Setapak lajur menjadi saksi
Air mata yang tak mau berhenti
Mengedor rasa yang selama ini mati
Tenggelam dalam serangkaian ilusi
Patah terbelah
Hanya duduk menyisakan resah
Yang kian hari kian bertambah
Tumpuk asa tanpa rasa bersalah
Jingga mengintip di kejauhan
Mencibir jemu penuh keluhan
Kenapa hati harus tertahan
Hanya untuk hancur tanpa pembelaan
Apakah semua ini layak?
Hingga hati mati tanpa berontak
Apakah ini sepadan?
Untuk tetap diam sebagai pecundang yang hanya bisa memberi senyuman
Pojok hati, 20 April 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Cinta & Luka
Poetrysekumpulan aksara yang mengores tentang cerita cinta dan air mata
