05. We young

409 37 5
                                        

Happy reading
.
.
.

"Ananda Na... "

"Jaemin..."

"Na Jaemin!"

Anak yang di panggil namanya itu terkejut saat mendengar teriakan dari sang guru Dancer yang memanggilnya.

"Iya Kang ssaem"

"Melamun? Saya tidak suka jika ada murid yang tidak mendengarkan penjelasan dari saya" ucap sang guru cantik dengan perawakan tinggi dan sexy. Kang Seulgi.

"M-maaf..." ucap Jaemin tergagap saat guru Kang menatapnya tajam dan menusuk.

Jaemin tidak bisa memfokuskan diri pada semua pelajaran hari ini, termasuk ulangannya beberapa jam yang lalu.

Semua pikirannya kini tertuju pada sosok Haechan yang pasti sedang berbaring lemah di rumah.

Jujur saja, Jaemin sangat takut jika terjadi sesuatu pada Haechan, karena bagaimana pun dia sudah menganggap Haechan adalah saudaranya sendiri.

"Kang ssaem" panggil Jaemin sambil mengacungkan tangannya tinggi, membuat semua orang menoleh padanya. "Saya ingin izin pergi ke kamar belakang sebentar"

"Ya, silahkan" Setelah mendengar jawaban itu, Jaemin segera berlari dari gedung sekolahnya (gedung 3) menuju ke arah gedung 5, dimana dia tinggal bersama Haechan.

Dia khawatir setengah mati pada sahabat karibnya itu...

___________________________________________

"Haechan! Lee Haechan! Wake up!" teriak Mark sambil menepuk kedua pipi Haechan, berharap anak laki-laki itu segera bangun dan sadar.

Setelah mengangkat kepala Haechan yang tenggelam di dalam air bak mandi, Mark langsung memberikan CPR dan memompa detakan jantung Haechan. Namun anak itu masih tak sadarkan diri, detak jantungnya terlalu lemah.

Dengan sangat terpaksa Mark melakukan Nafas buatan dari mulutnya ke mulut Haechan (Seperti ciuman) dan itu berhasil membuat Haechan memuntahkan air yang dia minum sebelumnya.

"Haechan! Wake up!" dengan suara bergetar, Mark terus berusaha menyadarkan Haechan. Sungguh tubuh Haechan sangat lemas.

Haechan membuka matanya perlahan, tatapan sayu dengan bibir pucat sangat terlihat dari wajah Haechan saat ini. "M-Mark?"

Mendengar suara lirih itu, Mark segera mengangkat tubuh bongsor Haechan menuju ke kamar anak itu dan membaringkannya pelan.

Tubuh Haechan sangat lemas, bahkan hanya untuk menarik selimut saja tidak kuat.

Mark sangat panik ketika melihat Haechan yang masih terus menggigil kedinginan, padahal dia sudah memberikan 3 lapis selimut dari lemari bertuliskan "Lee Haechan"

"Haechan, gue angkat lo ke ruang UKS aja yah, tubuh lo dingin banget..." ucap Mark khawatir, sementara itu Haechan hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai penolakan.

"Gue gak mau, gue benci sama obat dan dokter.." ucap Haechan dengan suara lemahnya.

Lama keduanya terdiam, entah inisiatif dari mana, Mark membuka seluruh pakaiannya dan langsung memeluk tubuh Haechan dan mulai membuka baju basahnya yang belum Mark ganti.

"Yak! Mark, Mau ngapain lo?!" tanya Haechan panik dengan mata sayu-nya saat senyadari Mark sudah membuka bajunya.

"Diam! Gue gak bakal ngelakuin 'itu' sama lo, Gue juga masih waras yah buat nggak ngelakuinnya sama orang sakit kayak lo! "

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 23, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love Hate RelationshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang