#06 : Hamba Allah

997 66 28
                                        

Minggu kedua setelah Naresha hadir di kehidupan Chandra. Pria berprofesi dokter itu selalu disibukkan dengan popok basah dan selimut yang musti dicuci. Jangan lupakan botol-botol yang menumpuk dan juga harus dibersihkan. Apalagi saat Naresha menangis dan pekerjaannya belum selesai, Chandra pasti kewalahan. Dengan sedikit teriakan ia mencoba berkata, "Sayang, Ayah di sini, jangan nangis teruuus!" Chandra mengatakannya sembari mencuci botol di dapur.

Eryn pergi masuk ke kamar Chandra untuk mengatasi kehebohan yang terjadi. Tangisan kencang Naresha begitu memekakan telinga. Hingga warna wajah mungil itu berubah merah karena terlalu lama menangis. "Duh, Esha, cup cup cup!" Eryn mengambil Naresha dan mengayunkan tubuhnya agar sang bayi itu sedikit tenang.

"Huft, makasih, Mi!" hela Chandra kembali ke kamar dengan tangan yang masih basah.

"Esha belum mandi?" tanya Eryn.

Chandra menggeleng. "Masih aku rebusin air."

"Kamu ada acara hari ini?" tanya Eryn berhasil membuat Naresha tenang di pelukannya.

Chandra diam. Sebenarnya ia ingin sekali berkumpul bersama teman-temannya. Namun melihat Naresha yang tidak bisa ditinggal ia jadi ragu untuk ikut bergabung.

"Ada janji sama temen-temen sih, Mi, tapi—"

"Udah, kamu berangkat sana. Biar Esha sama Mami," potong Eryn. Ia paham jika anak sematawayangnya itu sebenarnya masih ingin bebas bermain bersama teman-teman sebaya.

"Tapi, Mami gak ke bakery shop?" tanya Chandra.

"Enggak, Mami 'kan ada orang kepercayaan, jadi gak harus sering-sering ke toko," jawab Eryn meletakkan kembali Naresha ke dalam box bayinya.

"Sama Bima?" tanya Eryn tangannya bergerak menyiapkan baju ganti untuk Naresha.

"Sama Alga Meilin juga." Tangan Chandra juga ikut memilih popok kain yang akan digunakan Naresha setelah mandi.

"Masih berteman sama Meilin?" tanya Eryn membuat alis Chandra menukik heran.

"Masih lah, Mi. Emang kapan musuhan?!" tanggapnya sambil tertawa.

"Maksudnya, bisa gitu berteman sama cewek cantik tanpa jatuh cinta?" Chandra menambah volume tawanya mendengar pemikiran sang ibu.

"Jujur, Mi. Chandra sempet kepedean pas dia perhatian gitu. Waktu aku perhatiin, ternyata dia juga baik sama Bima dan Alga. Bahkan sama temen-temen yang kerja di RS," cerita Chandra. "Ya, emang dasarnya Meilin cewek baik yang perhatian sama temen-temen gitu," sambungnya.

"Cantik lho Meilin itu. Sama-sama pekerja medis juga. Kamu gak pengen ngajak serius? Kalian 'kan udah saling kenal, jadi enak, tinggal nikahin doang gak perlu PDKT." Benar juga, bahkan Chandra pernah mengantar Meilin ke Surabaya bersama kedua sahabatnya sekaligus untuk berlibur.

"Gak kepikiran, Mi."

"Kenapa? Karena Meilin gak berjilbab?"

Chandra tidak menjawab. "Wanita berjilbab itu secara penampilan memang baik. Tapi belum tentu yang gak berjilbab itu buruk."

Serius mengobrol tiba-tiba suara Azzam dari dapur menginterupsi. "Ini siapa yang masak air!" Chandra reflek lari keluar kamar sebelum sang ayah memberinya omelan.

***

Meilin menatap fokus beberapa pasang pakaian santai yang ia keluarkan dari lemari. Hari ini ia ingin tampil dengan sentuhan berbeda. Sempat ia berpikir mengenakan jilbab pasmina yang ia punya khusus untuk pertemuan hari ini. Namun ia menggeleng. Tidak, ia tidak boleh mencari pujian hanya karena seorang pria. Lagipula ia merasa tidak enak hati, mendekati agamanya sendiri karena sedang menjadi budak cinta sesosok tubuh dengan ruh di dalamnya.

Emergency Mom ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang