"Nek, jangan sakit. Semua portal perbatasan jalan ditutup. Lebaran tahun ini, ponakan nenek enggak bisa datang berkunjung. Bahkan meski nenek sakit, sekalipun kemungkinan terburuk terjadi," ucapku. Bukan menghibur. Bukan juga menakut-nakuti. Lalu dering nada panggilan di gawaiku berbunyi. "Dinda, Bunda udah enggak ada," kata suara di seberang sebelum sempat ku menjawab. Panggilan dari kakak iparku.
"Apapun yang terjadi, kita berangkat!" Teriak Nenek saat berita itu sampai di telinganya. Kami begitu terpukul mendengarnya.
"Aku sehat. Kalian mau membunuhku perlahan. Kalian mau membodohi si tua ini dengan wabah itu. Melarangku bepergian, melarang siapapun menjengukku, bahkan membiarkanku menangisi keluargaku yang pergi lebih dulu," ucapnya sambil meraung pilu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kolaborasi Rasa
PovídkyPernah tau pentigraf? Aku belum pernah belajar secara formal tentang pentigraf, cerpen yang hanya memiliki tiga paragraf. Namun, sekalinya pernah nyoba buat, ketagihan untuk terus mencipta pentigraf-pentigraf baru. Ini adalah beberapa ke-halu-an ak...