"Huh..ok, keadaan Gani sekarang baik-baik saja", ucap Rony sambil menutup pintu kamar Gani.
"Untung saja ia tidak apa-apa, bagaimana denganmu Rony, apakah kau terluka?", tanya Sadam.
"Hanya sedikit lecet saja, tidak masalah...hmm...sepertinya para petugas belum menyusuri daerah sini, tapi kita harus berhati-hati, tak lama wajah kita akan terpampang di seluruh televisi, dan tersiar di berbagai radio, mereka akan menemukan kita cepat atau lambat", ucap Rony cemas.
"Baiklah, menurutku kita tidak usah melibatkan Gani kedalam masalah ini, Rony, apakah kau tahu siapa seseorang yang bisa menjaga Gani disini, orang tuanya, atau temannya yang lain?, kita tidak bisa terlalu lama disini", tanya Sadam.
"Sebentar, aku akan memeriksanya dahulu", ucap Rony.
Rony lalu menemukan nomor telepon dari kerabat Gani yang masih aktif dari sebuah buku telepon yang tergeletak di samping booth. Ia lalu menelpon nomor tersebut dan memberitahukan tentang keadaan Gani dan meminta kerabatnya tersebut untuk datang dan menjaganya.
Tak lama setelah itu, lampu-lampu yang berada di dalam rumah sakit padam semuanya, terlihat para Dokter, pasien, dan Suster panik, mereka lalu meminta teknisi untuk memeriksa dengan segera. Saat diperiksa, tenaga cadangan listrik ternyata tidak bisa digunakan, terlihat beberapa bagian mesinnya dirusak oleh seseorang, melihat keadaan tersebut, seluruh orang didalam rumah sakit menjadi semakin putus asa dan kebingungan, lantas beberapa operasi penting terpaksa berhenti dikarenakan pemadaman ini. Begitu pula Rony dan Sadam, mereka khawatir dengan keadaan ini, untung saja Gani tidak mengalami luka serius, jadi mereka masih bisa sedikit lega.
Beberapa menit setelah itu, terjadi keributan besar di lobi, seseorang telah menghancurkan pintu depan dan menerobos masuk, terlihat banyak sekali orang-orang berlarian dan mereka dibantai habis-habisan oleh sesuatu. Mata mereka menjulur keluar, sekujur badan mereka remuk, dan terlihat kepala mereka terpelintir parah, serta lidah yang bergeletakan di lantai.
"Ayo kita pergi dari sini Rony, kita terpaksa harus membawa Gani dari sini, tempat ini sepertinya menjadi tidak aman", ucap Sadam.
"Baiklah, ayo bantu aku membawa Gani ke kursi roda", ucap Rony.
Mereka bertiga lalu pergi dari tempat tersebut lewat jalur belakang, mereka bahkan tidak sempat untuk mencari tahu dulu tentang apa yang menyebabkan pembantaian tersebut, rasa takut dan cemas telah menelan mereka terlebih dahulu sebelum menyadari kejahatan gelap yang akan menghantui mereka.
"Kita ambil mobil ini, sekarang naiklah", ucap Rony sambil menerobos masuk kedalam mobil ambulan.
Mereka bertiga lalu pergi dari tempat tersebut. Lari dari hal yang mereka tak pahami.
Sementara itu di fasilitas.
"Baiklah, sekarang laporkan ini kepusat, kita perlu bantuan untuk kasus ini, dan periksa jumlah korban serta data tahanan yang belum ditangkap", ucap Petugas Yama.
"Baik, pak!", ucap Petugas Timmy.
Setelah itu dilain hal, Sadam, Rony, dan Gani sekarang melanjutkan perjalanan mereka ke tempat yang mereka tidak rencanakan sebelumnya, mereka benar-benar hilang arah untuk pergi, kebingungan mencari tempat perlindungan. Beberapa jam telah terlewati, dan akhirnya Gani telah siuman, sepertinya keadaannya telah membaik daripada sebelumnya.
Tak lama terjadi sebuah gempa bumi, jalanan, pepohonan, dan semuanya bergetar hebat karenanya, meluluh lantahkan segalanya. Perjalanan mereka bertiga terpaksa berhenti, jalanan yang mereka lalui telah terhalang oleh tumpukan pepohonan dan tiang listrik, sekarang mereka harus mencari alternatif jalan lain untuk pergi.
"Sadam, apakah kau bisa mendengar suara itu, terdengar dari belakang kita", ucap Rony panik.
"Haaaaaaaa!...aaaaaaaaaaaa!...eeeeeeeeeeeeeeeee!....haaaaaa!!!"
"Hah!...suara apa itu, kencang sekali, sepertinya akan ada yang mendekat", ucap Sadam mengiyakan.
"Aku benci suara itu Rony", ucap Gani.
"Mobil?, Truk?, apa mungkin bisa?, bukankah jalanan yang kita lewati sebelumnya harusnya sudah tertutup karena dampak gempa ini", tanya Sadam.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini", ucap Gani.
"Baiklah, kita terpaksa harus melewati hutan, dan entah juga, suara itu membuatku merasa tak nyaman", ucap Rony sambil mendorong kursi roda Gani.
Mereka bertiga sekali lagi melanjutkan perjalanan mereka, dikawasan perbatasan tersebut mereka berusaha untuk pergi mencari tempat, yang setidaknya bisa membuatkan mereka kopi, makan ataupun tidur. Terlihat lelah terpampang di wajah mereka, dan suara aneh itu masih terdengar, beberapa menit kemudian, terdengar lagi suara aneh berupa langkah kaki, suara itu terdengar sangat dekat namun sosok siapa yang membuat suara itu masih belum diketahui. Suasana berubah menjadi mencekam, entah apa yang mereka hadapi ini membuat mereka ketakutan, "Apakah para petugas telah menemukan kita?", "Apakah siapapun yang membuat suara itu akan membunuhku", ucap mereka dalam hati. Suara teriakan itu semakin keras terdengar, dan suara langkah kaki itu perlahan menghilang bersama hembusan angin di kegelapan malam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hell-ish | Short Story
General Fiction"Sedikit gila, sedikit lebih baik" Cerita ini tentang petualangan idiosinkratik dari sudut pandang yang bernama Sadam yang menelusuri berbagai misteri yang ada, dan ia mencoba untuk mencari tahu kebenarannya.