Lukisan, Mayat, dan Biarawati?

4 0 0
                                    

"Darena, kau dan Jammy yang akan maju duluan masuk ke rumah si gadis. Chang, kau awasi gerak-gerik kami dari mobil dengan alat pelacak ini. Sedangkan aku dan Bucks akan mengalihkan perhatian para penjaga. Siap?" Edmond memberi instruksi dan aba-aba pada kami. Serempak kami berempat menjawab, "Siaaaaap!"

Rumah gadis ini cukup besar. Dengan halaman yang besar dan begitu banyak tanaman mawar Galica bertebaran. Sampai saat ini, aku tak tahu siapa sebenarnya gadis ini dan apa latar belakangnya. Tapi aku tak perlu pedulikan, toh sebentar lagi aku akan membawa hampir semua hartanya.

"Hei Darena, lihat betapa aneh koleksi gadis kaya ini!" Jammy menunjuk ke beberapa lukisan di salah satu ruangan tempat kami berada. Mungkin ini ruang koleksi pribadi, atau barang kali ini ruang kerja si gadis, entahlah, semua ruangan tampaknya mirip.

Di ruangan ini terpajang lukisan Dewi Kuan-yi yang ukurannya sangat besar, disampingnya terdapat lukisan berbagai macam jenis kuda di dunia yang dilukis dari berbagai sudut pandang yang berjejer dan mengapit lukisan Dewi Kuan-yi. Diseberang ruangan terdapat lukisan beberapa pemandangan seperti pesisir pantai, sebuah pemandangan kota metropolitan, kapal-kapal di laut, juga ada beberapa pahatan relief kuno.

Saku di celanaku bergetar tiba-tiba saja. Chang mengirim sinyal tanda bahaya ke alat pelacakku. Ku buka pesan itu dan kulihat di layar ada tanda titik merah yang berarti akan ada orang yang sebentar lagi menuju ke tempat aku dan Jammy berada. Jammy segera menarikku dan mencari tempat bersembunyi. Satu-satunya tempat yang terdekat dari kami yaitu bersembunyi di balik sebuah lemari berbentuk aneh, dan tepat ketika suara langkah kaki semakin dekat kami berdua sembunyi.

"Kau yakin mereka ada di tempat ini?" terdengar suara laki-laki yang mungkin masih berumur 30-an atau 40-an tahun. "Barangkali mereka sudah pergi bersembunyi ke tempat lain." Ujarnya lagi. Namun tak terdengar jawaban dari teman bicaranya. Mungkin dia sedang berbicara di telepon.

"Darena, aku tak tahan, bisakah kita keluar dan bersembunyi di tempat lain?" bisik Jammy. "Sshh... diamlah Jammy, misi ini tak mungkin berhasil bila kau tetap bertingkah seperti anak kecil!" bisikku parau mengingatkan Jameel. "Kau tak mencium sesuatu? Seperti bau busuk disini." Jammy nyaris berteriak. Ku endus penciumanku, di dekat tempat Jammy berdiri samar-samar tercium bau aneh. Bau apa ini? Seperti bau bangkai. "Jammy, barangkali waktu di halaman tadi kau menginjak sesuatu." Ujar ku.

Jammy tak menjawabku, lalu matanya mengarah ke bawah sambil mendekap mulutku. Saat mataku mengarah ke bawah, aku hampir berteriak. Untung saja Jammy mendekap mulutku. Tepat dimana Jammy berdiri, ada genangan darah yang sudah hampir mengering juga sebuah bangkai jari telunjuk yang kemungkinan besar dipotong secara paksa dan terjatuh disitu. Mataku dan Jammy saling pandang, menelan ludah, dan mengangguk. Rasanya perutku mual ingin mengatakannya, namun aku dan Jammy sama-sama merasa yakin bahwa di dalam lemari ada sesosok mayat yang di bunuh dengan cara tidak wajar dan disembunyikan pembunuhnya di dalamnya.

Aku mencoba mengintip ke tempat laki-laki itu berada. Sepertinya situasi sudah aman, karena tak ada lagi suaranya terdengar. Perlahan aku dan Jammy keluar dari tempat kami bersembunyi. Kemudian kami menarik nafas dalam-dalam menghirup udara segar dari jendela.

"Jammy, ayo kita buka lemari itu!" kataku. "Oh ayolah Darena, kita kan sudah tahu di dalamnya tersembunyi sesosok mayat, buat apa lagi kita memastikannya?" Jammy bergidik dan memohon. "Jammy, kita harus tahu mayat siapa itu. Lalu kita segera pergi mencari apa yang kita cari, setelahnya kita bergegas pergi."

Jammy menarik nafas dalam sekali lagi, lalu ia membantuku membuka lemari berbentuk aneh tersebut. Cukup berat menggeser pintunya, dan ketika kami membuka lemari itu, benar saja bececeran potongan-potongan tubuh mayat ke lantai. Potongan-potongan bangkai itu sudah membusuk dan bau. Mungkin sudah bermalam - malam atau berminggu-minggu di dalam lemari ini. Sungguh mengerikan cara si pembunuh memutilasi, si mayat di potong-potong beringas dan asal potong. Ku coba mencari bagian kepalanya di lantai, tak ada! Samar-samar kami mendengar suara langkah kaki kembali, aku dan Jammy lari ke ruangan lain. Sudah dipastikan, sebentar lagi keberadaan kami akan ketahuan, dan biarlah nasib yang bertindak menentukan.

Kami berada di dalam sebuah ruangan dengan cerobong asap dan kali ini banyak lukisan pria dan wanita atletis dengan berbagai pose yang menampilkan bentuk tubuh mereka yang ideal dan bugar. Ada satu lukisan pria tegap berotot kekar dengan pesan aneh yang berbunyi "Nikmatnya sesaat, menyesalnya sampai akhir hayat". Aku bingung, pemiliknya barang kali sudah tak waras. Siapa sebenarnya gadis ini? Tak sabar aku ingin segera melihat wajahnya dan mencari tahu siapa dia.

"Jammy, ayo kita bergerak ke ruangan lain." Ajakku pada Jammy. "Jammy tak menjawab. Ia kemudian menunjuk ke sebuah ruang kaca di sudut ruangan ini. Aku mengikuti arah pandang Jammy, dalam ruang kaca tersebut, ada kurang lebih 8 orang berseragam jas mati di dalamnya. Ya Tuhan, berarti rumah ini sudah terjadi sesuatu dalam 1-2 hari ini. Aku dan Jammy mengurungkan niat kami melanjutkan misi ini. Ada sesuatu tak beres disini, dan kami harus melapor pada Edmond dan yang lainnya.

Jammy menahanku seraya berkata, "Darena, lebih baik kita keluar dari rumah ini lewat jendela saja. Aku tak yakin kita akan selamat bila keluar mengendap-endap melewati semua ruangan." Ya ide Jammy masuk akal. Maka kami keluarkan tali pengaman dan kemudian dengan hati-hati kami keluar dari jendela dan merayap di sepanjang dinding. Cukup tinggi pula dari lantai kami berada, lantai 4, ke lantai bawah.

Tiba-tiba saja, sebuah jendela di depan kami terbuka, aku dan Jammy pasrah. Seorang wanita muda berpakaian biarawati menodongkan pistol ke kepala Jammy. "Ikuti perintahku, atau bocah negro ini mati!" ujarnya.

Kemudian wanita itu menyuruh kami masuk ke dalam ruangan, dan menyuruh kami untuk mengangkat tangan kami tinggi-tinggi. Lalu katanya lagi, "Siapa kalian berdua ini? Kalian bagian dari komplotan, huh?" dengusnya. "Suster, kau seorang biarawati, kau tak pantas mengancam dan menodongkan pistol itu pada kami!" teriak Jammy.

"Hei, diamlah bodoh! Aku bukan seorang biarawati sungguhan! Sekarang jawab aku, kalian ini bagian dari komplotan atau bukan?" ujarnya. "Aku sudah mengawasi gerak-gerik kalian sejak kalian masuk dalam rumah ini. Sepertinya kalian bagian dari komplotan lain ya? Dan kalau kalian bisa bekerja sama denganku, aku pastikan kalian bisa selamat dari tempat ini." Ujarnya lagi. "Mengapa kau ajak kami bekerja sama? Dan siapa kau?" ujarku.

"Seorang lelaki tua beserta kelompoknya yang bengis datang dan menyerbu rumah ini lima hari yang lalu, gadis pemilik rumah ini mengabari aku lewat sebuah surat. Kini si gadis menghilang entah kemana, semua penjaga kami yang setia mati di ruang kaca. Sedangkan penjaga lain adalah suruhan si tua bangka bengis itu yang menyamar menjadi penjaga kami. Nah, sekarang gantian aku yang menyamar, aku menyamar menjadi biarawati disini berkat usulan seorang detektif sewaan gadis pemilik rumah. Sembari menunggu kedatangannya, aku sembari mengawasi gerak-gerik di dalam rumah ini." ceritanya.

"Lalu mayat yang termutilasi itu, mayat siapa?" tanya Jammy penasaran. "Itu mayat seorang lelaki rusia yang dua hari lalu mau merampok rumah ini pula. Kalau tak salah dia memiliki nama belakang 'von Suttonheim', dan sialnya anak buah von Suttonheim itu mati terbakar di tungku perapian besar." Ujar biarawati palsu itu.

"Lantas bagaimana kau mengawasi kami dan bagaimana pula penjahat itu tidak membunuhmu?" kataku. "Aku ambil hati mereka, dan aku katakan aku ingin hidup dan aku bisa memasakkan makanan untuk mereka sembari membantu mereka menemukan apa yang mereka cari. Aku mengawasi setiap sudut isi rumah ini dengan kamera rahasia, dan kau bisa mengawasinya dari TV di balik tembok itu!" Ujar nya sambil menunjuk sebuah tembok kumuh.

"Apa yang mereka cari sebenarnya?" Ujarku. "Mereka mencari si gadis yang memiliki lukisan di tubuhnya yang menunjuk pada sebuah peta harta karun." Ujar si biarawati.

*****

A Scary NightWhere stories live. Discover now