"Sagara."
Sagara melepas earphone nya, lalu menoleh kearah sumber suara.
"Dipanggil Pak Taren." Kata Jenan.
Sagara mengangguk, lalu dia memasukkan ponselnya kedalam saku dan berdiri kemudian menuju ruangan Pak Taren.
Sebenarnya Sagara sedang malas sekali, tapi apa daya, dia tidak mungkin membantah apa lagi pura-pura tuli, bisa-bisa diturunkan dari jabatan dia. Padahal kalau ada perlu kan bisa sama Jenan juga, dia wakil ketua osis, tidak harus Sagara kan?
Yah Sagara itu konsekuensi dari pilihanmu.
Cklek.
"Misi pak, bapak manggil saya?" Tanya Sagara sopan.
Pak Taren mengangguk, "tolong carikan data siswa yang kurang mampu, berkas nya ada didalam." Katanya.
Sagara mengangguk kemudian melangkah masuk kedalam ruangan yang ada didalam ruangan itu, diambang pintu dia mendengar Pak Taren mengomel pada siswi yang ada didepannya.
Sagara menoleh, mendapati Pak Taren yang sedang marah-marah. Lalu siswi didepannya santai saja, dia bahkan melipat tanganya didepan dada, lalu matanya melihat keluar jendela, dia juga mengetuk-ngetuk kakinya dilantai.
Siapa lagi kalau bukan,
Sahara?
Sagara tidak pernah kenal Sahara sebelumnya, sungguh, pertama kalinya adalah tadi malam.
Iya, semalam.
"Kamu denger nggak sih bapak ngomong?!" Bentak Pak Taren.
"Ya dengerlah pak, saya kan punya kuping, nih!" Sahara menunjuk telinganya dengan wajah nyolot.
Entah mengapa, Sagara malah terkekeh melihat itu.
"Sahara, mana ada murid datang sekolah terlambat sampai jam sepuluh?!"
"Ada pak, saya nih." Jawab Sahara.
Taren menghela nafas.
"Kamu ini kenapa sih?! Dari bulan lalu juga orang tua dipanggil tapi nggak ada yang dateng!"
Sahara memutar bola matanya malas, "bapak budek ya? Saya bilang kan saya nggak punya orang tua!" Bentak Sahara.
"Saya bilang kan kalau tidak ada orang tua, bisa wali, atau yang tinggal sama kamu sekarang, kalau tidak ada juga, ya yang membiayai hidup kamu sekarang." Kata Pak Taeil.
"Saya ini hidup sendiri pak? Bagian mana yang bapak nggak ngerti? Saya biayain hidup saya sendiri!" Kata Sahara gemas.
"Terus orang tua kamu kemana Sahara? Meninggal nggak ada beritanya, kamu malah bilang nggak tau mereka masih hidup atau tidak. Kan nggak mungkin." Cerca Pak Taeil.
Sahara menggertakan gigi, "bapak masih nggak ngerti? Saya beneran nggak tau gimana dua tua bangka itu! Saya sendirian! Saya nggak bohong! Ngeyel banget sih jadi orang tua!" Bentaknya.
"Sama yang lebih tua yang sopan!" Bentak Pak Taren.
"Bapak nih ngajak berantem dari tadi. Udah dibilang nggak tau juga. Kalo saya nggak punya siapa-siapa terus saya harus panggil siapa? Masa nyuruh orang pura-pura jadi orang tua saya kan lebih nggak mungkin. Jangan goblok deh, pak."
"Astaghfirullah." Taren mengelus dada.
Dadanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
sagara dan sahara
RomanceTentang Sagara dan Sahara dengan segala perbedaan yang membuat mereka semakin jauh namun takdir terus membuat mereka berdampingan. ©jevteroyals
