"Sangat disayangkan Rasyid, akhirnya kau memilih menyerah," ucapku. Rona wajahku biasa saja, dengan begitu aku bisa menyembunyikan kecewa.
"Aku tidak menyerah, Nai. Aku kalah," sahutnya. Demi, aku tersenyum sinis. Semesta tidak akan buta, menyaksikan ia yang mengangkat tangan tanda pengunduran diri dari arena.
"Bayangkan saja jika waktu itu Thomas Alfa Edison memilih menyerah. Malu? Kita belum melakukan percobaan sebanyak itu, dan mundur, mengaku kalah," sindirku. Pria di sampingku itu menghela nafas, "Rinai, aku Rasyid. Bukan Thomas Alfa Edison," bantahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kolaborasi Rasa
Short StoryPernah tau pentigraf? Aku belum pernah belajar secara formal tentang pentigraf, cerpen yang hanya memiliki tiga paragraf. Namun, sekalinya pernah nyoba buat, ketagihan untuk terus mencipta pentigraf-pentigraf baru. Ini adalah beberapa ke-halu-an ak...