo sembari tertawa.

Perubahan sikap yang tiba-tiba mendadak juga membuat keduanya terkadang menjadi lebih canggung. Tetapi Wonwoo sadar, Mina telah membuka sedikit celah untuk hubungan keduanya.

"Aku hanya membalaskan dendamku, kita seri sekarang." Mina menatap Wonwoo, masih teringat jelas bagaimana Wonwoo mentertawakannya kemarin saat Mina bergegas menuju ke pasar padahal waktu masih menunjukan pukul 1 malam.

Efek tertidur di sore menuju malam hari, katanya.

"Baiklah, kita seri. Tetapi aku mau meminta sesuatu karena perbuatanmu."

Mina memicingkan matanya,

"Apa?"

"Sepertinya di kulit kepalaku terdapat butir tanah yang kau bawa dari dedaunan. Kau harus membuka jasa salon hari ini." Pinta Wonwoo, Mina tertawa kecil lalu mengangguk.







Sesuai janjinya, sebelum mandi, Mina memutuskan untuk terlebih dahulu mencuci rambut Wonwoo, ia memijat kepala suaminya sesekali. Yang jelas membuat Wonwoo memejamkan kedua matanya, menikmati pijatan Mina.

"Apakah aku pelanggan pertama?" tanya Wonwoo, Mina menggelengkan kepalanya sambil membasuh rambut Wonwoo dengan air dingin perlahan-lahan.

"Tidak, anjingku sudah menjadi pelanggan tetap." jawab Mina, Wonwoo tersenyum. Ia sangat tahu sekali bahwa Mina memiliki seekor anjing yang kini dirawat oleh kedua orang tuanya.

"Selesai, kau bisa mengeringkannya sendiri, kan?" Wonwoo mengangguk seraya mengucapkan terimakasih.

Setelah Wonwoo keluar dari kamar mandi, Mina mengunci pintu kamar mandinya, lalu melihat pantulan dirinya dari cermin yang berada diatas wastafel.

Sedikit sadar, bahwa yang dikatakan ibunya adalah benar.

"Kau terlalu cantik untuk disia-siakan."

Terbayang perkataan Jiho,

"Lupakan saja Jeon Jungkook, Mina. Kamu berhak bahagia."

Mina menautkan kedua tangannya, lalu menggenggamnya kuat.

"Baik, aku akan mencoba sedikit demi sedikit."


Begitupun dengan Wonwoo..

Waktu berlalu dan ia bisa menerima keadaannya sekarang. Tidak ada Eunha, hanya Mina— istrinya.




Lagipula, Mina adalah gadis yang baik.





💐💐



Malam hari setelah makan, Wonwoo memasuki kamar dan terkejut ketika Mina ada disana, duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya.

Butuh keberanian penuh untuk berada didalam kamar berdua hanya bersama Wonwoo. Tapi, memang tidak ada salahnya untuk tidur bersama, bukan?

Mereka juga sudah sah sebagai suami-istri, lagipula Mina hanya mencoba untuk memberanikan diri. Wonwoo tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang.

"Mau tidur bersamaku malam ini?"

Mendengar pertanyaan Wonwoo, membuat semburat merah muncul di kedua pipi Mina, ia malu. Terlihat sangat jelas.


"Uhm—ya..." Mina menjawab ragu, Wonwoo sesegera mungkin langsung beranjak, kemudian membersihkan ranjang dengan teliti, yang membuat Mina tertawa kecil.


Mina segera berdiri, ketika Wonwoo selesai membersihkan "ranjang mereka". Ia kemudian duduk di tepian ranjang, lalu menaikan kakinya. Terasa nyaman. Begitu pula Wonwoo, yang kini terduduk disebelah Mina.

Perlahan keduanya mengambil posisi berbaring, jantung mereka berdegup dengan keras. Wonwoo menarik selimut, sementara Mina mematikan lampu. Tersisa lampu tidur yang menyala.

10 menit dengan keheningan, Mina berbalik untuk memastikan Wonwoo terlelap, namun ia sedikit terkejut ketika melihat Wonwoo tengah memperhatikan ke arahnya.

"Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Mina, Wonwoo mengangguk.

"Katakan saja."


"Aku tau ini mungkin terlalu cepat bagimu, tapi— tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?" Mina kemudian mendekatkan dirinya ke arah Wonwoo, begitupun Wonwoo—menyesuaikan posisinya menjadi di bagian tengah, jaraknya dengan sang istri semakin menipis.

"Maksudku—membuka hatimu perlahan-lahan untukku..." Mendengar pernyataan Wonwoo, membuat Mina refleks mengulurkan tangannya, ia mengusap lembut rambut hitam Wonwoo yang cukup lebat.

Mina mengangguk— Wonwoo tersenyum.

Jarak mereka semakin dekat, kedua mata saling bertemu dan menatap. Mina memejamkan kedua matanya ketika wajah Wonwoo mulai mendekat kearahnya.

Seakan mengerti istrinya tengah gugup, Wonwoo menggenggam tangan Mina, ketika Mina memejamkan matanya, Wonwoo mulai mengecup bibir Mina dengan lembut, kecupan yang tidak memaksa—membuat ciuman yang tulus tanpa tuntutan.









🌸🌸


"Mina... Bantu aku."


"Tolong.... Mina, sakit sekali."


Mina terbangun, mimpinya sangat buruk. Sangat aneh.

Jeon Jungkook dengan luka memar, bersimbah darah, mengulurkan tangannya untuk meminta bantuan.



Bukankah seharusnya ia bermimpi indah? 



Karena Wonwoo telah memberikan kenangan yang manis, malam ini...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 08, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Confus ; Wonwoo x MinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang