"Hei, kau lihat tadi? Jeno menangkap adek tadi mesra banget, HAHAHA!" Renjun tertawa kencang sepanjang trotoar. Jeno hanya bisa menahan emosi.
Belum lagi Dejun yang juga ikut-ikutan godain Jeno. Sesekali dua curut itu berhenti sejenak dan bertumpu pada tembok buat selesaiin ketawa mereka. Renjun sesek napas ngetawain kejadian tadi, perutnya keram. Dejun narik bibirnya lebar banget sampai ototnya kaku. Demi apa, harusnya mereka masukin Snapgram.
Jadi tadi, tuh, Jeno bareng Renjun dan Dejun lagi naik bus buat ke tempat les. Berhubung mereka kan sudah kelas 12.
Jeno kenal betul dengan supir bus yang ia tumpangi hampir setiap hari. Antara memang supirnya yang enggak sabar sampai halte atau busnya yang kalau goyang sedikit bisa membuatmu terpental.
Dramanya dimulai saat seorang anak yang sepertinya adik kelas Jeno, anak itu bergelayutan pada tiang bus.
Tragisnya bus ikutan ngerem mendadak sampai anak itu hampir terpental dan karena Jeno baik hati dan tidak sombong, Jeno nangkep anak tadi. Jeno nahan punggungnya pakai kedua tangan. Jarak wajah mereka juga bersisa 10 senti. Napas kokoa-mint Jeno beradu dengan cotton-candy-lemon.
No offense, tapi anak tadi manis banget. Matanya yang bergetar karena kebingungan, wajahnya yang panik. Badannya mungil banget. Berat sedikit tapi kerasa pas di dekapan Jeno. Jujur, Jeno ingin meluk anak tadi saking imutnya.
"Anjrit, anak orang gemes banget, bego!" umpat Jeno dalam hati.
Se-brutalnya Jeno kalau nyipet pulpen, jas lab, dan segala alat tulis; hatinya enggak bisa dikontrol sekarang. Beneran, deh. Enggak nahan.
Bukan berarti Jeno suka, ya. Jeno cuman kengiang-ngiang di kepala. Lagian, gemes banget kayak bocah lima tahun.
Anak tadi langsung berdiri tegap, pegangan lagi sama tiang. Badannya jadi kaku karena shock ngeliat orang ganteng nangkep dia. Selain itu, karena orang itu adalah suspect pencuri pulpennya waktu di perpustakaan tadi. Anak tadi turun dari bus lebih dahulu, salting, kupingnya sampai merah kayak kepiting rebus.
"Udah kayak malaikat kamu, Jen," gurau Renjun.
"Malaikat dari mana, Jun? Nyipet melulu kerjaannya," sela Dejun. Renjun dan Dejun menggelengkan kepalanya.
Jeno ini punya kebiasaan aneh. Dia senang mencuri—halusnya mengambil—barang orang lain lalu digunakan selama sehari atau dua hari. Sehabis itu, barang yang Jeno curi akan dikembalikan ke lemari "Lost & Found" sekolah. Lemari yang menyimpan barang-barangmu yang tertinggal di sekolah.
Bagi Jeno, mencuri itu bukan hal yang mendebarkan. Dia menyebutnya sebagai meminjam. Jangan mau punya teman kayak Jeno. Tapi karena ganteng, setidaknya nambah satu poin.
Kriminal, bisa dibilang seperti itu. Jeno enggak miskin sampai mencuri barang. Jeno juga enggak mencuri dompet atau uang, mostly alat tulis seperti pulpen. Lagi pula, barang-barang itu juga tergeletak sembarangan.
Orang pertama yang sadar akan kelakuan Jeno itu Dejun. Gerak-gerik Jeno kalau pulang sekolah kalau sudah sepi. Masuk ke salah satu kelas. Tiba-tiba kantongnya sudah terisi pulpen dan penggaris. Bersiul santai seperti enggak punya dosa. Di kantin juga begitu. Kotak makan pun ia curi, botol minum. Padahal, kan, jorok. Pokoknya di mana aja, kapan aja, deh! Asal masih di sekolah.
Renjun dan Dejun memanggil Jeno sebagai Kriminal Lee. Yeah, semoga panggilan ini enggak benar-benar terjadi.
Kalau boleh Dejun lapor ke mama Jeno biar dibawa ke psikiater.
"Hari ini dapet apa, Jeno-Kriminal-Lee?"
"Pulpen mahal. Ketemu di koridor, aku ambil aja. Sekalian pakai buat remedial Bahasa Inggris, alhasil tulisanku jadi bagus banget." Jeno merogoh saku rompinya dan menunjukan pulpen yang baru ia cipet tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost & Found
FanfictionBerawal dari barang-barang milik Chenle Zhong yang hilang tidak jelas; Berujung si tersangka, Lee Jeno menemukan sisi hati miliknya. Start: 8 Mei 2020 End: - miracleinsunshine present.
