Sabtu, 11 april 2020

19 0 0
                                        

Sekarang pukul satu, semua orang terlelap kecuali aku.

Hey!
Bagaimana kabarmu? Semoga kau tak segundah aku yang kosong sebab tak sepucuk kabarpun berlabuh.
Ini bukan pertama kalinya kita begini, bertikai dan menutup komunikasi.
Ini juga bukan pertama kalinya aku kau buat seperti ini, hampa dan kesepian.

Ah, persetan dengan aku yang kesepian. Aku rela asalkan kau bahagia. Aku senang asal kau selalu baik-baik saja.

"Bergegaslah bangkit agar keadaan berkenan membaik. Sungguh, aku ingin kau baik-baik setiap detik".
Mungkin kau ingat kalimat itu, kalimat yang selalu kuucap setiap kalo kau ada di titik terlemah. Jangan lupakan. Meski aku tak lagi ada di sisimu, aku mohon jangan lupakan.

Disepertiga malam ini aku rindu. Tidak!, bukan dirimu, sungguh aku tak merindukan dirimu yang sekarang. Aku rindu dirimu yang dulu.

Kucing disini tadi siang beranak, aku memberinya makan. Ntah kenapa, setiap kali aku memberi makan kucing-kucing itu aku merasa kau ada disini, tersenyum dan memberi mereka makan BERSAMAKU.

Kau bilang kau bingung dengan dirimu yang sekarang. "lebih nyaman bersikap tertutup" katamu, lebih nyaman tak memasang fotoku disosial mediamu, lebih nyaman tak memamerkan namaku di dinding profile mu, lebih nyaman bersikap cuek kepada setiap orang, termasuk aku.

Aku menyukaimu, tapi bukan dirimu yang sekarang. Aku merindukanmu, amat merindukan kamu yang dulu.

Berkali-kali kita bertengkar hebat, sempat menyerah dan memilih berpisah. Aku bisa saja seperti kemarin-kemarin, meminta maaf dan mengajakmu berdamai, tapi bisakah setelah kulakukan itu semua kau kembali menjadi orang yang dulu ku kenal?.

Aku masih di sini, ditempat yang sama ketika pertama kali kau dan aku mengucap "I love you". Aku masih bertahan disini, di puing-puing kenangan saat rasa sayang tumbuh dan berbunga lebat.
Aku akan tetap disini, menunggu jawab dari setiap pertanyaan yang belum terjawab.

"Kenapa kau berubah?, masih adakah aku di hatimu?."

Jaga kesehatan, karena mungkin aku tak lagi bisa mengantarmu berobat jika kau sakit. Jaga pola makanmu, aku tak ingin kau sakit perut, karena aku mungkin tak akan lagi ada disampingmu ketika kau merengek kesakitan seperti dulu.
Tetaplah tumbuh menjadi mawar idaman, meski aku tak disampingmu, akan selalu ada kupu-kupu gagah yang menemanimu.

Sudah banyak yang kita lewatu bersama, jatuh bangun mempertahankan hubungan, susah payah meyakinkan perasaan.

Lakukan apapun yang membuatmu nyaman. Lakukan, meskipun itu harus menguburku. Aku bukannya tak memiliki hati, hanya saja hatiku benar-benar hancur saat ini.

Begitu banyak yang ingin kulakukan bersamamu. Begitu banyak yang ingin aku bagi denganmu. Tapi tidak dengan dirimu yang sekarang.

Apakah boleh kuanggap dirimu yang dulu telah mati? Hilang tergerus jaman, kalah melawan keadaan.

Aku tak tahu apa yang membuatmu berubah. Yang aku tahu, perubahanmu menbuatku amat terluka.

Maaf membuatmu merasa tak nyaman, terima kasih telah sempat menjadi inspirasi di setiap tulisan-tulisanku. Hidup harus terus berjalan, kau dengan hidupmu, dan aku dengan hidupku. Aku dengan jalanku, dan kau dengan jalanmu.
Anggap saja yang kemarin hanyalah mimpi indah yang tak akan pernah bisa terulang. Aku bahagia mengenalmu, aku senang pernah ada di sampingmu.

Terima kasih untuk semuanya, aku akan selalu merasa kehilangan dirimu yang dulu. Aku akan selalu merasa kehilangan kasih sayang yang pernah kau berikan dulu.

Tersenyumlah, meskipun itu senyum palsu penuh paksaan, tersenyumlah, aku sangat suka melihatmu tersenyum.

Soal luka ini. Tenang saja, akan kubawa jauh. Waktu pasti menyenbuhkannya.

Sajak 2 JariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang