Kaira, seorang perempuan yang saat ini sedang benar-benar berusaha untuk terus istiqamah dalam hijrahnya. Itu bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan banyak perjuangan dalam menjalankannya.
Adit, sahabat Kaira selama hampir 8 tahun, tiba-tiba menga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bismillahirrahmaanirrahiim
-Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-
------
"Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Ini semua terjadi karena kehendak Allah Sang Maha Pencipta. Bahkan tidak ada nafas yang keluar tanpa seizinNya. Jika ingin memiliki kehidupan dunia dan akhirat yang beruntung, maka dekatilah Rabbmu tanpa ada rasa ragu sedikitpun."
Kaira's POV
Sejak 2 bulan lalu, aku sudah 4 kali mendaftarkan diri di perusahaan yang berbeda-beda, tapi selalu ditolak. Bahkan untuk lolos di tahap 1 saja sudah sangat susah. Tapi, Alhamdulillah di tempat aku menginjakkan kaki sekarang ini, aku diberi kesempatan untuk mengikuti tahap selanjutnya. Semoga saja pekerjaan ini memang ditakdirkan untukku.
Tak bisa dipungkiri, saat menerima penolakan atas segala hal yang benar-benar aku impikan, aku selalu kecewa. Apapun penolakan itu. Tapi rasa kecewa itu harus segera kutelan, karena aku sadar, Allah tau yang terbaik untukku. Hal yang sangat ingin kumiliki dan yang kuyakini terbaik untukku, tapi belum tentu terbaik menurut Allah. Biar kuserahkan semuanya kepada Allah.
Ku terus berjalan ke arah lift yang sudah ditunjuk resepsionis tadi. Ku kembali melihat berkas-berkas yang kubawa dan terus berjalan. Padahal, sebelum berangkat sudah kuperiksa, dan semuanya sudah lengkap. Tapi aku selalu saja memiliki kebiasaan untuk 'memastikan kembali'.
Saat kusibuk sengan kertas-kertas yang berada di dalam map, tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku dari belakang.
"Astaghfirullah!" teriakku kaget. Map yang kupegang jatuh dan kertas di dalamnya keluar berserakan. Aku langsung jongkok dan memungut kertas-kertas itu. Pintu lift yang tadinya terbukapun sudah tertutup.
"Maaf-maaf mbak, saya benar-benar tidak sengaja," ucap orang tersebut dengan tergesa-gesa, lalu dia langsung terus berlari tanpa menoleh ke arahku lagi.
Saat ku mengambil kertas-kertas yang berserakan, terlihat ada seseorang yang juga ikut membantuku mengambil lembaran kertas yang jatuh agak sedikit jauh dariku.
"Maaf mbak, biar saya bantu. Saya minta maaf juga, tadi itu teman saya yang tidak sengaja menabrak mbak," ujar laki-laki itu sambil ikut berjongkok lalu juga mengambil lembaran yang masih berada di lantai.
"Iya-iya tidak apa, Mas. Lagi pula saya baik-baik saja. Terima kasih banyak sudah membantu, Mas," jawabku.
Suaranya sangatlah tidak asing di telingaku. Tunggu. Tunggu dulu. Tidak asing?! Sepertinya aku kenal suara itu. Seperti suara milik...
Spontan kudongakkan kepalaku menghadapnya,
"Astaghfirullah, kamu..." ucapku sedikit teriak dan terpaku saat ku mendongakkan kepalaku ke arahnya.