Isekai

8 2 0
                                    

Karena bagi liya ,karma sudah melewati semuanya bersama tangis dan tawa,kebahagian dan kesedihan terutama dalam hal penderitaan karena sama-sama sudah tidak memiliki keluarga, keluarga yang sudah sama-sama meninggal.

Hanya kau yang mengerti keadaan ku karma.batin liya.

.

.

.

.

Aku 

.........................................................................................................................................

Seorang gadis berjalan terseok-seok sembari membawa ranselnya. Genangan air di pelupuk matanya meluap, membanjiri pipi ranumnya. Kakinya membawa gadis itu memasuki toilet wanita. Diletakkannya ransel abu usang miliknya di atas wastafel, dibukanya keran sampai mencapai maksimal, air mengalir deras. Memudarkan noda putih yang melekat di sekitar ranselnya. 

Gadis itu menengadahkan kepalanya, menatap pantulan wajahnya di hadapan cermin. Mata sembab dengan wajah merah padam dan rambut berantakan, persis seperti orang patah hati. Dibasuhnya wajah itu dengan air. Benda dingin yang bisa menghapus tangisnya. Namun, tidak dengan luka di hatinya.

*

Allesya tidak bisa menangkap penjelasan guru dengan baik, ia malah mencorat-coret sketchbook-nya. Kania, teman sebangkunya pun diam-diam mencoba krim wajah yang dibelinya di Singapura bulan lalu. Hingga tanpa sengaja, lengan Allesya menyenggol kosmetik Kania, alhasil isinya meleber di meja. 

"Allesya!" Kania yang tak bisa menahan marahnya menggebrak meja. Membuat buku yang menutupi cermin kecil dan krim wajahnya terjatuh. Bersamaan dengan itu, Bu Sara berbalik. Menatap lurus ke arah Kania. 

"Kania ... ke sekolah mau dandan atau belajar?" Bu Sara meletakkan kapurnya, menghampiri Kania. 

Kania menunduk, diam-diam menginjak sepatu Allesya, membuatnya meringis. "Gara-gara lo,"  lirihnya. 

Bu Sara mengambil kosmetik Kania, menaruhnya di meja guru. "Ini saya tahan dulu, ya. Pulang sekolah boleh diambil."

Tatapan setajam elang diedarkan Kania pada Allesya. "Lo bisa gak sih sehari gak bikin masalah?"

Allesya merapatkan kedua tangannya, meminta maaf. Kania mendengus kesal. Allesya pikir, teman sebangkunya itu akan memaafkannya. Namun, nyatanya tidak semudah itu. 

"Eh, mau ke mana lo?" Narasy mencekal lengan Allesya, menyuruhnya kembali duduk. 

"Mau ke kantin, Nar, 'kan udah istirahat," jawab Allesya. 

"Bentar, gue mau nanya dulu. Miz, tutup pintunya!" seru Narasy pada Mizuki. 

Narasy beralih menatap Allesya. "Lo ... numpahin krim-nya Kania?" 

Allesya menggigit bibir, merasa hal buruk akan terjadi padanya. "I-iya, tapi aku udaj minta maaf."

"Kan, lo maafin gak?" Narasy bertanya. 

"Ya enggaklah. Krim ini mahal tau," jawab Kania. 

Narasy mengangkat dagunya ke arah Allesya. "Girls, tahan dia."  Mizuki dan Kania mencekal kedua lengan Allesya. Sementara Narasy mengambil ransel milik Allesya, membuka resletingnya. Tersenyum miring, diangkatnya botol minum Allisya tinggi-tinggi. "Ini apa ya, isinya?" Narasy melempar tas Allesya 

ke lantai

"Narasy, jangan dibuka," cegah Allesya. Namun, Narasy tak menghiraukannya. Dibukanya botol minum itu hingga tutupnya terjatuh. Melihat isinya, Narasy tertawa. "Hah? Apaan nih, baunya kayak kacang. Eh, lupa, ortu lo 'kan jualan susu kedele." 

Selamat Tinggal Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang