#13 : Kantong Restu

885 68 14
                                        

Minggu berlalu begitu cepat. Naresha sudah berusia satu bulan dan hubungan Chandra dengan Meilin tak berubah dari kata sahabat. Pria itu memang menargetkan Meilin sebagai istrinya. Namun ia masih mencari waktu yang tepat untuk menunjukkan  keseriusannya.

Alga dan Bima tentu sudah bosan memperingatkan Chandra agar segera mengajak Meilin menikah. Akan tetapi ia tidak bergeming. Padahal Azri, dokter seniornya itu makin terlihat lengket dengan Meilin. Ya meskipun sering bertemu karena urusan pekerjaan tapi tak ayal ia terbakar api cemburu melihat Meilin bercanda dengan Azri saat sedang bercengkrama.

"Chand. Aku udah bilang Ning Kiyya, besok gak dateng ke pesantren," cerita Meilin. Sore ini setelah pulang dari rumah sakit, Chandra mengajak Meilin pulang ke rumah untuk bertemu Naresha. Selama masa penjajakan, Chandra hampir setiap hari membawa Meilin ke rumah untuk membantu mengasuh Naresha. Semacam menumbuhkan kecocokan sejak dini.

"Kenapa?" tanya Chandra menemani Meilin yang sedang memangku Naresha.

"Dokter Azri ngajak ke acara reuni alumni spesialis jantung."

Alis Chandra bertaut tidak setuju. Sepertinya, apa pun alasan Azri mengajak Meilin pergi ia tidak akan pernah ikhlas. Entah itu acara tidak penting atau pertemuan resmi sekali pun.

"Demi acara itu doang kamu libur ngaji?" Meilin menatap Chandra kemudian mengangguk membenarkan.

"Kamu lupa target khatam kamu berapa bulan?" Niat Chandra nanti, ia ingin memberi kejutan Meilin sebuah cincin nikah jika gadis itu berhasil mengkhatamkan tiga puluh jus. Kata lainnya, memberi reward atas usaha Meilin selama ini.

"Kata Ning Kiyya gak masalah kok. Lagian aku di kos juga ngaji, Chand," ujar Meilin apa adanya. Ia bahkan tidak bisa menangkap raut tidak terima Chandra yang ditujukan padanya. Wajahnya kembali berpaling menatap bayi mungil yang kini berusaha menggapai wajahnya.

"Aku ikut reuni deh!"

"Ngapain? Kamu 'kan spesialis kandungan!" timpal Meilin tersenyum geli. "Udah lah, Chand. Jangan curiga terus-terusan sama Dokter Azri. Orangnya beneran baik kok. Aku bisa lihat dari cara dia memperlakukan aku sebagai junior gitu."

Chandra mendengkus. Di perhatiin orang lain bisa paham, tapi kenapa perhatianku ke kamu gak ada yang nyantol! Gerutunya dalam hati. Chandra baru menyadari satu hal, ternyata jengkel juga jika kepeduliannya tidak direspon dengan baik.

Meskipun begitu ia bisa merasakan jika hingga detik ini perasaan Meilin tidak berubah padanya. Ia menebak, mungkin karena Meilin terlalu lama berharap padanya hingga membuat gadis itu tidak menduga jika perhatiannya beberapa Minggu ini berbeda arti dari bulan lalu.

"Ya aku anter doang deh. Biar kamu gak semobil sama dia!" Alih-alih berpikir jika Chandra cemburu, Meilin hanya mengira rasa khawatir Chandra ini muncul karena status persahabatan mereka saja.

"Kamu akhir-akhir ini menawarkan diri jadi tukang Grab aku. Jangan-jangan diakhir nanti minta upah!" tuduh Meilin matanya menyipit sambil melirik ke arah Chandra.

"Gak sih, cuma jadi pengasuh Esha aja."

Meilin tidak merespon, gadis itu sibuk mengajak Naresha bercanda dan berhasil membuat bayi itu tersenyum merespon. "Ya Alloh. Manis banget anak kamu ini!" Sebagai seorang yang tidak suka anak kecil ia sangat bangga pada diri sendiri saat usahanya direspon oleh sang bayi.

Chandra juga mulai melihat kedekatan Meilin dengan Naresha. Kata Bima, bayi itu lebih mudah merespon suara wanita ketimbang suara laki-laki. Dan untuk usia satu bulan, bayi akan mulai mengenal suara, rupa, dan bau ibunya. Untuk itu, sebisa mungkin Chandra mengajak Meilin datang ke rumah. Tujuan akhirnya, agar Naresha bisa mengenal Meilin secara emosional dan merasa kehilangan jika mereka tidak bertemu.

Emergency Mom ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang