Matahari sudah mulai menampakan dirinya setelah semalaman berkelana pergi ke Negeri orang. Semua orang mulai bangun dari tidurnya untuk kembali memulai aktivitas mereka masing – masing.
Suara ketukan pintu terdengar dari kamar Alvino
“Vino bangun sayang udah siang” panggil sang mama namun tak mendapat jawaban dari sang empunya kamar. Meira mengetuk pintu kamar Alvino lagi. Tapi tiba – tiba saja sang empunya kamar membuka pintu dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
“Udah bangun kok mah” balas Alvino sambil menunjukkan cengiran kudanya.
“Tumben udah rapih biasanya dibanguninnya aja susah banget”
“Ada Misi nih mah”
“Hah? Misi? Misi apaan?” tanya Meira bingung
“Misi mencarikan Mama calon mantu”
“Hah serius? Cepetan bawa kesini dong Mama mau ketemu” jawab Meira antusias
“Sabar dong Mah, do’ain makanya biar cepet nempel. Soalnya yang ini susah banget dikejarnya lari – larian”
“Kamu mengejar Cewek apa ngejar Kucing?” tanya Mamanya bercanda
“Ceweklah mah masa Kucing, Mama mau punya mantu Kucing?”
“Ya enggaklah. Tenang aja mama pasti do’in kamu kok. Yaudah cepet turun sarapan terus berangkat Sekolah nanti kalo kelamaan calon mantu mamah dimakan Kucing lagi” balas Meira
Alvino yang mendengar balasan sang Mama hanya terkekeh geli, Mamanya ini memang ada – ada saja.
Setelah itu mereka langsung pergi ke dapur untuk sarapan, di meja makan sudah ada Mona yang sedang duduk manis.
Alvino turun tangga sambil sedikit berlari menuju dapur, sesampainya di dapur Alvino langsung menghampiri Mona lalu mengecup pipi Mona sekilas.
“Bang Vinooo! Kebiasaan!” teriak Mona pada Alvino yang sudah duduk ditempatnya.
“Ada angin apa bang Vino jam segini udah bangun, biasanya juga masih merajut mimpi diatas kasur” tanya Mona
“Mau nyariin kamu kakak ipar?”
“hah? Kakak ipar? Yang kemarin difoto?” tanya Mona penasaran
Alvino hanya mengangguk menjawab pertanyaan adiknya. Tak lama Meira bergabung dengan mereka dan mereka sarapan bersama.
**
Pukul 06.05, koridor SMA Gemilang terlihat ramai oleh para siswa Gemilang yang baru saja datang. Termasuk Keisya Aaron Nelson ia baru saja memasuki gerbang SMA Gemilang, ia berjalan sedikit terburu – buru pasalnya kedua sahabatnya itu mengirimkan pesan padanya jika mereka ingin meminta diajari PR yang belum mereka kerjakan.
Bohong saja mereka minta diajarkan, paling mereka hanya ingin mencontek pekerjaan Keisya dan berkata “liat aja ya Sya udah kepepet sebentar lagi bel” itu yang mereka katakan untuk membujuk Keisya agar memberikan mereka contekan.
“Selamat pagi Keisya” ucap seseorang dengan senyum yang merekah berusaha menyamai langkah Keisya dikoridor.
Keisya yang mendapat sapaan langsung menengok ke sumber suara memastikan siapa yang sudah mengucapkan selamat pagi padanya, ternyata Alvino pria yang kemarin menabraknya. Setelah melihat siapa yang memanggilnya ia hanya membuang muka dan mempercepat langkahnya meninggalkan Alvino yang masih berusaha menyamai langkahnya.
“Sya udah sarapan belom? Kantin yuk sarapan” ajak Alvino yang tak digubris oleh Keisya.
“Gua traktir deh” tawar Alvino sambil menaik turunkan alisnya tapi tetap saja tak mendapat respon dari Keisya.
“Gimana kalo kita makan baso?”
“Atau Siomay?”
“Atau mau gua beliin es krim?”tawar Alvino bertubi – tubi berharap Keisya mau pergi ke kantin dengannya.
Keisya yang merasa terusik langsung menghentikan langkahnya orang disebelahnya benar – benar menghancurkan moodnya sepagi ini.
“Bisa gak lo berhenti ngikutin gua dan berhenti ngomong, lo itu anak pemilik sekolah apa sales kantin sih nawar – nawarin makanan”
Alvino yang mendengar jawaban Keisya terkekeh lalu mendekatkan wajahnya ke arah Keisya, Keisya yang mendapatkan perlakuan dari Alvino merasa ada yang berdebar, secara refleks ia memundurkan wajahnya dari Alvino.
Ingin rasanya ia meneriaki Alvino agar menjauh darinya, tapi entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu, ketika wajah Alvino sudah sangat dekat Keisya memejamkan matanya. Tidak lama kemudian darah Keisya berdesir.
“Cari sampingan” bisik Alvino yang sukses membuat Keisya berdesir dan berdegup hebat.
Keisya yang mendengar Alvino membisikinya langsung membuka kembali matanya dan mengontrol kembali sikapnya berlaga ia tidak gugup.
Alvino yang memergoki Keisya terkekeh ringan lalu meledeknya.
“Ngapain mejamin mata gitu?” tanya Alvino meledek “owh gua tau pasti lo mikir gua bakal nyium lo kan?” sambung Alvino
“Najis! Gua refleks aja tadi lo ngedeketin kuping gua geli jadi mejamin mata nahan geli”
“Ah alesan aja lo, lagi juga kalo lo mau dicium gua bakal dengan ikhlas kasih kok, bilang aja”
“Gua yang gak ikhlas!” teriak Keisya ketus lalu meninggalkan Alvino di koridor sendirian
Alvino yang melihat punggung Keisya mulai menjauh pun hanya menggelengkan kepalanya heran dan terkekeh.
“Keisya!” panggil Alvino kencang karena Keisya sudah mulai menjauh.
Keisya yang mendengar Alvino memanggil menghentikan langkahnya dan mendengus, sebenarnya ingin sekali Keisya mengabaikan panggilan Alvino tapi entah mengapa kakinya malah berhenti.
“Sya dicariin Mama gua” teriak Alvino dari kejauhan.
Keisya yang mendengar pernyataan Alvino menautkan alisnya bingung, mengingat-ingat apakah ia membuat kesalahan sehingga Mamanya Alvino memanggilnya dan ingin mencabut beasiswanya. Tapi seharusnya jika memang beasiswanya akan dicabut harusnya kepala sekolah yang memanggilnya bukan ibunda Alvino.
“Ngapain?” balas Keisya tanpa menoleh.
“Mau ketemu calon mantu katanya” jawab Alvino
Keisya yang mendengar jawaban Alvino tak menggubris lalu melanjutkan lagi langkahnya. Demi tuhan ia sangat menyesal menanggapi panggilan Alvino tadi. Ia sudah sangat takut jika beasiswanya akan dicabut. Ia sudah sangat nyaman sekolah disini tapi ia juga tak akan sanggup jika harus membayar biaya sekolah ini yang bisa dibilang mahal.
“Untung calon mantu mama, kalo bukan udah gua ketapel dari sini” gumam Alvino sendirian.
18-05-2020
Don't be silent readers guys! I hope you're enjoyed with my story. Don't forget to leave like, comment and follow me. Cause i want to know you seriously. Happy Reading Everybody💕

KAMU SEDANG MEMBACA
ALVINO
Teen FictionAlvino Donatello Fernandez dengan sejuta auranya seperti magnet bagi para wanita. Entah mengapa semua wanita memujanya, seperti tidak ada pria lain lagi di dunia ini. Mereka rela bertengkar dengan temannya sendiri hanya karena Alvino. Padahal Alvino...