• TOTEBAG •

45 4 0
                                        

" semoga lekas membaik, Allah sang maha pemaaf. "


Gibran pulang membawa sebuah plastik berisi beberapa makanan yang sempat ia beli dijalan, dirumahnya sudah ada ayah, bunda juga adiknya yang sedang berkumpul di ruang keluarga dengan bincang-bincang santai. Gibran berjalan kearah sofa menghampiri yang sedang duduk-duduk, lalu menaruh bungkusan plastik dan duduk ketika telah menyalami semua nya.

Zaidah menganggukkan kepala nya sebagai tanda iya ke putra nya itu. Saidatu memperhatikan suami nya dan putra nya itu secara bergantian, lalu yafa pergi ke dapur untuk mengambil beberapa piring, dan disusul dengan saidatu untuk membantu putrinya itu, tak lama kemudian kedua perempuan itu datang dari arah dapur dengan membawa beberapa piring yang ia tumpuk jadi satu dan meletakkan nya diatas meja ruang tengah, kemudian dibuka satu persatu bungkus yang berada di plastik.

" ini yang biasa kan mas? " tanya yafa disela membuka bungkus kertas nasi itu.

Gibran menoleh lalu menganggukkan kepala nya sebagai tanda jawaban.

" abi dengar sahabat kamu mau menikah pekan ini? " tanya zaidah membuka topik baru sambil menunggu putri nya membuka tiap bungkusan.

Saidatu membantu putri nya, ia beralih ke dapur untuk mengambil beberapa gelas untuk mereka minum.

" iya bi, fadlu. " jawab nya sambil memperhatikan dua wanita yang sedang sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.

" kamu datang kan? Sempatkan lah buat sahabat mu sendiri gib, insya Allah abi juga akan datang. " sahutnya sambil mengambil remot televisi dan menayangkan sebuah ceramah, di dalam layar itu menampilkan Ustad Abdurrahman, memang dirumah kediaman zaidah ada sebuah televisi namun isi nya tak ada satu pun sinetron. Zaidah membeli barang elektronik itu bukan untuk melihat hal duniawi tetapi untuk menonton hiburan layaknya seorang muslimin, yaitu mendengar ceramah.

" insya Allah bi, fadlu juga udah wanti-wanti buat gibran datang. " balas nya sambil memainkan hidung nya dengan jari nya.

" iya, karna fadlu tau pas pernikahan siapa? Farhan ya kamu gak hadir disana " bahas nya sambil mengingat-ingat.

" waktu itu kan emang qadarullah bi, gibran gak datang " jawab nya sambil terkekeh pelan.

" iya gak papa, udah lewat juga, tapi yang ini harus datang diusahakan gib. " ucap zaidah dengan meyakinkan, sambil menyentuh pundaknya.

" iya bi siapp. " sambil mengacungkan jempolnya.

Yafa mulai membagikan sepiring kepada abang nya yang sedang duduk di sofa itu " ini bip " beri saidatu kepada zaidah. Dan yafa pun memberikan sepiring ketoprak untuk mas nya. " ini mas, " ujar nya menyodorkan piring ke arah gibran

Keluarga zaidah makan dengan hikmah sambil menonton sebuah siaran ceramah di layar televisi yang sengaja ditaruh diruang tamu itu, keluarga kecil itu makan dengan hening sampai menyelesaikan aktifitas nya itu.

Yafa membantu saidatu merapihkan bekas makanan, dan membawa segala piring kotor juga gelas ke dapur. Zaidah melihat istrinya dan putri nya itu sedang kearah dapur, zaidah ingin mengatakan sesuatu hal, ketika dirasa hanya mereka saja yang cukup tau. " kamu udah ada calon? " tanya zaidah membuka topik yang membuat gibran sedikit termenung.

Gibran tau kemana arah pembicaraan abi nya itu, namun dia menjawab nya dengan tenang. " belum bi, gibran belum ada kepikiran mencari " jawab nya dengan didahului deheman sebentar

Zaidah menoleh kearah putranya sambil memberikan senyum hangat, dia tau putranya sudah sangat dewasa dan cukup matang, apapun yang menjadi rencana nya zaidah akan setuju dengan gibran, ia tau bagaimana sikap putra nya ketika melakukan sesuatu.

RIGHT, YOU?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang