Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami mengais-ngais kebahagiaan dan memahami dunia dari rintik hujan dan terik mentari yang membakar sekujur tubuh Kami melewati restoran-restoran dan puas dengan sisa-sisa makanan serta aroma harum masakan yang tersebar di udara Itu lebih baik, kata ibuku yang sudah mati kelaparan sebab ada hari di mana kami harus berebutan makanan dengan anjing-anjing liar di tempat sampah
Kami ikut tersenyum saat anak-anak itu duduk di sana dengan orang tua yang melindungi dan menjaga mereka Perasaan bahagia untuk mereka yang melintas di hati kami adalah hiburan yang sangat berarti untuk mencairkan perasaan dingin yang menggerogoti sanubari kami Kami memang pernah berharap memiliki nasib dan kebahagiaan yang sama Tapi itu dulu, bertahun-tahun yang lalu Sebab ketika hari berlalu dan musim berganti musim Kami memang telah lupa cara untuk berharap
Kami sudah kebal dengan ekspresi muak dan terganggu saat tangan dekil kami terjulur Barangkali kami adalah anjing bulukan yang berwujud manusia Sebab ekspresi jijik itu tak pernah berbeda Kami tahu bahwa kami memang tak pernah diinginkan Bahkan di hari pertama kami dilahirkan ke dunia ini
Kami bergulat dalam ketidakpastian seperti daun-daun kering yang jatuh ke dalam selokan, terbawa arus dan terombang-ambing Namun, kami tak pernah lagi merasa heran Saat wajah-wajah itu menoleh kepada kami dari balik jendela mobil Adalah hal yang sangat memalukan berharap mereka mengulurkan tangan Sebab kami tahu, di hati mereka kami adalah simbol kesengsaraan yang mereka gunakan untuk menjadi pengingat bahwa mereka tidak bernasib sama Kami memang harus merayap dan tertatih-tatih di jalan agar makna itu tetap memberikan perasaan bangga di hati mereka
Kami telah belajar untuk tidak menyalahkan siapa-siapa Kesengsaraan ini telah menempa kami untuk menjadi puitis Sebab seringkali kami juga merasa seperti pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan Adakah pohon menyalahkan hujan yang jatuh menimpa dan membuat mereka menggigil kedinginan?
Di atas segalanya, Kami tak pernah lagi bertanya kapan hari kebebasan itu akan tiba Kami telah belajar untuk menunggu dengan cara terbaik Tanpa melibatkan perasaan yang dapat mengganggu pikiran Menunggu belas kasihan dari mata yang kebetulan melihat dan detik-detik saat mereka menyadari bahwa sesungguhnya, kami adalah bentuk lain dari sebuah tragedi dan kematian