Tiba-tiba sebuah cahaya datang kepadaku. Seseorang berpostur tinggi berparas mengerikan dengan tubuh penuh tattoo sampai lengannya. Siapakah dia sebenarnya .
"Berhenti! Atau gue lapor kepala sekolah sekarang!!" cewek ini mengangancam pembuli itu dengan telepon genggamnya, dia mengambil video mereka untuk sebagai bukti.
"Emangnya Kami takut sama loe hah!" Ketiga pembuli itu menantangnya sambil menunjukan muka seramnya.
"Kalian itu bego ya? Mau gue kirim video ini ke KEPSEK?!"
"Yakin kalian udah siap dikeluarin dari sekolah ini?" cewek itu menantang balik mereka dengan sombongnya.
Lalu, pembuli itu pun merasa terancam dan mengurungkan niatnya untuk menghajarnya.
"Kalo bukan karena dia, kita abisin Loe!!, yuk kabur guys." dengan rasa kesalnya. Pembuli itu meludahi dan menendang anak yang dibulinya itu, lalu pergi meninggalkannya.
Setelah mereka menjauh, aku cuma bisa diam dibelakang cewek itu dengan perasaan gugup dan bersalah.
"Ya ampun kamu ga apa apa dik? Ayo saya bawa kamu ke UKS sekarang," ucap cewek itu sambil merangkul anak laki laki yang dibulinya itu.
"Terima kasih kak, sudah mau menolongku" lalu adik itu tersenyum kepadanya.
"HEH..BENCONG! BANTUIN!!" dia membentak ku untuk membantu merangkulnya, karena bobot anak tersebut dua kali lebih besar dari badannya.
Tiba tiba aku memegang perutku dengan refleks, aku lupa perutku mules sedari tadi.
"Maaf, aku harus buru bur..." langsung aku lari secepat mungkin meninggalkannya menuju toilet tanpa pikir panjang.
Aku tidak tahan dengan sakit perut ini, mungkin satu detik lagi tai nan mungil ini akan muncul dari bokongku kalau tidak cepat ke toilet.
"DASAR BENCONG KAMPRET!!!" cewek itu salah paham kepada Evast karena berusaha lari untuk menolongnya.
Setelah melaksanakan ritualnya, Evast pergi dan mencari cewek tersebut di halaman sekolah, kantin dan UKS. Namun tidak kunjung ketemu."Duh kayaknya pulang sekolah aku harus minta maaf ke dia deh." Ucapku, karena mungkin saja cewek itu salah paham.
bel kelas berbunyi, tandanya masuk pelajaran kembali.
Aku terbengong selama pelajaran, membayangkan wajah cewek itu. Rambutnya pendek, tubuhnya wangi, badannya mungil berisi dan tingginya sepundak ku.
"Kira kira siapa ya namanya?" gumam kecil mulutku...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Seperti inilah wajah cewek itu di bayangan Evast)
BLETAKK!!! Guruku memukul penghapus spidol itu kepadaku tiba tiba, sampai satu kelas menertawakanku, ada pula siswa yang berteriak untuk meramaikan suasana.
"Mikirin apa kamu Vas?" tanya guruku
"Eh Ibu,...eng itu.. mikirin jodoh Ibu yang ga dateng dateng buk,"