"Setinggi apapun kamu, kamu akan tetap rendah di mata mereka."
•••🍩🍩🍩
Tes
Tes
TesTetes demi tetes mengalir di pipi seorang gadis. Menangis dalam diam adalah hal yang sudah tak asing lagi. Meringkuk dalam selimut. Meratapi sesuatu hal yang tidak ia lakukan.
Lampu kamar dimatikan sehingga ia menangis pun tidak ada yang tahu.
Tok tok tok
"Vio? Apa sudah tidur? Boleh mamah masuk?."Tanya mamah Vio, Rafeeya Nugroho.
Hening...
Tanda sang pemilik sengaja menidurkan diri.
Ceklek
Tap
Tap
TapLangkah kian maju hingga ke sebuah gundukan selimut.
"Vio, mamah tau kamu sedih mamah juga tau kamu nangis. Tapi mamah mohon kamu jangan marah sama kakak kamu ya?. Dia cuma lagi marah aja. Yaudah mamah cuman pengen bilang itu. Good night sweetheart." Katanya sambil melangkah keluar.
Ceklek
Suara pintu tertutup membuat gadis bernama Vio menyibakkan selimutnya."Mengapa harus aku? Kenapa harus aku yang kena marah kakak?! Kalau emang nggak sengaja setidaknya minta maaf sama aku. Tapi ini nggak." Katanya lirih.
🍩🍩🍩
Tringgggg.....Alarm berbunyi menandakan sudah pukul 06.00 pagi membuat sang empu menggeliat dan segera mandi.
06.20
Keluarga Nugroho sudah berkumpul di meja makan bersiap siap untuk menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Semua anggota diam menunggu seorang gadis bernama Viola Ratu Nugroho untuk sarapan bersama.
Tap
Tap
Tap"Pagi semua." Katanya dengan senyuman. Senyuman palsu.
Hening
Tak ada satupun anggota keluarga yang membalas sapaan Viola. Sedih? Iya, Viola sedih sapaannya tidak dianggap. Malah mereka sudah langsung makan ketika Viola turun dari tangga.
"Mah, pah, kak, aku berangkat ke sekolah dulu ya? Assalamualaikum". Ucap Viola ketika sampai meja makan. Berpamitan pada keluarganya sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Tunggu Vio!." Cegah sang papah, Aditya Nugroho.
"Ya pah?."
"Kamu ke sekolah bareng saja sama abang. Lagi pula kan searah."
"Bol---."
"Nggak boleh! Berangkat sendiri gausah manja! Jangan mentang-mentang anak bungsu terus apa apa harus di antar. Lo udah gede udah tau arah ke sekolah. Jadi, berangkat sendiri!." Alex Himawan Nugroho, kakak kedua Viola membantah semua ucapan papah dengan penuh penekanan.
"Kakak apa apaan sih?! Ga boleh gitu dong sama adiknya. Emang kenapa sih ga boleh bareng sama kakak?."
"Bela aja terus! Emang disini tuh aku anak tiri sedangkan dia! Dia anak emas yang selalu dibangga banggakan." Bentak Awan.
"BERANI KAMU SEKARANG BEN----."
"STOP!!! CUKUP aku cape kalian berantem terus karena aku!. Aku berangkat sendiri aja!." Final Vio.
🍩🍩🍩
06.45
Vio sudah sampai di gerbang sekolah dengan bermodalkan sepedanya. Buruk semuanya buruk.Melangkah dengan pasti menuju kelas. Bisikan bisikan murid murid terdengar. Membuat Vio gerah mendengarnya.
"Omaygattt kenapa sih dia sekolah disini? Bikin kumel sekolahan aja!."
"Najis! Songong banget sih!? Cantik juga nggak!."
"Sok dingin, sok cantik, sok jutek, sok pintar najis!."
Hujatan demi hujatan diterima Vio dipagi hari. Semua bermula ketika suatu kejadian merubah segala kehidupan Vio. Awalnya semua menyanjung Vio. Tapi ketika 'Boom' meledak semua berubah, tidak ada lagi yang menyanjung dan mengidolakan nya.
🍩🍩🍩

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm (not) okay
Novela Juvenil••• Banyak tekanan terhadap suatu kehidupan. Mau itu tekanan ringan atau berat. Mau tidak mau kita harus menghadapinya. Terkadang hidup tidak terus terusan bergantung pada orang lain. Cibiran-cibiran orang yang selalu mengatakan bahwa,"kamu ga bisa...