AUTHOR POV
"Dia selalu membawaku dalam masalahnya." ucap devan dalam hati setelah Bu Rina mengatakan bahwa Devan akan menjadi pembimbing konseling untuk Adelia.
Devan dan Adelia pun keluar dari Ruang BK setelah perbincangaan dengan Bu Rina selesai.
"Ikut ke ruangan saya sekarang!" Ujar devan seraya berjalan mendahului adelia, sedangkan adelia mengikuti devan dari belakang.
"Ruang laknat ini lagi." Gumam adel setelah sampai di ruangan devan. Adel mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan, masih sama seperti terakhir kali dia dari ruangan ini kemarin.
Devan mendengar apa yang adel katakan meskipun hanya gumaman saja, dan devan tidak menghiraukannya.
"Mau berapa lama lagi kamu berdiri disitu?" Tanya devan sambil mendaratkan bokongnya pada kursi.
"Yaelah, berdiri doang jadi masalah." Gumam adel lalu berjalan kearah devan, kemudian mendaratkan bokongnya pada kursi yang tepat berhadapan dengan devan.
Dengan angkuhnya adel melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap devan. Devan yang melihatnya menggelengkan kepala heran melihat sikap muridnya yang tidak memiliki etika itu.
Setelah beberapa saat mereka saling diam, devan membuka pembicaraan.
"Adelia Friska Pranadipa. Tidak masuk ranking sepuluh besar, selalu terlambat datang ke sekolah, selalu bolos dalam pelajaran matematika dan tertidur setiap jam pelajaran. Semua pelajaran!" Ucap Devan membaca data-data yang diberikan oleh Bu Rina terkait adel dengan menatap adel tak percaya.
"Kenapa bapak natap saya gitu?" Tanya adel tak mengerti.
Devan sepertinya tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan adel barusan.
"Selain menjadi pembimbing konseling, saya juga akan menjadi guru private ANDA. Adelia Friska Pranadip." Ucap Devan menekankan kata 'ANDA'.
"What The--???" Adel berteriak tak percaya, dia sempat berdiri tapi dia terduduk lagi sambil mengusap wajahnya tak percaya.
"Tidak ada penolakan!" Tegas depan lalu beranjak dari tempat duduknya, menunggalkan adel yang masih terpaku dengan ucapan Devan.
"Pak, Please! Saya gak mau bapak jadi guru private saya, bapak jadi pembimbing konseling saja sudah bikin saya tertekan nih pak. Apalagi kalau bapak jadi guru private saya. Saya lebih baik diceramahin Bu Rina pak daripada harus diajarin Matematika sama bapak. Saya gak suka. 100% gak suka pak!!" Ucap Adel sambil merengek penuh penolakan.
Adel tepat dibelakang tubuh devan, tapi devan masih tak bergeming mendengar penolakan dari adel.
Sedetik kemudian, Devan membalikan tubuhnya berhadapan dengan Adel. Devan tiba-tiba mendekat ke arah adel, terus mendekat, sampai adel tersudut ke tembok dan tidak ada celah yang tersisa untuk adel keluar.
Devan malah menempelkan tangan nya pada tembok di belakang adel. Setelahnya devan mendekatkan wajahnya pada wajah adel. Adel sampai mencium aroma maskulin dari devan, Adel pun merasa gugup dan memejamkan matanya sangat erat. Takut-takut devan melakukan adegan-adegan seperti dalam Drama Korea yang sering dia tonton.
"Anak zaman sekarang pikiran nya mesum-mesum ya!" Mendengar ucapan yang devan lontarkan, adel membuka matanya setelah ia rasa wajah devan sudah tidak lagi didepannya.
Adel merasa malu dengan ucapan devan barusan, dan hanya bisa merutuki dirinya sendiri.
Setelah tak melihat devan di sekitarnya, adel pun langsung cepat-cepat keluar dari Ruang laknat itu dan tidak ingin lagi masuk untuk kesekian-kalinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY TEACHER IS MY HUSBAND
Teen Fiction"Yak.... bisakah kau membantuku untuk bangkit? Mengulurkan tanganmu misalnya? Aku bahkan tidak memintamu untuk merangkul pinggangku! Wah benar-benar sekali kau ini." Aku yang merasa kesal sedikit menaikkan intonasiku. Dia menoleh kearahku, tanpa ber...
