Hampir di Bully

7 2 0
                                    

Mata dan Telinga, tidak cukup kuat untuk menjadi satu bukti konkrit.

_____

Bruk!

Bunyi buku-buku yang terjatuh, menjadi pusat seluruh isi kantin kampus siang itu melihat kearah satu orang dan empat orang lainnya yang saling berhadapan.

"Lu jalan lihatnya pake apaan sih? Gak lihat, gue yang segede ini didepan lu?" Ucap Irene dengan nada tak bersahabat.

"Ma-maaf kak, saya gak sengaja." Ucap gadis dihadapannya ketakutan.

"Lu anak baru? Yang dari Universitas di Busan, kan?" Tanya satu orang dari teman-teman Irene

Gadis yang terpojokkan itu hanya mengangguk. Dia cukup cemas jika nantinya Ia akan menjadi bully-an mereka.

"Lu masih anak baru, tapi lu udah kecentilan aja! Gue tegesin sama lu, jangan sok kecakepan deh, didepan Defri! Defri itu pacar gue." Hardik Irene

"Enggak, kak. Saya sama sekali gak godain kak, Raka. Dia mentor saya makanya sering bareng." Jawab Dara akhirnya.

Yup, namanya Sandara Ayu Mutiara. Gadis asal Riau ini memiliki kulit yang putih bersih sebagaimana umumnya gadis Indonesia. Meski tingginya hanya rata-rata gadis umumnya, Ia terlihat lebih imut. Usianya menginjak 20 tahun. Baru saja 2 Minggu yang lalu Ia pindah ke Universitas Medan Area karena Ayahnya yang dipindah tugaskan di Medan. Ia sudah digosipkan dekat dengan Kating Most Wanted yang tak lain adalah mentornya sendiri. Sebenarnya wajar, hanya saja beberapa orang malah salah paham karena kedekatan keduanya.

Arif Defri Maulana, tinggi 175 cm, wajah tampan, rahang tegas, mata tajam, dan juga pintar. Usianya 21 tahun, dan tahun ini adalah tahun terakhirnya menjadi mahasiswa, sebab saat ini Ia sedang menjalani pembuatan skripsi. Ia adalah salah satu Pengusaha Muda di Medan yang paling terkenal. Di umurnya yang ke 20, Ia sudah mendirikan usaha restoran dan cafe. Hingga setahun terakhir, Ia sudah memiliki beberapa anak cabang resto&cafe dipelosok Medan sekitar. Itu sebabnya, banyak gadis yang menyukainya karena ketampanan juga kekayaannya.

"Dasar cewek murahan. Yuk guys, cabut!" Ucap Irene kemudian. Setelahnya mereka langsung pergi dari hadapan Dara. Semua orang kembali pada aktifitas mereka masing-masing.

"Fiuh, gue kira bakalan berlanjut." Ucapnya lega.

Dara langsung mendudukkan dirinya disalah satu meja yang kosong. Meletakkan buku-bukunya dan mulai membacanya. Awalnya cukup hening, namun tak lama Ia menjadi tidak fokus. Bukan karena riuh suara pengunjung kantin. Tapi karena seseorang yang baru saja menghampirinya.

"Sudah sejauh mana?" Tanya orang itu.

"Masih tahap penyelesaian, kak." Jawab Dara ragu.

"Coba lihat!" Ucap pemuda itu.

"Tap-" belum sempat mengelak, kertas jawaban ditangannya diambil paksa oleh pemuda yang tak lain adalah Defri. Seseorang yang tadi sempat dipeributkan oleh kakak tingkatnya.

"Masih banyak salah. Kamu perbaiki lagi seperti yang saya ajarkan." Ucapnya melempar kertas itu diatas meja cukup kuat dihadapan Dara.

"Maaf kak." Ucap Dara.

Tanpa bicara lagi, Defri pergi begitu saja. Dara hanya menatapnya miris. Sebab ada rasa kecewa dalam dadanya.

🌹

Kali ini tenaganya cukup terkuras habis. Pasalnya, setelah selesai membuat laporan yang diminta dosennya tempo hari. Ternyata jadwal pengumpulan dimajukan menjadi hari ini. Padahal dalam kesepakatan, 2 hari ke depan adalah Datelinenya. Saat akan mengumpul di ketua jurusan, ternyata mereka sudah pergi lebih dulu tanpa menunggunya. Untung saja Dara membawa laporannya karena memang setiap ada waktu senggang, Ia pasti menyempatkan diri untuk mengerjakannya. Sekarang, Ia harus ergi ke gedung fakultas dilantai 3. Dan itu tidak ada lift sama sekali, Ia harus menaiki tangga untuk sampai.

Kating (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang