Seorang remaja laki-laki terlihat sedang berdiri di depan sebuah rumah besar dan megah milik seorang gadis yang baru saja dia kenal.
Sagara berdiri di samping motor nya sambil terus menatap ke arah pintu rumah tersebut, menunggu pemilik nya muncul dari sana.
Seminggu lalu adalah terakhir kali dia bertemu dengan Sahara, setelah itu gadis perempuan yang memiliki rambut hitam panjang itu tidak pernah terlihat di sekolah.
Sagara tiba-tiba tersenyum melihat pintu rumah itu terbuka, menunggu Sahara keluar dari sana.
Tapi kemudian senyum nya surut, yang keluar dari sana bukan Sahara, tapi seorang laki-laki berpenampilan rapi, dengan tinggi sebelas dua belas dengan dirinya. Laki-laki yang dia duga sudah berusia 30 tahun atau lebih itu memiliki wajah sempurna, walau dari kejauhan.
Sagara sempat minder beberapa detik menatap laki-laki tampan itu, walau dia laki-laki dia mengakui laki-laki disana mempunyai tampang di atas rata-ratta.
Kemudian Sagara menebak-nebak siapa laki-laki itu, yang muncul di kepala nya hanya satu nama, Devano.
Meskipun dia tidak tahu Devano itu siapa, yang jelas Sahara benci dengan Devano. Kira-kira itu yang dia tangkap setelah tangan Sahara menerjang pipi nya seminggu lalu.
Setelah Devano pergi dari sana dengan mobil nya, Sagara memutuskan menerobos masuk dengan memanjat pagar lalu masuk ke dalam rumah yang Maha luas tersebut.
Sepi, dingin, walau tidak terlalu gelap.
Sagara memutuskan berkeliling lantai pertama di rumah itu, rumah itu kelewat luas untuk dihuni berdua apalagi sendiri.
Mulai dari ruang tamu, dapur, ruang santai, meja makan, dan ruangan yang Sagara tak tahu fungsi nya apa, semua nya memiliki barang mewah. Tapi suasana disana membuat hati nya merasa janggal. Sebab, rumah megah itu sangat tertutup, tak satu pun jendela nya terbuka, hanya ada beberapa ac menyala dan gelap tanpa penerangan lampu.
Sunyi, tidak ada suara bising kecuali suara kulkas dan deru napas Sagara sendiri.
Siapa pun yang masuk ke sana untuk pertama kali pasti merasakan perubahan suasana hati yang membuat tak nyaman. Meskipun mewah tapi terlihat menyimpan banyak luka.
Sagara memutuskan untuk pergi ke lantai atas, dia hanya mendengar suara kaki nya menapaki satu persatu anak tangga dengan halus, tidak ada suara lain.
Sampai di lantai kedua, disana ada ruang tengah yang sangat luas dengan satu jendela terbuka, setidak nya ada sedikit sinar cahaya matahari yang menerobos masuk menerangi rumah itu.
Sagara mengedarkan pandangan nya ke segala arah, dari sekian banyak pintu dan lorong yang ada disana, dimana kah Sahara berada?
Prang!!
"AAAAAAARRRRGHHHHH! BUNUH AJA GUE DEVANO! BUNUH!"
Sagara terkejut bukan main, mata nya membulat sempurna menatap satu lorong yang mungkin asal sumber suara guci pecah, dan teriakan Sahara.
Tanpa pikir panjang, Sagara mempercepat langkah nya menuju lorong tersebut. Samar samar dia mendengar isak tangis Sahara sari dalam ruangan di lorong tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
sagara dan sahara
RomanceTentang Sagara dan Sahara dengan segala perbedaan yang membuat mereka semakin jauh namun takdir terus membuat mereka berdampingan. ©jevteroyals
