"Kita beneran jalan kaki?", tanya Lica memutuskan keheningan antar mereka berdua.
"Gue pikir lo bakal diem aja nyampe rumah", Devan menghentikan langkahnya. Sedetik setelah itu, ia melambaikan tangan ke arah angkutan umum yang sudah terlebih dahulu memperlambat kecepatannya.
"Naik ini aja Ca", Devan menarik tangan Lica dan menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu.
***
"Mah, kita mau kemana?", tanya anak perempuan berkucir kuda tersebut. Jalanan Jakarta terlihat tidak padat seperti pada umumnya. Lenggang, tanpa ada kendaraan yang berhimpitan.
"Nanti Ica bakal tau sendiri deh", balas perempuan paruh baya itu dengan senyuman hangat.
"Aah. Kalau gitu Ica mau pindah duduk disebelah supirnya saja. Biar bisa lihat ini mau kemana", Lica dengan lagak polosnya bersiap-siap melompati bagian kopling menuju kursi depan. Namun akhirnya, hal itu belum sempat terjadi.
***
"Ca, kita udah mau sam—", Devan tak melanjutkan kalimat nya begitu melihat kondisi Lica yang sudah berlinang air mata dengan tatapan kosong. Tanpa berpikir panjang, Devan langsung menyeka air mata Lica.
Melihat Devan melakukan hal itu, Lica tersenyum kecil. Sepuluh tahun lalu, bayangan itu tiba-tiba saja terbesit. Bayangan yang membuat luka lama itu terpaksa kembali.
"Pak kiri!"
Seusai supir angkot itu memberhentikan kendaraannya sesuai intruksi, Devan memberikan upah berupa selembar uang berwarna biru. "Kembalinya untuk bapak"
"Makasih ya mas. Hati-hati sama pacarnya" Devan membalasnya dengan anggukan dan senyuman sebelum ia terlebih dahulu menarik Lica untuk turun.
"Eh loh? Lo udah ada pacar baru? Kaga bilang-bilang lo ye sama gue, sombhonk amat!!"
Sebuah kalimat penyambutan yang cukup membuat Lica kebingungan. Ya.. sesuai perintah dari Devan tadi, kini Reyhan sudah berdiri tepat di depan rumah Devan sambil menatap mereka curiga.
"Kepo lo. Udah kita lanjut ke society caffe aja"
Tanpa ba-bi-bu, Devan langsung menaiki motor kesayangannya itu, dan mengintruksikan Reyhan untuk langsung pergi cabut.
"Lah pacar lo? Lo tinggalin di rumah lo?", Reyhan benar-benar curiga dengan tingkah laku sahabatnya ini. Baru pertama kali pacaran, udah main tinggal di rumahnya aja.
"Udah biarin", balas Devan dan tak lama setelah itu mereka sudah hilang dari peredaran Lica.
Tit tit!
Baru saja Lica akan menarik pintu gerbang. Tapi, hal ini digagalkan oleh hadirnya motor nmax berwarna abu-abu.
Sang pemilik motor dengan gagahnya melepas helm. Tanpa sepatah kata, kini mereka hanya berhadapan.
"Ngapain?"
"Kerkel. Lo lupa?"
"Tadi udah selesai kan?"
"Sebelum lo pelor"

KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa Kenanga
Teen FictionKetika lembaran masa lalu saling terikat dengan lembaran baru. Akankah semuanya bisa menyatu dalam sebuah buku? .. Selamat membaca, Semoga segala pesan tersampaikan💘