"Hei, tolong ambilkan bolanya!" teriak seorang laki-laki berambut curly dari pinggir lapangan. Mata hijau emeraldnya yang kontras dengan rambut gelap curly-nya mengarah pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon besar yang terletak tak jauh dari lapangan tersebut. Kedua tangannya berada di pinggang dan ia terlihat tak sabar.
Gadis itu perlahan-lahan menurunkan buku yang sedang ditekuninya dan menoleh ke arah si laki-laki. Ia mengikuti pandangan lelaki tersebut dan melihat bola sepak yang berjalan jauh dari kakinya. Mata gadis itu pun kemudian kembali pada si laki-laki berambut curly dan teman-temannya yang menunggu dirinya untuk menendang bola itu kembali ke lapangan. Keragu-raguan langsung menyapu dirinya saat ia menyadari siapa laki-laki itu beserta teman-temannya.
Harry Styles bersama teman-temannya yang populer.
"HEI, KENAPA LAMA SEKALI? CEPATLAH!" teriak salah seorang teman Harry yang berambut pirang.
Mendengar teriakan laki-laki itu, si gadis sontak berdiri dari tanah kemudian dengan malu-malu menghampiri bola tersebut. Buku yang sedari tadi ia baca terpeluk aman di dada. Ia tidak pernah jago dalam olahraga. Ia pun tidak yakin apakah tendangannya akan mencapai lapangan.
"Wow, lihat siapa itu! Itu si Lee!" seru seorang laki-laki yang lain dari lapangan sambil menunjuk ke arah Anastasia.
"Wah wah," si gadis dapat mendengar Harry tertawa. "Ayo kita lihat apa dia bisa menendang bola." Katanya keras-keras kemudian serta merta mendapat sorakan dari teman-temannya. "Hei, Lee, cepat tendang bolanya kesini!"
Si gadis bisa mendengar cemohan-cemohan yang mulai bermunculan dari orang-orang di lapangan. Sambil menggigit bibir, dia pun mengambil ancang-ancang kemudian menendang bola tersebut.
Hanya saja kakinya tidak mengenai sasaran.
Kehilangan keseimbangan, si gadis pun jatuh terjengkang. "Ouu!" serunya.
Tawa meledak dari grup laki-laki yang sedari tadi mengamati si gadis Lee. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak, "Ya ampun, bodohnya." Beberapa yang lain mencemooh, "Lihat, bahkan menendang bola saja dia tidak bisa. Dasar idiot!"
Si gadis Lee hanya terdiam menelan cemohan demi cemohan yang dilemparkan padanya. Secepat mungkin ia mengumpulkan buku, kotak makan siang, serta tasnya yang tergeletak di dekat batang pohon, kemudian melesat menuju gedung SMA tempat kelasnya yang berikutnya berada.
Jika saja ia menoleh sekali lagi kearah grup laki-laki yang masih tertawa itu, ia akan melihat seorang laki-laki berambut hitam yang tidak ikut tertawa bersama teman-temannya. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju tempat dimana si gadis Lee itu tadi duduk untuk mengambil bola sepak yang tadi tertendang keluar oleh Harry.
Hanya saja, ia tidak cuma menemukan bola sepak saja di bawah pohon itu.
Sebuah amplop berwarna putih tergeletak tak jauh dari tempat ia mengambil si bola sepak.
Akal sehat menyuruhnya untuk mengabaikan surat itu, namun keingintahuan bersikeras menyuruhnya untuk melakukan sebaliknya.
Pada akhirnya, si laki-laki berambut hitam itu pun menyerah pada keingintahuannya.
***
Toilet yang biasanya merupakan sarang para gadis Buckingham High School untuk bertukar gosip atau membetulkan make-up pada jam makan siang tersebut secara ajaib kosong melompong.
Anastasia Lee pun tidak bisa lebih bersyukur lagi. Gadis itu cepat-cepat menghampiri wastafel untuk mencuci tangan. Ia melirik sedikit ke arah kaca dan melihat seorang gadis dengan mata berwarna hijau pucat atau bisa dibilang azure menatap kembali padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAWLESS || Z.M
FanfictionAnastasia mengepalkan kedua tangannya, dan memantapkan hatinya. Dengan kekuatan yang ia tidak tahu dia miliki, ia menggenggam lengan baju Harry lalu dengan kasar menarik pria itu dan mendekatkan mulutnya ke telinganya. "Aku menerima tantanganmu, Sty...
