DUA

20 15 4
                                    

Nara kini berada di ruang tengah rumahnya. Nara duduk seraya memainkan ponselnya. Dia membuka aplikasi WhatsApp, membuka salah satu kontak, bernama..

Alvin😊

"hai Alvin. Maaf ganggu waktunya."
18.42 pm.

"boleh minta no nya Arga?"
18.42 pm.

"hai. Boleh sebentar."
8

.44 pm.

________________________________
|                       Arga.                        |
_________________________________
|Kirim pesan|Tambah kontak|
________________________________
18.44 pm.

"makasih Alvin😄."
18.44 pm.

"okay sm-sm."
18.45 pm.

Read

Nara segera menambahkan no Arga ke kontak miliknya. Lalu mengirimkan pesan, yang mungkin tak penting bagi Arga.

Arga🖤

"hai Arga."
18.46 pm.

"gue Nara, saveback ya."
18.46

Nara menyimpan handphone nya, menunggu notifikasi dari sang pujaan hati. Setelah beberapa menit, Nara tak kunjung mendapat notif dari Arga.

Read.

"Arga?"
19.02 pm.

"Arga?"
19.17 pm.

"Arga..."
19.39 pm.

Arga tak kunjung membalas pesan Nara. Akhirnya Nara pun menyerah dan beranjak menuju kamarnya.

Nara merebahkan tubuh mungilnya di kasur king size nya. Dia menatap langit-langit dan berdoa semoga Arga mampu luluh olehnya, Nara akan menunggu itu, sampai kapanpun. Lama-kelamaan Nara mulai terlelap dan menuju alam mimpinya.

***

Pagi yang cerah, Nara tersenyum di depan cermin kamarnya. Dia menguncir rambutnya, dan memberikan sedikit polesan bedak. Tak lupa memakai kacamata nya.

"Mama.. Papa.. Nara berangkat dulu ya." pamit Nara yang sedang menuruni satu persatu anak tangga.

"gak sarapan dulu Ra?" tanya Nita-Mama Nara.

"enggak Ma, bawa bekal aja." balas Nara.

Setelah pamit dan cium tangan, Nara langsung keluar rumah memanggil supir pribadi keluarga nya, Pak Maman.

"Pak, kita langsung berangkat ya."

"iya non, siap!"

20 menit berlalu..

Nara ada di depan kelas XII MIPA 2. Kelas masih sepi, Nara masuk dan mengeluarkan sebatang coklat yang sudah ditempeli note dari tasnya. Nara menyimpannya di meja jajaran ke-tiga. Meja Arga.

Ketika Nara berbalik, dia tersentak. Di depannya berdiri gadis yang tak terlalu dikenalnya.

"l.lo..lo siapa?" tanya Nara merasa sedikit takut.

"gue Gladis, Gladista Isella. Gue cuman mau ngomong, lo jangan pernah lagi deketin Alvin! Dia itu gebetan gue, tau gak?!" bentak Gladis dengan suara tinggi seraya menjambak rambut Nara kuat.

Nara meringis kesakitan "awwwh le..lepasin hiks..hiks." kata Nara terisak.

"gue gak akan lepasin tangan gue dari rambut lo sebelum lo bersumpah gak bakal deket lagi sama Alvin. Termasuk Arga dan Dennis!!!" kata Gladis semakin memperkuat jambakannya.

"ta..hiks. tapi..hiks..hiks..tapikan--"

PLAKKK!!!

Pipi Nara memerah mendapat tamparan dari Gladis, ia hanya bisa diam dan meringis kesakitan.

"udah drama nya?" ucapan seseorang diambang pintu dengan suara khasnya.

Gladis dan Nara refleks menoleh.

"A.. A.. Arga?" ucap Gladis ketakutan dan melepaskan jambakannya dari rambut Nara.

"pergi lo." kata Arga pada Gladis. Gladis hanya terdiam, dia sangat amat takut terhadap Arga.

"pergi!!!" Arga mencapai puncak emosinya.

Gladis yang melihat Arga mencapai puncak emosinya pun langsung berlari keluar dari ruang kelas itu.

Entah mengapa, Arga merasa tak rela Nara diperlakukan tak manusiawi seperti tadi. Padahal dirinya dikenal tak pernah peduli, malah dianggap tak mempunyai hati nurani.

Nara melihat orang yang ada di depannya. Dia benar-benar tak tahu harus bicara apa. 'apa ini mimpi?' batin Nara.

'gue rela deh di jambak terus kalau dibelain sm Arga.' batin Nara.

"m.ma..makasih." ucap Nara lalu berlari pergi menjauh dari tempat itu.

Nara berlari dengan rambut yang masih acak-acakan. Dia benar-benar malu dihadapan Arga. Dia terlihat seperti gadis yang lemah. Tapi, dia juga sangat bahagia. Tak menyangka Arga akan membantunya.

Nara duduk di bangkunya dan merapikan rambutnya. Sekarang pukul 07.00 waktu jam pelajaran di mulai..

Bu Mira masuk ke kelas yang di tempati Nara. Dia memulai pelajarannya, ketika sedang menjelaskan..

Tok!! Tok!! Tok!!

Semua orang menatap ke arah pintu. Lalu orang yang mengetuk pun membuka pintu.

"maaf mengganggu waktunya." ucap Bu Zeha.

"gak apa-apa bu, ada apa ya?" tanya Bu Mira.

"ini ada sisiwi baru." ucapnya.

"oh.. Silahkan masuk."

Gadis itu pun masuk ke kelas. Kaum adam serentak melongo menatap wajahnya. Tak bisa di pungkiri, dia cantik, sangat cantik.

"silahkan perkenalkan namamu," ucap Bu Mira.

"Hallo. Namaku Azwa Qwenizia. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik." ucap Azwa memperkenalkan dirinya seraya tersenyum manis yang membuat hati kaum adam luluh seketika.

•Bersambung..

"Dia tidak hebat, bahkan biasa saja. Tapi dia bisa membuatku bahagia, meski dengan hal sederhana."

-----------------------------------------------------------

Hai readers!❤

Happy reading..
Vote+komen😉
Terimakasih❤

Word That Never BreakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang