Seorang gadis tengah berdiri menghadap cermin besar yang ada dikamar nya. Wajah nya tampak kesal menatap bayangan nya sendiri yang ada didalam cermin.
"Kenapa gua jadi nurut sama dia sih?" Monolognya.
Sekarang dia memakai seragam sekolah yang baru, seragam itu nampak cocok-cocok saja dengannya tapi entah kenapa rasanya dia menjadi manusia paling culun sedunia karena seragam nya.
Tidak seperti seragam yang kemarin-kemarin, kali ini lebih panjang dan tertutup, rapi dengan atribut lengkap.
Hanya dengan memakai seragam seperti ini, rasanya dia jadi murid paling pandai sedunia.
Ah tapi tadi dia merasa culun, mungkin si culun yang pandai.
"Ganti aja kali ya, lagian siapa dia nyuruh-nyuruh gua." Gerutunya.
Sahara membuka lemari pakaian khusus seragam nya, lalu mengambil satu set seragam yang lama. Dia tersenyum, lalu mulai mengganti pakaiannya.
"Nah ini baru gua." Katanya lalu bergegas ke sekolah
Ridin and rollin oh baby~
Sahara langsung memeriksa ponsel nya yang baru saja berdering. Lalu setelah melihat nama penelpon, dia mendecak.
"Sahara."
"To the point aja."
"Minggu depan saya pulang."
"Urusannya sama gua?"
"Sahara-"
"Apa? Mau pulang ke rumah lo yang banyak itu? Yaudah sih nggak peduli, apa lo mau pamer?"
"Saya pulang ke rumah kita."
"Kita? Jijik banget."
"Sahara, bagaimana pun juga, kamu tetap adik saya."
"Lo tuh ngomong kayak google aja, oh iya, sorry gua nggak punya kakak. Apalagi yang kayak lo."
"Terus kamu mau saya anggap apa?"
"Nggak ada. Kita nggak punya hubungan darah kalo lo lupa."
"Saya tau-"
"Gua mau sekolah."
Tut.
Sahara mumutus sambungan nya sepihak. Mood nya jadi benar-benar hancur pagi ini.
Sekarang masih jam 06.05 tapi Sahara sudah siap. Tidak seperti biasanya, datang selalu terlambat hingga berakhir diomeli Pak Taren. Kemaren dia tidur seharian, hingga berakhir bangun kepagian dan tidak bisa tidur lagi, jadi Sahara memilih bersiap pergi ke sekolah.
Meskipun mood nya hancur karena panggilan tadi- jangankan berbicara dengannya, melihat nama nya tertera dilayar ponsel saja sudah membuat Sahara kesal.
Sahara keluar dari rumah mewahnya yang kelewat besar untuk ditinggalinya seorang diri, lalu masuk kedalam salah satu mobil dari 15 mobil nya, dia pergi ke sekolah pagi itu dengan kecepatan diatas rata-rata.
Tenang, tidak terjadi apa-apa pada Sahara, menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata untuk Sahara itu sudah biasa, dalam keadaan mabuk juga dia masih bisa menyetir dengan baik.
Buktinya sekarang Sahara sudah sampai dengan selamat di sekolah.
Sahara memasuki koridor sekolah yang masih sepi juga gelap dengan jalan super santai. Sembari menyematkan earphone ketelinganya, lalu mulai menyetel lagu-lagu random yang ada diponselnya.
"Loh Sahara?"
Sahara mendadak berhenti, menghela nafas pelan lalu menoleh kebelakang, mendapati Pak Taren yang sepertinya baru saja datang sambil menenteng tas laptop ditangan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
sagara dan sahara
RomanceTentang Sagara dan Sahara dengan segala perbedaan yang membuat mereka semakin jauh namun takdir terus membuat mereka berdampingan. ©jevteroyals
