Kejadian langka sepanjang abad ke-20. Seorang Chandra berdiri di depan poli jantung dengan jas dokter yang masih tertempel di tubuh tegapnya. Beberapa perawat memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya. Ada apa kiranya seorang dokter kandungan itu berdiri di dekat kursi tunggu pasien.
Tubuhnya lantas menegak saat Meilin keluar dari ruangan sembari menggerakkan leher kakunya ke kanan dan kiri dua kali. "Mei!" panggilnya pelan.
Meilin menoleh. Wajahnya terlihat kebingungan menangkap sosok manusia berkulit cerah itu di depan ruangannya. "Ada apa?" tanyanya mendekati Chandra.
"Mastiin aja kalau kamu udah baikan."
Suara tawa Meilin mengudara seperkian detik. "Aku gampang move on, gak kayak kamu!" Ops! Meilin langsung membekap mulutnya. "Maaf-maaf!"
Bukannya merasa tersindir. Chandra malah tertawa nyaring. Sorot matanya tak meninggalkan manik coklat milik Meilin. "Aku gak gampang baper! Gak kayak kamu!" Seringai Chandra terpoles begitu natural setelah puas membalas kalimat lawan bicaranya.
"Kita manusia. Wajar punya kelemahan. Apalagi soal hati!" ujar Meilin tanpa beban. Melihat cara bicara Meilin. Sepertinya gadis itu memang telah benar-benar sembuh dari kerisauannya.
"Semalam makan coklat berapa banyak?" tanya Chandra. Ia sangat tahu sahabat cantiknya itu akan menghabiskan banyak makanan berbahan dasar coklat untuk mengembalikan mood-nya yang hilang.
"Mau beliin tanya-tanya segala!?"
"Mau aja. Siapa tahu coklat dari Julian Chandra bikin kamu jauh dari unmood?!"
"Kalau makin gak mood?"
"Aku usahain buat kembaliin mood kamu apa pun caranya!" tutur Chandra seolah sedang mengucap janji. Kalau boleh percaya diri. Chandra merasa yakin jika mood Meilin pasti sering berubah setelah memiliki rasa padanya. Apalagi saat Chandra masih menjalin kasih dengan Nahla dulu, Meilin lah tempatnya berkeluh kesah saat ia sedang ada masalah dengan Nahla. Sekarang ia ingin menebus segala ketidakpekaannya selama bertahun-tahun pada gadis pemilik senyum manis itu.
"Kalau mood-ku stabilnya setelah menikah, gimana?"
"Ya ayo nikah!" Lantunnya enteng.
Sama halnya dengan Candra. Meilin juga susah mengartikan maksud kata yang diucap lawan bicara. Ia benar-benar tidak bisa melihat jika Chandra telah mengetahui perasaannya.
"Haha gak-gak aku bercanda!" kekeh Meilin dengan tawa menipu.
Jadi gitu caramu ngasih kode? Tiba-tiba bilang bercanda! Batin Chandra masih menatap paras bening di depannya. "Mulai sekarang, bercandamu bakal aku anggap serius."
***
Bima dan Alga sudah menunggu kedua sahabatnya di kantin seperti biasa. Semalam mereka mendapat serangan pertanyaan dari Chandra tentang perasaan Meilin padanya. Sekedar memastikan dan meminta bantuan bagaimana cara membalas perasaan Meilin selama ini. Iya, benar. Pria itu memutuskan untuk mendekati dan menargetkan sahabatnya sebagai istrinya nanti.
"Lo sama Julian semalem chatting-an sampek jam berapa? Gila tuh bocah, gue sampek pegel balesin pertanyaannya."
Alga masih diam memikirkan jawaban Bima. "Abis hatinya ke buka, kenapa makin banyak tingkah ya. Agak nyesel gue ngasih tahu lebih awal," gerutu Bima. Semalam Chandra terus-terusan bertanya kenapa bisa Meilin suka dengannya, Alga dan Bima pun menjawab dan memberi alasan sepaham mereka, tapi lagi-lagi Chandra melontarkan pertanyaan yang sama, seolah ia tidak percaya dengan fakta yang ada.
"Dia kesenangan gitu gak sih? Makanya sampek gak percaya?" pikir Alga.
"Gue kira juga begitu!" balas Bima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emergency Mom ✓
RomanceJulian Chandra Zahrawi berubah status menjadi seorang Ayah karena membawa bayi dari tempatnya bekerja. Pria berprofesi dokter itu mengira jika orang tuanya mau menjadikan sang jabang bayi sebagai adiknya. Nyatanya, kedua orang tua Chandra tidak mau...
