Yang terpenting adalah selalu memiliki harapan, sekecil apapun itu. Bahkan ketika ia tak lebih besar dari keyakinan mu. Harapan itu setidak nya membuat mu masih tetap hidup.
📍
Tuhan! Sama seperti 21 tahun yang lalu. Aku mendatangi mu dan meminta hal yang sama, kali ini buka mata, lihat aku dan kabulkan mauku. Sapui diriku, hilangkankan takut ku bantu aku menjalani sisa hidup yang lebih baik. Jaga malam ku, tunggu hingga aku membuka mata dipagi hari, terangi gelap ku. Bimbing aku.
Dan-
Dan untuk mereka. Lakukan hal yang sama pada mereka. Pada dia yang melahirkan ku. Pada Mama. Pada dia yang pernah memeluk ku. Papa.
Kuharap, aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan kondisi terburuk dimana aku yang menjadi penyebab nya.
Permohonan panjang itu mungkin tak terdengar siapa-siapa kecuali Tuhan. Hanya gema didalam hati Viona yang mengerti. Dalam ruang gedung yang begitu luas, disepanjang bangku gereja yang terususun rapi. Viona ada dibagian tangah.
Viona perlahan membuka mata, menoleh untuk mendapati kue ber-lilin angka 26 menyala dengan api kecil. Viona tersenyum pada pria yang memegangi kue itu. Zio.
Sekali tiup lilin itu padam. Viona makin tersenyum lebar.
"Happy birthday. Wish you forever happy and enjoy life."
"Aamiin. Thank's to be here"
Zio memegang kue disatu tangan, tangan yang bebas mengelus puncak kepala Viona. Untuk kedua kali nya dia merayakan ulang tahun gadis itu, begitu sederhana. Hanya menemaninya duduk digereja yang sepi dengan kue ditangannya. Tapi beruntung nya, disini dia bisa melihat sosok Viona yang lain.
Tabah.
Mungkin itu yang menggambarkan Viona dimata Zio setiap kali pria itu menelisik lebih jauh tentang Viona.
Melihat kejadian mengerikan dimasa kecil, dituduh lalu dibuang. Hingga semua yang gadis itu alami membuatnya ketakutan dan hidupnya hanya berputar disatu bayangan, semua yang Viona alami menjadi musuh malam nya. Mungkin Zio juga tak akan mampu ada diposisi itu.
"Ciee makin tua."
"tuaan mana, 29 tahun?"
Zio berdecak. Paling malas jika menyangkut umur nya sendiri. Sebelum Viona makin meledeknya, Zio memotong sedikit kue dan menyuapkannya pada Viona.
"Hmm.. Enak, tapi terlalu banyak gula di cream nya." kata Viona setelah menelan kue dimulutnya
"Ck. Dasar Chef. Masih aja protes"
"Saya gak protes, dok. Tapi emang-"
"Iya iya."
Viona menghela napas.
"omong-omong, saya gak dapat hadiah, dok?"
Zio diam. Celingukan mencari alasan yang baik dan benar.
"itu. Aaa-"
"Gak ada lagi? Tahun lalu juga!"
Itu benar. Bahkan tahun lalu pun Zio hanya datang dengan kue, hadiah nya selalu ia lupa beli. Mungkin karna ketika seseorang ulang tahun, kue adalah yang paling meng-identik.
"Kamu mau apa? Kita bisa pergi dan membeli nya."
Viona menimang sesaat.
"Pil tidur?"
"Viona!!"
"hahaha. Saya mau snikers"
"Hanya itu?"
Viona mengangguk. Zio tidak heran, selain cinta memasak Viona juga suka mengoleksi banyak sepatu. Entah sudah berapa banyak yang ia punya tapi dia masih ingin menambah koleksinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
All Of Me (SELESAI)
RomanceDID. Dissociative Identity Disorder Mereka banyak sekali bilang tentang ini dan itu mengenai gangguan ini, dari banyaknya pendefinisian yang ada, Viona hanya ingin menceritakan sedikit tentang yang dialaminya sendiri. Tentang dirinya yang bukan hany...
